6 MUTIARA GURU SIT ZAMAN NOW




Oleh : Siti Nurhasanah, S.Pd.I
      I. Pendahuluan
“Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya karena mereka hidup bukan di zamanmu.” (Ali Bin Abi Thalib)
            Quotes dari Ali Bin Abi Thalib ra diatas merupakan reminder bagi kita semua sebagai guru, pendidik dan orangtua. Ketika kita mendidik anak-anak kita saat ini hendaknya sesuai dengan kondisi ‘zaman now’, ‘kekinian’, ‘up to date’, bukan seperti zaman kita dulu ketika kita dididik oleh orangtua kita. Mengapa? Jelas berbeda 20 tahun yang lalu dengan kondisi saat ini. Semuanya pasti berubah, tidak ada yang stagnan. Tidak ada yang sama. Beda zaman, tentu akan berbeda tantangannya. Jelas akan berbeda pula strategi mendidik anak. Misalnya teknologi informasi yang berubah setiap hari, bahkan bisa jadi setiap detik ada penemuan baru yang terjadi di belahan dunia yang lain. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa teknologi telah mengubah hidup kita. Tidak hanya separuh hidup kita yang berubah, tapi hampir 100 persen kehidupan kita berubah karena teknologi yang semakin berkembang pesat.

Setidaknya ada 7 hal sehari-hari yang berubah seiring perkembangan teknologi. Pertama, mengumpulkan foto di album foto tidak pernah dilakukan lagi sejak kemunculan instagram. Kedua, hobi menulis buku diary luntur setelah muncul blogger. Ketiga, kirim-mengirim surat mendadak lenyap setelah ada email. Keempat, cari alamat dengan yellowpages tidak perlu lagi semenjak ada foursquare. Kelima, membuat  atau sekedar membaca mading jelas tidak sempat lagi sejak ada path. Keenam, kirim pesan singkat via pager jelas tidak zaman lagi, karena sudah ada twitter. Ketujuh, nobar alias nonton bareng juga tidak sempat lagi, karena lebih banyak nonton sendiri-sendiri di youtube.

            Untuk kebutuhan mendidik di era ‘kids zaman now’ tidak bisa lagi setengah-setengah. Seorang guru yang berperan sangat penting sebagai ujung tombak pendidikan di sekolah juga perlu melakukan metamorfosa menjadi guru ‘zaman now’. Bagaimana caranya? Ada 6 mutiara yang perlu dikumpulkan dan dijadikan pedoman untuk menjadi guru ‘zaman now’. Khususnya bagi guru Sekolah Islam Terpadu (SIT). ‘ZAmAn NOW’ disini merupakan singkatan dari 6 mutiara tersebut, yaitu Zikrullah sebagai amal utama, Amalkan sekecil apapun ilmu mendidik yang dimiliki, Andalkan teknologi dan informasi terbaru, Nasionalisme siswa senantiasa ditumbuhkan, Optimalkan potensi terbaik setiap siswa, Wasilah itu bernama Sekolah Islam Terpadu (SIT). Mari kita selami bersama di kedalaman lautan ilmu Allah yang maha luas. Mari kita kumpulkan satu persatu mutiara yang indah ini dan kita amalkan bersama. Berikut penjelasannya.

