NURUL vs FIKRI - Cerpen anak seri karakter Disiplin & Bertanggung Jawab



 Ini adalah kisah tentang dua orang anak kembar yang berbeda jenis, yang satu perempuan bernama Nurul, satu lagi laki-laki bernama Fikri. Mereka lahir dari keluarga yang sederhana, namun pandai bersyukur atas nikmat Allah swt yang telah diberikan. Ayahnya bernama Abdul dan ibunya bernama Siti Sholihah. Keluarga ini sangat bersyukur ketika dikaruniai anak kembar, walaupun satu laki-laki dan satu perempuan. Nurul dan Fikri menjadi anak-anak yang tumbuh dengan sehat dan kuat. Beberapa tahun pun berlalu. Saat ini, Nurul dan Fikri telah duduk di kelas 2 di salah satu SDIT yang dekat dengan rumah mereka. Walaupun anak kembar, Nurul dan Fikri tentu memiliki berbagai perbedaan karakter dan sifat yang cukup mencolok.
Suatu hari, Nurul dan Fikri akan segera berangkat ke sekolah. Tetapi suasana dirumah mereka begitu ribut dan berisik.
Bunda   : “Nurul, ayo bangun,ini sudah jam 05.30, ayo bangun, kamu harus sholat subuh dulu, setelah itu bersiap-siap sekolah.”
Nurul     : ”Hoaahhm, aduuhh bunda, Nurul masih ngantuk niih, sebentar lagi ya bun, aku mau tidur lagi.”
Bunda   : “Eeeh, Nurul sayang, ayoo banguun. Cepat. Lihat tuh adikmu, Fikri sudah bangun sejak jam 5 tepat. Dia bangun sendiri dan langsung sholat subuh.”
Nurul     : “Yaah, bunda. itu kan karena Fikri stel jam alarm, makanya bisa bangun. Aku kan nggak pasang alarm, boleh yaa tidur lagi. Sebentaaarr aja bunda.ngantuk niih..hoaaaahm...” (sambil menarik selimutnya dan tidur lagi).
Bunda   : “eeeh, Nurul. Ayo, sekarang bangun, ke kamar mandi , wudhu, sholat subuh. Nanti kamu terlambat ke sekolah (sambil membangunkan Nurul, dan mengajaknya ke kamar mandi).
Nurul     : “Iya bun, iya..sabar..oke, oke..Nurul sholat subuh nih.” (sambil mengusap-usap mata dan menuju ke kamar mandi)
Bunda   : “kamu kan anak perempuan, harusnya bisa lebih disiplin dong, bangun pagi. Ini malah kalah sama adiknya. Ckckck..Nurul...Nurul..”
Nurul     : “Oke Bunda..” (Menjawab dari kamar mandi).
Dikamar Fikri, sangat berbeda suasananya. Fikri sudah selesai sholat subuh, sudah mandi,dan sudah berpakaian seragam sekolah. Fikri lalu datang ke kamar Nurul dan menghampiri bundanya.
Fikri        : “Bunda, kak Nurul baru bangun ya?”
Bunda   : “ hmm, iya tuh. Kakakmu baru bangun, belum sholat subuh, belum mandi juga.”
Fikr         i:” ya sudah bun, Fikri ke kamar dulu ya, mau nyiapin tas sekolah Fikri.”
Bunda   : “Iya Fikri sayang, kalau sudah selesai, segera sarapan di meja makan ya. Bunda sudah buatkan nasi goreng plus telor ceplok kesukaan Fikri dan Nurul.”
Fikri        : “Alhamdulillah, terima kasih bunda.”
Bunda   : “ Iya sayang.Bunda bantu kak Nurul dulu ya.”

Fikri bergegas kembali ke kamarnya. Menyiapkan tas sekolah sendiri, lalu ke meja makan untuk sarapan. Semua Fikri lakukan dengan mandiri. Berbeda sekali dengan Nurul yang masih kurang disiplin dan masih harus dibantu oleh bundanya.

