Ia bernama ‘I B U’
Dunia
seakan gelap gulita. Lutut gemetar. Badan lemas. Dada bergemuruh. Air mata
tertahan. Mulut tercekat. Speechless. “Anak ibu harus di rawat. Ini
diare dan dehidrasi, harus cepat diatasi” Dokter UGD rumah sakit berkata tegas.
“Iya.” Hanya satu kata itu yang mampu terucap dari bibirku. Syamilah, bidadari
kecilku yang baru berusia 10 bulan itu harus merasakan sakitnya jarum suntik,
infus, dan terlihat sangat lemah tak berdaya. Air mataku meleleh. Tak tahan
rasanya melihat Syamilah dengan kondisi seperti itu. Rasa menyesal dan bersalah
tiba-tiba menyergap. Istighfar ribuan kali rasanya masih belum cukup membayar
semua kesalahanku. Iya, Ini salahku. Aku memberikan syamilah air kencur sebagai
ikhtiar dari batuk yang dideritanya beberapa hari lalu. Ternyata pencernaan Syamilah
tidak kuat dan akhirya diare dan dehidrasi. Ya Allah….pindahkan. Pindahkan
penyakit Syamilah padaku. Biar aku saja yang sakit. Jangan Syamilah. Ku mohon
ya Allah…aku penyebab semua ini. Tukarkan kesehatanku dengan sakitnya Syamilah
anakku. Apapun akan kulakukan, demi anakku agar sehat kembali seperti sedia
kala. Tujuh hari lamanya akhirnya Syamilah dirawat di rumah sakit. Tujuh hari
pula aku tak pulang ke rumah. Bagaimana kabar kakak Shofia? apakah dia sudah
makan? Bagaimana kakak sekolah? Bagaimana kakak bisa tidur tanpa peluk dan
ciumku? Bagaimana? Bagimana? Ah…Allah..akhirnya bulir-bulir airmata itupun
jatuh lagi, berderai lagi. Tujuh hari serasa tujuh abad bagiku. Tak kuat
rasanya harus berada di kamar sempit ini. Aroma obat yang menyeruak, tangisan,
rintihan anak-anak silih berganti terdengar dari balik tirai ‘tetangga’ kanan
kiri. Rabb….tolong kuatkan aku dan anakku.
Itulah
naluri seorang ibu. Apapun akan dilakukan demi anak-anaknya. Siap menggantikan
nyawa sekalipun jika diperlukan demi kesehatan dan kelangsungan hidup
anak-anaknya. Teringat kembali kisah ibuku tentang aku. Mirip seperti kisah
Syamilah. Usia 11 bulan, harus dirawat di rumah sakit karena diare dan dehidrasi
hebat, hingga kejang-kejang. Ibuku berjuang sekuat tenaga menyelamatan aku.
Hingga pintu kamar dokter UGD pun ditendangnya dan berteriak lantang, “Dokteeer……..tolong
anak saya!!” Alhamdulillah akhirnya saya tertolong. Ibuku sungguh luar biasa.
Setiap kali berkisah tentang aku saat itu, setiap itu pula aku menangis.
Perjuangan dan doa yang tak putus hingga aku menjadi seperti sekarang ini. Dan itulah
yang aku rasakan juga ketika telah menjadi seorang ibu. Tak peduli apapun
resikonya, akan kutempuh untuk menyelamatkan anakku, si cantik Syamilah.
Ia
bernama ‘IBU’. Kasih dan sayangnya tak akan pernah lekang oleh waktu. Doa nan
tulus senantiasa terlantun darinya. Diminta ataupun tidak, ‘IBU’ akan selalu
memberikan semua yang terbaik bagi anak-anaknya. Perjuangan sejak mengandung 9
bulan lebih, yang ternyata kurasakan amat sangat melelahkan, namun bahagia.
Ajaib rasanya ketika ada sesuatu yang bernyawa hinggap di rahimku. Maha suci
Allah. Saat melahirkan, normal ataupun sesar, tetap butuh perjuangan. Saat
menyusui dan merawat anak-anak, saat melihat anak-anak tumbuh semakin besar,
berceloteh, merangkak, duduk, berdiri, berjalan, hingga satu kata terucap
dengan manis, “Umii..”. Ah…Indahnya menjadi seorang IBU. Hilang semua lelah dan
sedihku jika melihat anak-anakku sehat dan bahagia. Pantaslah Allah swt dan
Rasulullah memberikan kedudukan yang istimewa terhadap seorang yang bernama IBU.
“Dan
Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya;
ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan
menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu
bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Qs. Luqman : 14)
Dari
Abu Hurairah radhiyallaahu
‘anhu, belia berkata, “Seseorang
datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai
Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu
‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya,
‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’
Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab,
‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi
shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.'” (HR.
Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)
Imam
Al-Qurthubi menjelaskan, “Hadits
tersebut menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang ibu,
harus tiga kali lipat besarnya dibandingkan terhadap seorang ayah. Nabi
shalallaahu ‘alaihi wasallam menyebutkan kata ibu sebanyak tiga kali, sementara
kata ayah hanya satu kali. Bila hal itu sudah kita mengerti, realitas lain bisa
menguatkan pengertian tersebut. Karena kesulitan dalammenghadapi masa hamil,
kesulitan ketikamelahirkan, dan kesulitan pada saat menyusui dan merawat anak,
hanya dialami oleh seorang ibu. Ketiga bentuk kehormatan itu hanya dimiliki
oleh seorang ibu, seorang ayah tidak memilikinya. (Lihat Tafsir Al-Qurthubi X :
239. al-Qadhi Iyadh menyatakan bahwa ibu memiliki keutamaan yang lebih besar
dibandingkan ayah)
Begitu
pula dengan Imam Adz-Dzahabi rahimahullaah,
beliauberkata dalam kitabnya Al-Kabaair,
Ibumu telah mengandungmu di dalam
perutnya selama sembilan bulan, seolah-olah sembilan tahun.
Dia bersusah payah ketika
melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya.
Dia telah menyusuimu dari putingnya,
dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu.
Dia cuci kotoranmu dengan tangan
kirinya, dia lebih utamakan dirimu dari pada dirinya serta makanannya.
Dia jadikan pangkuannya sebagai
ayunan bagimu.
Dia telah memberikanmu semua kebaikan
dan apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa
dan panjang sekali kesedihannya dan dia keluarkan harta untuk membayar dokter
yang mengobatimu.
Seandainya dipilih antara hidupmu dan
kematiannya, maka dia akan meminta supaya kamu hidup dengan suaranya yang
paling keras.
Betapa banyak kebaikan ibu, sedangkan
engkau balas dengan akhlak yang tidak baik.
Dia selalu mendo’akanmu dengan taufik,
baik secara sembunyi maupun terang-terangan.
Tatkala ibumu membutuhkanmu di saat
dia sudah tua renta, engkau jadikan dia sebagai barang yang tidak berharga di
sisimu.
Engkau kenyang dalam keadaan dia
lapar.
Engkau puas minum dalam keadaan dia
kehausan.
Engkau mendahulukan berbuat baik
kepada istri dan anakmu dari pada ibumu.
Engkau lupakan semua kebaikan yang
pernah dia perbuat.
Berat rasanya atasmu memeliharanya
padahal itu adalah urusan yang mudah.
Engkau kira ibumu ada di sisimu
umurnya panjang padahal umurnya pendek.
Engkau tinggalkan padahal dia tidak
punya penolong selainmu.
Padahal Allah telah melarangmu
berkata ‘ah’ dan Allah telah mencelamu dengan celaan yang lembut.
Engkau akan disiksa di dunia dengan
durhakanya anak-anakmu kepadamu.
Allah akan membalas di akhirat dengan
dijauhkan dari Allah Rabbul ‘aalamin.
Maka,
sayangilah ibumu. Jangan pernah kau sakiti hatinya. Jangan pernah kau durhaka
kepadanya. Ingatlah semua pengorbanan yang telah ia berikan padamu. Ingatlah
saat kau kecil di pangkuannya. Ingatlah tatkala kau disuapi makanan olehnya.
Ingatlah ketika ia tak bisa tidur karena sakitmu. Jangan pernah kecewakan
ibumu. Ingatlah bahwa doa-doanya yang menembus langit dan diijabah Allah swt adalah
penyebab kau berhasil dan berhasil, hingga detik ini. Ia bernama ‘IBU’.
Duhai
Allah yang maha baik, tolong jaga keimanan ibuku..istiqomahkan dalam kebaikan,
iman dan islam, ampuni segala khilaf dan dosanya
Duhai
Allah yang maha penyayang, sayangilah ibuku selalu, tanpa kenal waktu..
Duhai
Allah yang maha menjaga, jagalah ibuku dengan caraMU, jaga dari kelalaian, jaga
dari segala penyakit, jaga dari segala kesulitan..
Dalam
deraian air mata yang tak dapat kubendung lagi, duhai Allah yang maha pemberi Rahmat,
masukkan ibuku ke dalam syurgaMu, kumpulkanlah kami kembali dalam naungan
cintaMU…agar kami dapat mereguk kembali cinta ibu..selama-lamanya..
Aamiin.
Special
for ibunda tersayang , teladan yang hebat, pekerja keras, tegas dan
berkarakter, Siti Khodijah binti H. Ahmad Kholik. Peluk cium takjub dari ananda
yang selalu menyusahkanmu, hingga detik ini.
Siti
Nurhasanah-Ummu Shofia-Syamilah
And u are one of a great mom. Kiss and huuug
BalasHapus