II. Pembahasan
 Mutiara pertama : Zikrullah sebagai amal utama
Bagaimana agar Allah swt selalu dalam ingatan kita? Salah satu caranya adalah dengan memahami keutamaan dan manfaat dari zikrullah itu sendiri. Berikut dalilnya.
“Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.(42)- Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.(43)- Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. (Al Ahzab 41-43)
Dalam hadist Qudsi yang diriwayatkan oleh  Syaikhani dan Turmidzi dari Abu Huraira ra Allah mengatakan :
“ Aku sesuai dengan dugaan hamba-Ku kepada-Ku. Jika ia ingat kepadaKu didalam hatinya, Akupun ingat pula kepadanya didalam hatiKu. Dan jika ia ingat kepadaKu dilingkungan khalayak ramai,  niscaya Akupun ingat kepadanya didalam lingkungan khalayak ramai yang lebih baik. Dan jika ia mendekat padaKu sejengkal,Akupun mendekat pula padanya sehasta. Jika ia mendekat padaKu sehasta, niscaya Aku mendekat padanya sedepa. Dan jika dia datang padaKu dengan berjalan, maka Aku mendatanginya sambil berlari “
Manfaat nyata dari zikrullah:
            Selalu mengingat Allah swt dalam setiap kondisi ternyata memiliki manfaat yang nyata, diantaranya sebagai berikut :
1.      Mendapat ketenangan hati dan bebas dari perasaan jengkel,kecewa, sedih, duka, dendam dan stress berkepanjangan  ( Ar Ra’d : 28).
2.      Dikeluarkan Allah dari kegelapan   (hidup yang penuh kesukaran, kesempitan, kepanikan,  kekalutan , kehinaaan  dan serba kekurangan) kepada cahaya yang terang benderang (hidup bahagia, nyaman, aman, mulia, sejahtera dan berkecukupan). (Al Ahzab: 43).
3.      Terpelihara dan terhindar dari melakukan perbuatan keji dan mungkar (Al Ankabut : 45).
4.      Terpelihara dari kelicikan dari tipu daya syetan yang menyesatkan (An Nahl : 99).
5.      Selalu mendapat jalan keluar dari berbagai kesulitan yang datang menghadang dan mendapat rezeki dari tempat yang tidak pernah diduga, serta selalu dicukupkan semua kebutuhan hidupnya ( At Thalaq : 2-3).
Aplikasi zikrullah dalam setiap pembelajaran juga dapat kita lakukan. Allah swt memberikan ilmu kepada manusia melalui ayat qouliyah dan kauniyah-Nya. Sebagai contoh ketika anak-anak belajar tentang daur air. Ajak peserta didik membuka Al-Quran dan ayat yang terkait dengan daur air, yaitu Qs. An-Naba : 13,  “Dan Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari).” Dilanjutkan dengan membuka  firman Allah swt di Qs.Al-Hijr : 22, “Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuhan, awan) dan Kami turunkan hujan dari langit.” Dalil berikutnya adalah Qs. An-Nur : 43 “Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian) nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung… maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya.  Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan.”  Dengan belajar melalui ayat Qouliyah dan Kauniyah-Nya, kita mengajak anak didik kita untuk berzikir bersama. Mengingat akan kebesaran Allah swt yang telah menciptakan alam semesta beserta seluruh isinya.
Masih banyak lagi manfaat mengingat Allah swt yang dapat kita rasakan setiap hari. Dengan berbagai keutamaan dan manfaat nyata zikrullah, sudah sewajarnya kita sebagai seorang guru melaksanakan zikrullah ini setiap saat. Dapat dilakukan sebagai aplikasi zikrullah saat dalam pembelajaran, saat memeriksa pekerjaan / ulangan harian siswa, atau saat istirahat bersama anak-anak. Rasakanlah bahwa Allah swt itu amatlah dekat. Apalagi saat kita beribadah. Sholat, tilawah al-quran, dzikir al-matsurat, mengucap kalimat-kalimat thoyyibah, sambil kita mendoakan anak-anak kita agar selalu diberi kemudahan dalam menuntut ilmu. Niscaya energi positif itu akan mengalir kepada anak didik kita. Dengan izin Allah, semua urusan kita akan dimudahkan oleh Allah swt.