Nurul     :” Bunda, aku udah sholat subuh dan sudah mandi niih.”
Bunda   : Alhamdulillah, sekarang kita sarapan yuk, adikmu baru saja selesai sarapan. Bunda sudah buatkan nasi goreng.”
Nurul     : Alhamdulillah, terima kasih yaa bunda sayaang.”

Setelah semua sarapan, Nurul dan Fikri siap berangkat ke sekolah. Fikri sudah siap di depan pintu, sudah memakai kaos kaki dan sepatu sendiri.Dengan tasnya yang berwarna biru, Fikri sangat siap untuk ke sekolah. Bagaimana dengan Nurul?

Nuru      : “Bunda, aku lupa belum merapikan buku dan tas ku. Lalu, kaos kakiku dimana ya? Yang warna pink itu bunda, mana ya? Loh, ini sepatuku, kok Cuma sebelah bunda, sebelah lagi kemana ya?
Bunda   : “Nurul sayang, kemarin waktu pulang sekolah, kamu letakkan dimana kaos kaki dan sepatumu?”
Nurul     :”hmm, aku lupa bunda. aku letakkan sembarangan aja diluar pintu.”
Bunda   : (dengan nada marah) “Masya Allah Nurul, lain kali kamu harus letakkan di tempat yang benar ya. Supaya kamu sendiri tidak susah mencarinya. Sekarang kamu pakai kaos kaki dan sepatu yang lain saja. Cepat, nanti kamu terlambat.”
Nurul     : “i..iya bunda. maaf.” (sambil tertunduk menyesal)
Fikri        : “ Ayo kak, cepat. Pakai saja kaos kaki dan sepatuku yang lainnya. Kan ukuran kaki kita sama.nanti kita terlambat ke sekolah nih..”
Nurul     : “Iya Fikri, terima kasih ya.kamu memang adikku yang baik. Kita anak kembar kan, harus saling bantu ya..”
Fikri        :”oke deh kakak..”
Ayah      : Ayo Nurul, Fikri, kita berangkat sekarang.”
Nurul dan Fikri : “ iya ayah.”

Nurul dan fikri segera berangkat ke sekolah. Mereka diantar oleh ayahnya dengan menggunakan sepeda motor. Nurul dan Fikri sama-sama duduk di jok belakang. Kalau sudah seperti itu, baru terlihat benar-benar seperti anak kembar.

Di sekolah, Nurul dan Fikri berada di kelas yang berbeda. Nurul di kelas 2A dan Fikri di kelas 2B. Setelah sampai di sekolah, mereka langsung masuk ke dalam kelas masing-masing. Ternyata, di sekolah pun Nurul dan fikri memiliki perbedaan yang cukup mencolok dari karakter dan sifatnya.

Di kelas Nurul, 2A.
Ibu guru               : “anak-anak, silahkan kalian mengumpulkan tugas menulis yang ibu guru berikan kemarin.”
Nurul                     :”Bu guru, maaf bu. Saya belum mengerjakan tugas itu.”
Ibu guru               : “Lho? Memangnya kenapa nurul? Apakah kamu kesulitan menulisnya?”
Nurul                     :”hmm...anu bu, anu...mmm, aku...aku lupa bu guru, aku keasyikan main di komputer ayahku.”
Ibu guru               : “Astaghfirulloh Nurul..seharusnya kamu kerjakan tugasmu lebih dulu, jangan terlalu sering main games di komputer, kamu bisa lupa waktu. Akhirnya, kamu lupa dengan tugasmu sendiri. “
Nurul                     :”iya bu guru, maaf.”
Ibu Guru              :”baik, sebagai sanksinya, silahkan nurul mengerjakan tugas itu pada jam istirahat ya.”
Nurul                     :”yaaah, aku ga bisa main dong bu?”
Ibu guru               : itu karena kamu sendiri yang salah. Kamu sudah lalai dengan tugasmu sendiri.jadi itulah sanksinya. Lain kali kamu harus disiplin dalam melaksanakan tugas ya?”
Nurul                     :” baik bu guru.”

