Generasi PRB ( Patriotik Relijius Bekerjasama)
“Garuda pancasila..akulah pendukungmu..patriot proklamasi...sedia
berkorban untukmu..
Pancasila dasar negara..rakyat adil
makmur sentosa..pribadi bangsaku..
Ayo maju maju...ayo maju..maju..ayo
maju..maju..”
Masih
ingat lagu nasional Garuda pancasila diatas? Tentu sejak kita di sekolah dasar
sudah dikenalkan dan diajarkan menyanyi lagu tersebut. Dulu, bapak/ibu guru
kita selalu mengajak kita bernyanyi lagu ini dengan nada yang menghentak dan
semangat. kitapun ikut menyanyikan lagu tersebut dengan semangat pula. Apalagi
jika dilakukan secara serentak dengan seluruh teman-teman. Wah...sungguh terasa
semangat yang luar biasa. Namun, apakah dulu kita paham maknanya Garuda
Pancasila? Atau sekedar nyanyian penyemangat semata? Atau sekedar mengejar
nilai mata pelajaran seni musik atau IPS? Introspeksi yuk. Jangan-jangan dulu
kita hanya sekedar ‘ikut-ikutan’ bernyanyi karena diminta oleh guru kita.
Mari
kita lihat bersama lirik lagu garuda pancasila diatas. Ada kata ‘Patriot’. Apa
makna patriot? Apakah selama kita menjadi warga Indonesia sudah berjiwa
patriotik? Patriot artinya pencinta; pembela tanah air. Sedangkan patriotik
berarti bersifat cinta pada tanah air ( Kamus Besar Bahasa Indonesia hal 534,
Bina sarana Pustaka, 2010). Dari makna tersebut kita dapat merenungi bersama,
apa saja yang telah kita lakukan untuk membuktikan bahwa kita mencintai dan
membela bangsa Indonesia? Sebagai seorang warga negara Indonesia, sudah
sepatutnya pula kita mencintai negara kita, membela sepenuh jiwa dan raga demi
negara kita tercinta, Indonesia. Bagaimana caranya? Salah satu caranya dengan
selalu membeli produk- produk dalam negeri. Apapun kebutuhan hidup kita,
usahakan dan utamakan selalu mencari produk pribumi. Ini menjadi introspeksi
untuk kita semua. Negara kita negara yang sungguh melimpah kekayaan alamnya.
Hasil bumi, laut, dan berbagai produk-produk kerajinan tangan khas Indonesia
dapat menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan hidup. Jangan tergoda dengan
banyaknya produk luar negeri yang mungkin lebih murah. Apalagi yang jauh lebih
mahal. Ketika kita seringkali membeli produk luar negeri, maka tanpa disadari,
lambat laun kita mematikan berbagai potensi unggulan dari negeri kita sendiri.
Yang pada akhirnya bisa saja kita, bangsa Indonesia menjadi budak di negeri
sendiri.
Islam agama rahmatan lil aalamiin. Rahmat bagi
seluruh alam. Ada sebuah pantun yang berbunyi,
“Burung Dara memakan umpan
Islam dan Negara jangan dipisahkan”
Allah swt berfirman "Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: "Ya Tuhanku,
jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa.." [Al Baqarah
126]
"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, jadikanlah
negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku
daripada menyembah berhala-berhala." [Ibrahim 35]
Imam Abu Ja’far bin
Jarir meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah, bahwa, Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya Ibrahim telah menjadikan Baitullah sebagai tanah haram dan tempat
yang aman. Dan sesungguhnya aku pun telah menjadikan kota Madinah sebagai tanah
haram, di antara kedua batasnya, dan tidak boleh diburu binatang buruannya, dan
tidak boleh pula dipotong pepohonannya.” (HR.
An-Nasa’i dan Muslim)
Dari
dalil Al-quran dan hadits diatas dapat dilihat bahwa betapa nabi Ibrahim a.s sangat
mencintai negerinya. Beliau sangat berharap negerinya menjadi negeri yang aman,
sentosa, dan jauh dari para penyembah-penyembah berhala. Dan Allah swt
menyampaikan doa beliau melalui Al-Quran yang saat ini kita dapat membaca dan
mempelajarinya bersama-sama. Inilah indahnya islam. Tidak ada pemisahan antara
urusan agama dengan urusan negara. Dicontohkan oleh nabi Ibrahim melalui
doa-doanya, dan betapa beliau berusaha seoptimal mungkin mengatur negaranya ,
hingga sedetil mungkin sampai tidak boleh ada binatang yang diburu dan
pepohonan tidak boleh dipotong. Sebab jika negerinya rusak, kacau, tidak
teratur, maka yang akan menderita tentulah penduduk yang ada di dalamnya. Maha
suci Allah. Nabi Ibrahim, bapak para nabi telah memberikan contoh yang baik
untuk mencintai negerinya. Sudah selayaknya kita mengikuti jejak beliau. Mari
kita sama-sama berusaha menjadi seorang hamba Allah yang patriotik. Mainkan
peran kita seoptimal mungkin sebagai seorang hamba Allah, sebagai seorang anak
bangsa, sebagai guru, sebagai apapun peran kita di dunia.