 Mutiara Kedua : Amalkan sekecil apapun ilmu mendidik yang kita miliki
            Allah swt berfirman, “Dan sesungguhnya kalau mereka mengamalkan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka)” (Qs. An Nisaa : 66)
Berkata Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhumaa : “Barangsiapa yang  berusaha mengamalkan ilmu yang telah diketahuinya, maka Allah akan menunjukkan mereka apa yang belum mereka ketahui.”
Dari Sahl bin Mu’adz bin Anas dari ayahnya bahwa Rasulullah saw. Bersabda, “Barangsiapa menganjurkan ilmu maka baginya pahala orang yang mengamalkan ilmunya tanpa mengurangi sedikitpun amal orang yang mengamalkannya.” (HR Ibnu Majah; hadits hasan).
Salah satu ilmu mendidik yang kita bisa ambil dan lakukan adalah dari Dr. Abdullah Nashih Ulwan dalam bukunya “Tarbiyatul Aulad: Pendidikan Anak Dalam Islam”. Beliau menjelaskan bahwa metode pendidikan anak yang efektif terfokus pada lima hal, yaitu :
1)      Pendidikan dengan teladan
Keteladanan dalam pendidikan adalah metode yang paling sukses untuk mempersiapkan akhlak seorang anak, dan membentuk jiwa serta rasa sosialnya. Sebab, seorang pendidik adalah contoh terbaik dalam pandangan anak, dan akan menjadi panutan baginya. Disadari atau tidak, sang anak didik akan mengikuti tingkah laku pendidiknya. Bahkan akan terpatri kata-kata, tindakan, rasa, dan nilainya di dalam jiwa dan perasaannya, baik ia tahu maupun tidak tahu.
2)      Pendidikan dengan pembiasaan
Rasulullah saw bersabda, “Setiap anak lahir dalam keadaan fitrah, maka kedua orangtuanya yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani atau Majusi.” (HR.Bukhari)
Maksudnya adalah fitrah tauhid dan iman kepada Allah swt. Dari sini pembiasaan, pengajaran, dan pendidikan tampak memainkan peranannya dalam pertumbuhan anak, untuk membesarkannya di atas tauhid yang murni, akhlak yang mulia, keutamaan jiwa, dan etika Islam yang benar.
3)      Pendidikan dengan nasihat yang bijak
Nasihat dan petuah memberikan pengaruh besar untuk membuka hati anak terhadap hakikat sesuatu, mendorongnya menuju hal-hal yang positif, mengisinya dengan akhlak mulia, dan menyadarkannya akan prinsip-prinsip Islam.
4)      Pendidikan dengan memberi perhatian dan pemantauan
Artinya memberi perhatian penuh dan memantau akidah dan akhlak anak, memantau kesiapan mental dan rasa sosialnya, dan rutin memperhatikan kesehatan tubuh dan kemajuan belajarnya.
5)      Pendidikan dengan hukuman yang layak
Seorang pendidik tidak akan kehabisan cara mulia dalam memberikan shock therapy (hukuman) bagi anaknya. Di sini akan tampak kebijaksanaan seorang pendidik dalam menggunakan dan memilih cara yang terbaik.
Dari pemaparan di atas, ilmu mendidik adalah salah satu syarat utama yang harus dimiliki seorang guru. Bagi guru yang berasal dari jurusan keguruan, hal ini telah didapatkan di bangku kuliah. Tidak menutup kemungkinan guru mendapatkan ilmu mendidik dari berbagai seminar pendidikan, pelatihan-pelatihan, membaca buku, searching website tentang kependidikan, dan masih banyak lagi cara lainnya. Intinya adalah ketika kita telah memahami ilmu mendidik anak sekecil apapun, lakukanlah. Praktekkan dalam keseharian kita mendidik anak-anak di sekolah. Apa jadinya jika kita memiliki ilmu tapi tidak di praktekkan? Maka perlahan tapi pasti, akan menguaplah ilmu tersebut, hilang tanpa bekas, dan tidak bermanfaat sama sekali. Jadi, jangan biarkan anda merugi yang bertubi-tubi. Amalkan sekecil apapun ilmu mendidik yang kita miliki.