Di Kelas Fikri, 2B
Pak Guru             : “ Baiklah anak-anak, silahkan kalian mengumpulkan tugas menulis yang pak guru berikan kemarin.”
Fikri                        :” Ini pak tugasnya.” (sambil maju ke depan kelas dan menyerahkan buku menulis)
Pak Guru             :”Alhamdulillah, terima kasih Fikri, kamu telah melakukan tugasmu dengan baik, hebat!”
Fikri                        : “Alhamdulillah.”
Pak Guru             : “Nah, anak-anak, pak guru ucapkan terima kasih kepada kalian yang telah mengumpulkan tugas dengan baik.Itu tandanya kalian anak-anak yang disiplin. Bagi kalian yang belum mengerjakan, silahkan kerjakan tugas tersebut di saat jam istirahat. Itu sebagai sanksi atas kelalaian kalian.”

Beberapa jam kemudian
Di kelas Nurul, 2A
Ibu guru               : “Anak-anak, saatnya kita bersiap-siap untuk pulang. Silahkan kalian semua merapikan semua alat tulis dan buku ke dalam tas masing-masing, lalu duduk berbaris di karpet merah.”

Semua anak-anak kelas 2A mulai merapikan perlengkapan sekolahnya masing-masing. Tiba-tiba Nurul berteriak.

Nurul                     : “Bu guru...aku kehilangan pinsil,penghapus,dan rautan pinsilku bu...ibu lihat ga?
Ibu guru               : “Hmm, maaf Nurul, bu guru tidak melihatnya. Memangnya tadi kamu letakkan dimana pinsil,penghapus,dan rautan milikmu?”
Nurul                     :“Tadi kan aku mengerjakan LKS di lantai menggunakan lekar, lalu aku taruh pinsil,penghapus dan rautanku di lantai.Sekarang hanya tempat pinsilnya aja yang ada, isinya kosong bu...” (sambil menangis) .
Ibu Guru              : “Baiklah, Nurul dengarkan nasihat bu guru ya. Hari ini Nurul sudah dua kali melakukan kesalahan. Pertama, kamu tidak mengerjakan tugas. yang kedua , kamu meletakkan semua alat tulismu sembarangan,tidak dimasukkan kembali ke tempat pinsil yang ada. Artinya, Nurul tidak disiplin. Dan coba lihat akibatnya jika nurul tidak disiplin? Nurul jadi tidak bisa bermain saat istirahat karena harus mengerjakan tugas. Nurul juga kehilangan alat-alat tulis Nurul. Jadi, itu sangat merugikan Nurul kan?”

Nurul                     :” i..iya bu..” (sambil tertunduk lesu)
Ibu Guru              : “ Lalu, bagaimana caranya agar Nurul tidak rugi setiap hari?”
Nurul                     : “Nurul janji, Nurul akan disiplin bu. Nurul akan berusaha mengerjakan tugas, dan Nurul akan meletakkan kembali alat tulis Nurul ke tempat pinsil supaya tidak hilang.”
Ibu guru               :”Bagus, itu baru anak bu Guru yang baik dan sholihah. Mulai besok Nurul harus bisa lebih disiplin yaa, Bu guru yakin Nurul pasti bisa.”
Nurul                     : “ Iya bu, Nurul janji.”
Ibu guru               :”Alhamdulillah..ayo kita siap-siap pulang.Nanti kita cari sama-sama ya alat tulismu.”
Nurul                     : “Baik bu, terima kasih.”

Sejak saat itu, Nurul mencoba selalu bersikap disiplin dan bertanggung jawab. Mengerjakan tugas, meletakkan barang-barang miliknya ke tempat yang benar. Karena Nurul tahu, bahwa tidak disiplin dan tidak bertanggungjawab akan sangat merugikan dirinya. Sekarang, Nurul dan Fikri benar – benar seperti saudara kembar. Mereka sama-sama menjadi anak yang selalu disiplin.

-Selesai -



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Koleksi Gubahan Lagu - Ilmu Tajwid

6 MUTIARA GURU SIT ZAMAN NOW