Sebagai
seorang guru, tentulah kita berkewajiban menuntun anak-anak didik kita agar
menjadi seorang yang patrotik, siswa yang memiliki sifat cinta tanah air. Hal
ini dapat dilakukan dengan berbagai cara. Pertama, melalui proses
pembelajaran. Sejak di kelas satu
sekolah dasar, kurikulum sudah diatur untuk mengajak anak-anak didik kita untuk
mencintai negeri Indonesia. Mulai dari mengenal suku bangsa diri dan keluarga,
ada juga lagu aku bangga menjadi anak Indonesia, mengenal pakaian dan rumah
adat di seluruh Indonesia, makanan khas Indonesia, aneka suku bangsa, aneka
permainan tradisional, dan lain sebagainya. Tantangannya adalah bagaimana
menemukan metode yang tepat agar anak-anak benar merasakan dan mengalami
sendiri dalam proses belajar tersebut. Bukan sekedar teori dan penjelasan di
depan kelas, namun bisa dibuat menjadi suatu rangkaian kegiatan seperti puncak
tema yang dapat melibatkan seluruh peserta didik, guru, dan seluruh stakeholder
sekolah. Makin naik level kelasnya, maka makin kompleks nilai-nilai kecintaan
terhadap tanah air yang bisa ditumbuhkan. Mulai dari mengenal para pahlawan,
mengetahui sejarah kemerdekaan Indonesia, kekayaan alam Indonesia, dan lain
sebagainya.
Salah
satu projek sekolah yang bisa dilakukan antara lain dengan membuat berbagai
perlengkapan dari bahan/barang bekas dengan nuansa Indonesia. Misalnya tas
sekolah dari bahan batik, tempat pinsil dari anyaman daun janur kelapa, map /
tempat file dari kardus bekas air mineral, dompet dari plastik bekas bungkus
kopi, celengan dari botol bekas, dan lain sebagainya. Hal ini mengajak siswa
berpikir kreatif, mencintai produk dalam negeri, mengurangi sifat konsumtif,
dan tentu lebih cinta terhadap Indonesia. Bukan hanya di pembelajaran , bahkan di luar
jam pelajaran pun kecintaan terhadap tanah air dapat ditumbuhkan. Misalnya
upacara bendera, kegiatan ekstrakurikuler paskibra, pramuka, peringatan
hari-hari besar nasional juga dapat menumbuhkembangkan jiwa patriotik peserta
didik.Tantangannya kemudian adalah bagaimana kita mampu mengemas berbagai
kegiatan tersebut menjadi sarana optimal membentuk peserta didik yang
patriotik. Untuk kegiatan lomba bisa disesuaikan dengan tujuan agar anak lebih
cinta pada Indonesia. Misalnya lomba menulis untuk siswa dengan tema ‘Harapanku
untuk Indonesia’; Membaca puisi, lomba drama perjuangan kemerdekaan Indonesia;
Inovasi masakan Indonesia berbahan dasar singkong, ubi, talas; kreasi bahan
motif batik, atau bisa juga diadakan parade berbagai keunggulan Indonesia.
Harapannya kemudian terbentuk generasi yang semakin mengenal sisi positif
Indonesia, makin cinta Indonesia, serta rela berkorban bagi kepentingan
Indonesia.
Umat
Islam sudah pasti religius. Lalu apa makna religius? Asal kata religi yang
artinya kepercayaan terhadap tuhan; kepercayaan akan adanya kekuatan diatas
manusia; kepercayaan; agama. Sedangkan religius artinya bersifat religi;
bersifat keagamaan (Kamus Besar Bahasa Indonesia hal 534, Bina sarana Pustaka,
2010). Karena Islam sendiri merupakan agama, maka umat islam yang baik idealnya
tentu melaksanakan semua perintah agama islam dan meninggalkan segala
larangannya. Sekolah islam yang kian menjamur membuktikan bahwa mayoritas
penduduk di Indonesia ini berharap anak-anaknya diberikan pendidikan islam yang
lebih baik. Ini tantangan besar kita semua. Sebagai guru, kita dituntut untuk
dapat memberikan contoh dan teladan yang baik terkait semua hal keislaman yang
kita miliki. Sebelum guru mengajarkan anak didiknya tentang adab makan dan
minum misalnya, maka guru tersebut harus sudah mempraktekkan adab makan minum
terlebih dahulu di setiap situasi dan kondisi. Begitu pula tindakan, perkataan,
dan gerak-gerik seorang guru selalu diperhatikan oleh anak didiknya. Maka,
sangatlah wajar jika para pembuat kebijakan di sebuah yayasan/sekolah
menerapkan beberapa syarat dan ketentuan yang berlaku dalam hal keislaman untuk
menerima seorang guru/karyawannya.