Mutiara Ketiga : Andalkan teknologi dan informasi terbaru
            Saat ini adalah era digital. Apa artinya? Era digital adalah suatu masa ketika sebagian besar atau seluruh masyarakatnya menggunakan sistem digital, teknologi komputer, dan internet dalam kehidupannya sehari-hari. Sistem digital ini telah terbukti mutakhir dari sistem yang dikembangkan sebelumnya, yaitu sistem analog.
Lalu, bagaimana mendidik anak di era digital seperti saat ini? Nyi Mas Diane Wulansari (Dee Motivational) dalam bukunya Didiklah Anak Sesuai Zamannya: Mengoptimalkan Potensi Anak di Era Digital” menjelaskan bahwa mendidik anak di era digital merupakan suatu proses pendampingan dan dialog dalam membangun ikatan emosional (bonding) dengan memberi latihan yang mencakup ajaran, tuntunan, dan pengetahuan mengenai akhlak dan moral anak didik, dengan menggunakan sistem digital untuk kehidupan sehari-hari dan dilakukan sejak usia dini. Salah satu yang sedang marak saat ini adalah media sosial (medsos).
“Social media is best understood as a group of new kinds of online media” (Antony;2014)
Media sosial paling baik dipahami sebagai sekelompok jenis baru media secara online. Media sosial secara umum adalah sebuah wadah (situs) yang menyediakan fasilitas bagi pengguna internet untuk bisa menjalin komunikasi sehari-hari atau menjalin relasi bisnis dengan berbagai kalangan. Media sosial memiliki karakteristik : partisipasi, terbuka, diskusi, percakapan, komunitas, terkoneksi. Jenis-jenis media sosial banyak sekali. Namun pada intinya hanya satu, yaitu menjalin komunikasi secara online. Beberapa media sosial yang paling sering digunakan netizen (pengguna internet) yaitu facebook, twitter, instagram, plus google, social chat application (BBM, WA, telegram, line, wechat, path, dll).
Seorang guru ‘zaman now’ dituntut selalu up to date tentang semua teknologi dan informasi terbaru. Berbagai informasi dengan sangat mudah kita dapatkan dari internet. Seorang guru tidak boleh gaptek. Berusahalah seoptimal mungkin untuk dapat memahami hal-hal terkait dunia teknologi dan informasi terbaru. Bertanya dan berbagilah dengan teman-teman sejawat. Jangan sampai anak didik kita lebih tahu dari kita, dan kita tidak bisa masuk ke dunia mereka. Misalnya tentang media sosial yang telah dibahas sebelumnya. Sebagai guru ‘zaman now’, minimal kita memiliki akun pada berbagai aplikasi tersebut. Dengan demikian, kita dapat ‘bersahabat’ dengan anak-anak didik kita, baik di dalam kelas maupun di dunia maya. Ladang amal juga bagi kita seorang guru ketika kita melihat dan memantau perkembangan peserta didik kita melalui akun sosmed mereka.
Satu hal yang harus didahulukan adalah  rasa ‘saling percaya’. Bangun kedekatan yang positif dengan anak-anak di sekolah. Ketika anak-anak didik kita sudah merasa percaya pada kita sebagai gurunya, maka mereka tidak akan sungkan-sungkan berbagi informasi melalui akun sosmednya. Dan itulah jalan  kita untuk memantau sekaligus  ‘berdakwah’ pada mereka. Misalnya ketika seorang anak didik kita memposting kegiatan yang dilakukan selama liburan. Kita bisa memberikan minimal tanda ‘like’ sebagai rasa suka kita terhadap postingan anak tersebut. Apalagi jika kita bisa memberikan komentar yang memberi semangat, memotivasi, serta mendukung setiap kegiatan anak didik, maka dapat dipastikan mereka akan semakin dekat dengan kita dan semakin mudah kita untuk memasukkan ‘nilai-nilai’ positif demi perkembangan keberhasilan prestasi mereka. Yang terpenting lagi adalah tidak berlebihan dan mengerti batasan-batasan dalam menggunakannya. Jadi, jangan ragu mengandalkan teknologi dan informasi terbaru sebagai salah satu cara kita ‘berdakwah’, khususnya di dunia pendidikan.
Mutiara Keempat : Nasionalisme siswa senantiasa ditumbuhkan
            Dewasa ini isu-isu tentang nasionalisme semakin marak di masyarakat. Sekolah islam pun tak luput dari tudingan bahwa turut melahirkan kaum ekstremisme, radikalisme, dan tidak nasionalis. Sama sekali tidak. Lihatlah lebih dalam ke sekolah-sekolah islam terpadu yang tersebar di seluruh penjuru nusantara. Didalamnya terdapat nilai-nilai nasionalisme yang kental melalui pembelajaran tematik, Pendidikan Kewarganegaraan, IPS, kegiatan pramuka dan lain sebagainya.
Untuk menumbuhkan jiwa nasionalisme pada generasi muda bisa dilakukan dengan berbagai cara. Metode yang digunakan bisa berupa hal yang menarik minat generasi muda untuk melakukannya sehingga tidak muncul perasaan yang mudah bosan dan menjenuhkan. Berikut 6 cara yang dapat dilakukan :
1)   Refleksi sejarah
Salah satu cara menumbuhkan jiwa nasionalisme pada generasi muda adalah melakukan nafak tilas sejarah baik itu dengan melakukan perjalanan ke tempat-tempat bersejarah yang menjadi simbol perjuangan para pejuang  bangsa. Selain itu bisa juga dengan mempelajari sejarah melalui buku-buku yang menggambarkan perjuangan bangsa Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan atau bisa juga melalui pemutaran film dokumenter yang memperlihatkan betapa gigihnya pejuang bangsa dalam mewujudkan kemerdekaan.
2)   Melalui upacara bendera
Sebagian siswa sejatinya belum memahami makna dari pelaksanaan upacara bendera yang dilakukan setiap hari senin. Melalui kegiatan upacara bendera sebaiknya memberikan pemahaman tentang tujuan dilakukannya upacara bendera sehingga jiwa nasionalisme siswa semakin besar.
Pada upacara bendera ini bisa dinyanyikan lagu Indonesia Raya dengan 3 stanza. Hal ini sangat penting untuk memahami seutuhnya lagu Indonesia raya dari lirik 3 stanza tersebut dan menambah rasa nasionalisme pada siswa.
3)   Memperkenalkan berbagai keragaman budaya bangsa
Dengan memperkenalkan berbagai keragaman budaya bangsa serta kekayaan sumber daya alam bangsa membuat para generasi muda akan merasa beruntung telah dilahirkan di Indonesia sehingga muncul jiwa nasionalisme untuk menjaga keutuhan dan persatuan tanah air Indonesia.
4)   Melalui pembelajaran pendidikan kewarganegaraan / IPS
Pendidikan kewarganegaraan mengajarkan anak tentang bagaimana menjadi warga negara yang baik, taat terhadap aturan negara dan juga sebagai wadah utnuk menumbuhkan semangat patriotisme.
5)   Melalui pengenalan tokoh sejarah.
Tokoh sejarah juga bisa menjadi media untuk menumbuhkan jiwa nasionalisme pada generasi muda. Misalnya dengan menceritakan bagaimana perjuangan tokoh tersebut dalam melawan penjajah dan mempertahankan keutuhan NKRI dari ancaman asing.
6)   Memakai dan mencintai produk hasil produksi dalam negeri
Salah satu hal yang juga bisa menumbuhkan jiwa nasionalisme generasi muda adalah dengan menganjurkan untuk selalu menggunakan produk dalam  negeri, sehingga muncul penghargaan tersendiri untuk tanah airnya.
Dari pemaparan diatas, sangat memungkinkan jika kita sebagai guru menjalankan keenam cara tersebut dalam pembelajaran di sekolah. Anak-anak akan merasa tertarik dan tidak mudah bosan dalam mempelajari nilai-nilai nasionalisme. Buatlah strategi pembelajaran yang menarik, media yang beragam, dan ajak anak-anak untuk terlibat langsung dalam aksi pembelajaran kita. Dengan cara ini, nasionalisme akan terus tumbuh dalam jiwa anak-anak kita. Dan suatu hari nanti, kita sangat berharap akan muncul pahlawan-pahlawan baru dari hasil pendidikan ‘kids zaman now’ yang siap sedia membela negara dan bangsa, Indonesia tercinta. 