Bukan
sekedar islam, namun tantangannya adalah bagaimana keislaman peserta didik kita
bisa menyeluruh dan konsisten. Pembinaan keislaman/kegiatan mentoring yang
berjenjang, tertib, dan teratur menjadi salah satu sarana agar peserta didik
terus terjaga pemahaman keislamannya. Berbagai pembiasaan ibadah harian di
sekolah,peraturan kesiswaan yang tepat dan konsisten, dan yang terpenting
adalah seluruh warga sekolah itu mau dan bisa menjadi contoh bagi peserta
didik.
Islam
sangat menganjurkan umatnya untuk senantiasa bekerjasama. Firman Allah swt
dalam Al-Quran :
“…Dan
tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan takwa dan janganlah kalian tolong
menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah,
sesungguhnya Allah amat berat siksaan-Nya“. (Al-Ma’idah:2)
Dalam
tafsir ibnu katsir dikatakan bahwa firman Allah: wa ta’aawanuu ‘alal birri wat
taqwaa wa laa ta’aawanuu ‘alal itsmi wal ‘udwaani (“dan tolong-menolonglah kamu
dalam [mengerjakan] kebajikan dan takwa, dan janganlah kamu tolong menolong
dalam berbuat dosa dan pelanggaran.”) maknanya Allah memerintahkan
hamba-hamba-Nya yang beriman untuk senantiasa tolong menolong dalam berbuat
kebaikan, itulah yang disebut dengan al-birru [kebajikan]; serta meninggalkan
segala bentuk kemungkaran, dan itulah dinamakan dengan at-taqwa. Allah swt.
melarang mereka tolong menolong dalam hal kebathilan, berbuat dosa dan
mengerjakan hal-hal yang haram.
Bekerjasama artinya kegiatan atau
usaha yang dilakukan oleh beberapa orang untuk mencapai tujuan bersama (Kamus
Besar Bahasa Indonesia hal 554, Balai pustaka, 2007). Dari dalil Al-quran
diatas dapat dilihat bahwa Allah swt sangat menyukai orang-orang yang selalu
bekerjasama. Setiap manusia pasti membutuhkan pertolongan orang lain. Bahkan
orang yang paling kaya di dunia sekalipun, masih tetap membutuhkan orang lain
untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Yang perlu ditekankan disini adalah tujuan
bersama seperti apa yang menjadi landasan kita untuk bekerjasama? Dalam islam
jelas bahwa Allah memerintahkan untuk bekerjasama dalam hal kebaikan dan takwa.
Dalam konteks pembelajaran, kita bisa mengajak para peserta didik untuk membuat
kelompok belajar, atau tugas kelompok dengan berbagai tujuan yang harus
dicapai. Guru juga harus memperhatikan latar belakang siswa. Misalnya siswa
yang lebih pandai dikelompokkan dengan siswa yang belum pandai. Sehingga dalam
kelompok tersebut dapat terjalin saling mengajarkan (peer teaching). Bekerjasama
juga bisa dilakukan diluar pembelajaran. Seperti jadwal piket, tugas merawat
tanaman sekolah, menjaga kebersihan dan perawatan perlengkapan kelas, dan lain
sebagainya.
Proses ini harus dilakukan. Mulai
dari pembentukan siswa patriotik, pembimbingan siswa agar tetap religius,
bekerjasama antara siswa dan guru, guru dengan guru, guru dengan para pimpinan
sekolah, dan juga doakan selalu anak-anak didik kita di setiap sujud- sujud
panjang kita.Maka kita akan melihat suatu saat nanti akan muncul generasi PRB.
Yaitu generasi yang selalu berjiwa Patriotik, Religius, dan gemar Bekerjasama.
Saya akhiri tulisan ini dengan sebuah gubahan lagu berikut.
Irama
: Pelangi-pelangi
Judul
: Anak Muslim PRB
Aku
anak muslim
Cinta
Indonesia
Aku
religius..juga patriotik
Yuk
saling membantu...sesama saudara
Bekerjasamalah..itu
anak muslim.
Daftar pustaka:
Kamus Besar
Bahasa Indonesia. Jakarta. Bina Sarana Pustaka. 2010
Kamus Besar
Bahasa Indonesia. Jakarta. Balai Pustaka. 2007
Al-Quran dan
terjemahnya. Departemen Agama Republik Indonesia. Cahaya
Quran.
2011.
Komentar
Posting Komentar