Mutiara Kelima : Optimalkan potensi terbaik setiap siswa
            Setiap siswa adalah unik. Setiap siswa memiliki potensi dari keunikannya masing-masing. Sebagai seorang guru, tidak seharusnya kita melabel anak didik dengan kata-kata negatif ‘nakal’, ‘bodoh’, ‘tidak bisa diatur’, dan lain sebagainya. Setiap peserta didik memiliki gaya belajar masing-masing. Dalam satu kelas, tidak mungkin seluruh peserta didik memiliki gaya belajar yang sama. Pasti beragam. Pemilik gaya belajar visual akan lebih suka jika belajar sambil meihat/menonton sesuatu sebagai bukti konkretnya. Anak-anak auditori akan sangat mudah menangkap/menghafal pelajaran dari apa yang ia dengar. Pemilik gaya belajar kinestetik, tentunya tidak dapat bertahan duduk lama di kursinya karena dia selalu ingin bergerak memenuhi kebutuhan gaya belajarnya.
Dari ketiga macam gaya belajar yang kita pahami bersama tersebut, menuntut guru agar senantiasa mempersiapkan pembelajaran yang dapat mengakomodir ketiga gaya belajar anak-anak didik kita. Salah satu strategi yang bisa dilakukan adalah dengan active learning.
            Hal-hal penting apa saja yang harus guru perhatikan untuk dapat mengembangkan strategi pembelajaran aktif (active learning)? Asep sapa’at dalam bukunya “Stop menjadi Guru!” memaparkan ada 4 kunci utama dalam active learning. Pertama, pembelajaran harus berpusat pada peserta didik ( student centerd learning). Kedua, pembelajaran menggunakan beragam metode dan media belajar. Ketiga, memberdayakan semua indera dan potensi peserta didik. Keempat, pembelajaran harus dikaitkan dengan lingkungan dan pengalaman yang terjadi di sekitar peserta didik (kontekstual).
            Practise makes perfect, maka mulailah lakukan strategi pembelajaran aktif di ruang kelas kita masing-masing. Optimalkan potensi terbaik setiap siswa. Tidak perlu berkecil hati jika mereka sulit belajar matematika atau IPA. Mereka bisa menjadi seorang pianis, penulis buku, pengarang lagu edukatif, atlet olahraga, atau apapun yang mereka sukai dan sesuai dengan bakatnya. Satu hal yang penting adalah arahkan anak-anak didik kita untuk menjadi ‘orang yang bermanfaat’ bagi orang lain, apapun cita-cita mereka. Fokuskan pada potensi yang dimiliki siswa dan dapat diasah secara berkelanjutan. Doa dan ikhtiar terbaik kita sebagai guru terus dijalankan. Berharap suatu saat nanti mereka menjadi ahli di bidang masing-masing yang mereka sukai dan bermanfaat bagi umat. Insya Allah. 
Mutiara Keenam : Wasilah itu bernama SIT (Sekolah Islam Terpadu)
            Allah swt berfirman, “Hai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah kepada-Nya, dan berjuanglah di jalan Allah, agar kamu mencapai falah (sukses) (Qs. Al-Maidah : 35).
            “Orang-orang yang engkau panggil (selain Allah), mereka sendiri membutuhkan wasilah kepada Tuhannya” (Qs. Bani Israil : 57).
Wasilah itu diambil dari perkataan wasl, yang artinya berusaha mendekati sesuatu. Jadi, wasilah dalam ayat tersebut diatas, itu artinya alat untuk mendekat kepada Tuhan. Alat ini, yaitu wasilah sejati, adalah amal perbuatan kita sendiri, yang hanya amal perbuatan itulah yang dihargai Allah. Orang-orang lurus dan baik, yang pergaulannya, percontohannya, kata-katanya, dapat menggerakkan kita ke arah perbuatan-perbuatan yang baik, itu dapat disebut sebagai wasilah yang tidak langsung, karena mereka hanya menggerakkan hati kita ke arah perbuatan yang baik. Adapun wasilah sejati adalah yang langsung mendekatkan kita kepada Allah  yaitu dengan amal perbuatan kita sendiri.
Sekolah Islam Terpadu hadir sebagai wasilah dan wadah bagi pendidikan yang berkualitas. Berikut ini adalah dasar pemikirannya.
a) Konsep Dasar SIT
Konsep dasar Sekolah Islam Terpadu (SIT), seperti dikutip dari Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) yaitu sekolah yang mengimplementasikan konsep pendidikan Islam berlandaskan AlQur’an dan As Sunnah. Konsep operasional SIT merupakan akumulasi dari proses pembudayaan, pewarisan dan pengembangan ajaran agama Islam, budaya dan peradaban Islam dari generasi ke generasi.
Istilah “Terpadu” dalam SIT dimaksudkan sebagai penguat (tauhid) dari Islam itu sendiri. Maksudnya adalah, Islam yang utuh menyeluruh, dalam segala aspek kehidupan. Bukan hanya berupa pemahaman formal dalam lingkungan sekolah tapi mencontohkannya dalam aspek kehidupan sehari-hari.
Dalam aplikasinya, Sekolah Islam Terpadu menerapkan pendekatan penyelenggaraan dengan memadukan pendidikan umum dan pendidikan agama menjadi satu jalinan kurikulum. Dengan pendekatan ini, semua mata pelajaran dan semua kegiatan sekolah tidak lepas dari bingkai ajaran dan pesan nilai Islam.
Pelajaran umum, seperti matematika, IPA,IPS, bahasa, jasmani/kesehatan, keterampilan dibingkai dengan pijakan, pedoman dan panduan Islam. Sementara dalam pelajaran agama, kurikulum diperkaya dengan pendekatan konteks kekinian dan kemanfaatan, dan kemaslahatan. 

b) Makna ‘TERPADU’ pada SIT

Sekolah Islam Terpadu pada hakekatnya adalah sekolah yang mengimplementasikan konsep pendidikan Islam berlandaskan Al-Qur’an dan As Sunnah.
Dalam aplikasinya sekolah Islam Terpadu diartikan sebagai sekolah yang menerapkan pendekatan penyelenggaraan dengan memadukan pendidikan umum dan pendidikan agama menjadi suatu jalinan kurikulum. Sekolah islam terpadu juga menekankan keterpaduan dalam metode pembelajaran sehingga dapat mengoptimalkan ranah kognitif, afektif dan konatif atau psikomotorik. Sekolah Islam Terpadu juga memadukan pendidikan aqliyah, ruhiyah dan jasadiyah. Dalam penyelenggaraannya memadukan keterlibatan dan partisipasi aktif lingkungan belajar yaitu sekolah, rumah dan masyarakat.
Dengan sejumlah pengertian di atas dapatlah ditarik suatu pengertian umum yang komprehensif bahwa sekolah Islam Terpadu adalah sekolah Islam yang diselenggarakan dengan memadukan secara integrative nilai dan ajaran Islam dalam bangunan kurikulum dengan pendekatan pembelajaran yang efektif dan pelibatan yang optimal dan koperatif antara guru dan orang tua, serta masyarakat untuk membina karakter dan kompetisi murid.
c) Kurikulum SIT
Pilihan Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) kini semakin diminati. Hal tersebut karena nilai-nilai agama Islam jadi pertimbangan utama.
Salah satu hal yang paling membuat bingung para orangtua adalah ketika memilih sekolah untuk buah hati tercinta. Tentunya anda ingin si kecil bersekolah di tempat yang berkualitas, dengan pengajar yang baik, kurikulum mumpuni serta nilai agama Islam yang kental. Pilihan Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) kini semakin diminati.
Hal tersebut karena nilai-nilai agama Islam jadi pertimbangan utama dalam hal pendidikan anak. Pilihan sekolah SDIT juga mulai banyak tersebar di berbagai wilayah. Untuk lebih mengenal konsep kurikulum SDIT, ketahui detailnya.
d) Implementasi
Pelajaran yang diberikan sangat lengkap. Berupa pendidikan dasar umum dan pendidikan agama. Pelajarannya antara lain Pendidikan Agama Islam, Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, Seni Budaya, dan Penjaskes. Sementara pelajaran lainnya yang berkaitan dengan keislaman masuk dalam kategori Muatan Lokal yang terdiri dari Akidah Akhlak, Qur’an Hadis, Fiqih, Tareqh, Bahasa Arab, Bahasa Inggris, Tahfidz, Tahsin, dan komputer.
Dengan cukup padatnya pelajaran dan mengajarkan keterpaduan nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari, maka konsep SDIT  memang full day school. Anak-anak berada di sekolah dalam waktu yang panjang hingga sore hari.
Mereka tak hanya belajar dalam kelas, tapi juga melaksanakan sholat wajib dan sunnah secara berjamaah. Saat belajar mengaji, ada guru khusus yang mengajarkannya. Bukan sekedar membaca tapi benar-benar diajarkan secara detail cara membaca yang benar sesuai tajwid dan tahsinnya.
Anak-anak juga dilatih untuk menghafal Al-Quran. Nantinya ada buku laporan khusus soal seberapa banyak hafalan anak, dan menjadi nilai penting dalam sisi akademik.
Orangtua pun harus terlibat aktif dalam menyiapkan anak, membimbing serta mendampingi anak dalam menjalani tiap aktifitas sekolah. Hal ini karena sistem sekolah terpadu artinya sekolah dan orangtua juga bekerja sama dan terpadu dalam hal mendidik anak.
Saat ini sudah menjamur sekolah islam terpadu. Kurang lebih 1500 SIT telah tersebar di seluruh penjuru nusantara.  Inilah wadah strategis yang saat ini banyak digemari masyarakat dalam mendidik anak-anak adalah adanya Sekolah Islam Terpadu (SIT). Mengapa harus SIT? Seperti pemaparan sebelumnya, karena keterpaduan antara nuansa islam, nasionalisme juga ditanamkan, penanaman karakter, hingga life skill secara optimal diajarkan di Sekolah Islam Terpadu (SIT). Inilah wasilah kita sebagai seorang guru SIT. Wasilah kita untuk dapat berbuat lebih, beramal sholih tiada henti , melakukan yang terbaik, mencetak generasi penerus bangsa yang dibutuhkan ‘zaman now’.
Saya sangat bahagia menjadi guru SIT. Beruntunglah anda yang menjadi salah satu guru SIT. Berbahagialah, karena ladang amal terbentang luas untuk membentuk peserta didik yang beriman dan bertakwa, berkualitas secara akademis, berakhlak mulia, bangga dan cinta terhadap tanah airnya, serta mampu bersaing di dunia luar. Itulah SIT. Keberadaanya sangat diharapkan. Manfaatnya bagi masyarakat sekitar sangat dirasakan. Inilah wasilah yang telah tersedia untuk kita sebagai guru SIT. Wasilah untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah swt. Wasilah untuk memberikan amal sholih yang terbaik yang kita bisa. Wasilah sejati adalah yang langsung mendekatkan kita kepada Allah  dengan amal perbuatan kita sendiri. Dan wasilah itu bernama SIT (Sekolah Islam Terpadu).
III. Penutup
                        Mendidik ‘kids zaman now’ harus diselaraskan dengan keberadaan ‘guru zaman now’. Ada enam mutiara yang bisa kita cari di kedalaman lautan ilmu Allah yang maha luas. Temukan dan kumpulkan keenam mutiara tersebut agar kita dapat menjadi seorang guru ‘zaman now’. Keenam mutiara tersebut adalah : Zikrullah sebagai amalan utama, Amalkan sekecil apapun ilmu mendidik yang kita miliki, Andalkan teknologi dan informasi terbaru, Nasionalisme siswa senantiasa ditumbuhkan, Optimalkan potensi terbaik siswa, dan Wasilah itu bernama SIT (Sekolah Islam Terpadu).   
Tetaplah disini teman-teman guru. Di Sekolah Islam Terpadu. Ingatlah wajah peserta didik yang menunggumu. Wajah yang selalu siap menimba ilmu. Berbuatlah sesuatu. Agar masa depan mereka tak lagi semu. Agar wajah Indonesia tak lagi layu. Selamat menjadi guru ‘ZAmAn NOW’ untukmu. Selamat hari guru.
 
Referensi :
Diane Wulansari, Nyi Mas. 2017. Didiklah Anak Sesuai Zamannya : Mengoptimalkan
    Potensi Anak di Era Digital. Jakarta : PT Visimedia Pustaka (Anggota IKAPI).

Hamid, Abdullah. 2017. Pendidikan Karakter Berbasis Pesantren. Surabaya:
     IMTIYAZ.

Handrianto, Budi. 2007. Agar Timbangan Menjadi Berat. Depok: Gema Insani Press.

Kamaludin, Khawaja. 2016. Rahasia hidup. Jakarta : Darul Kutubi Islamiyah.

Nashih Ulwan, Abdullah. 2015. Tarbiyatul Aulad : Pendidikan anak dalam islam.
    Jakarta : Khatulistiwa Press.

Sapaat, Asep. 2012. Stop Menjadi Guru!. Jakarta : PT Tangga Pustaka.

https://abuzuhriy.wordpress.com Keutamaan mengamalkan ilmu. Diunduh tanggal 20 Nopember 2017 pkl 09.20.

www.rijal09.com. 6 cara menumbuhkan jiwa nasionalisme pada generasi muda. Diunduh tanggal 20 Nopember 2017 Pkl 10.20

http://jsit-indonesia.com/sample-page/makna-terpadu-pada-sit/. Diunduh tanggal 21 Nopember 2017. Pkl 12.30

http://jsit-indonesia.com/ Diunduh tanggal 21 Nopember 2017. Pkl 13.22

http://www.selipan.com/hiburan/7-hal-sehari-hari-berubah-seiring-perkembangan-teknologi/ Diunduh tanggal 21 Nopember 2017 pkl 14.05






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Koleksi Gubahan Lagu - Ilmu Tajwid

NURUL vs FIKRI - Cerpen anak seri karakter Disiplin & Bertanggung Jawab