Cerpen - PAK SUBUR SI TUKANG BAJIGUR
“ Gur....bajigur....bajigur....” dari
kejauhan sudah terdengar jelas teriakan bapak berusia 45 tahun itu menawarkan
dagangannya dengan penuh semangat. Pak Subur namanya. Dia penjual minuman
Bajigur di Desa Asri Makmur. Desa yang damai dengan pemandangan sawah ladang
terhampar luas, kebun-kebun, juga bukit dan gunung yang menambah kesejukan mata
memandang. Indah sekali. Penduduk desanya ramah dan sopan, sebagian besar
bekerja sebagai petani dan pedagang.
Pak Subur sejenak menghentikan
gerobaknya. Dia duduk dibawah sebuah pohon mangga, melepaskan topinya, dan
mengibaskan ke arah wajahnya yang mulai basah dengan peluh keringat.
“Huft...lelah sekali hari ini.”
gumamnya.
“Bajigurku, belum laku sama sekali.
Bagaimana ini? Aku harus mendapatkan uang untuk istri dan anak-anakku di
rumah.” Pak Subur terus berkata dalam hati sambil berkipas-kipas dengan topi
lusuhnya.
Ia bangkit dari duduknya, memakai
kembali topinya, dan memandang ke arah gerobaknya yang masih penuh dengan
dagangan. Ada bajigur, ubi, kacang, dan pisang rebus. Dengan sigap ia merapikan
kembali susunan dagangannya yang sedikit berantakan karena perjalanan.
“Tenang saja, kalau sudah rejeki ga
akan diambil orang.” Celotehnya dalam hati sambil tersenyum dan ia kembali
bersemangat.
Pak Subur kembali mendorong
gerobaknya dan mulai berteriak dengan khasnya, “Bajigur....bajigur...gur...ubi
rebus..kacang rebus..pisang rebus..masih hangaat....”
Perjalanan dimulai kembali. Pak Subur
berharap di depan sana ada yang memanggil dan membeli dagangannya, agar ia bisa
pulang dan membawa uang untuk istri dan kedua anaknya yang sedang menunggu di
rumah.
“ Bang...abang Bajigur...sini..!”
seorang Bapak keluar dari rumahnya memanggil pak Subur.
“Eh..iya pak...oke..!” pak Subur
segera menghampiri pembeli pertamanya itu. Senyum bahagia tak lepas dari
bibirnya.
“Beli bajigurnya bang, harganya
berapa satu gelas? “ tanya si bapak pembeli itu.
“Harganya lima ribu satu gelasnya
pak, mau berapa gelas? Enak nih diminum hangat hangat” Jawab pak Subur dengan
semangat.
“Saya beli dua ya. Ini gelasnya.”
Kata bapak pembeli dengan ramah sambil menyodorkan gelasnya.
“ Oke pak. Siap..!” kata pak Subur
sambil segera melayani si bapak pembeli dengan cekatan. Tak lupa pak Subur
sambil sedikit berbincang dengan pembeli. Itu memang sudah ciri khasnya.
“ Nama saya Subur pak, nama bapak
siapa? “ Pak Subur memulai lebih dulu untuk berbincang.
“Saya Pak Asep, Wah pak Subur cocok
sekali namanya dengan bapak ya, badannya kelihatan subur, hehehe..” Sahut Pak
Asep sambil menepuk pelan pundak pak Subur dan tertawa kecil.
“Iya pak Asep, Alhamdulillah.
Mudah-mudahan rejeki saya juga Subur seperti nama saya, hahaha.” Pak Subur
menjawab sambil tertawa lepas.
“Bisa aja nih Pak Subur, Aamiin.”
Sahut Pak Asep.
“ ini Pak, silakan bajigurnya.
Semuanya jadi sepuluh ribu rupiah.” Pak Subur menyerahkan dua gelas bajigur
yang sudah selesai di raciknya.
“ Ini uangnya Pak Subur, terima kasih
ya. “ Seru pak Asep
“Sama-sama pak Asep, selamat
menikmati bajigurnya. Semoga bapak dan keluarga makin sehat.” Kata Pak Subur.
“Aamin. Pak Subur juga ya, semoga
laris manis dagangannya.” Kata pak Asep.
“Siap pak..terima kasih. Saya permisi
dulu. Assalamualaikum.” Jawab pak Subur sambil kembali mendorong gerobak
dagangannya dan mulai berteriak, “ Gur...bajigur hangaat..”
“Wa’alaikumussalam.” Pak Asep
menjawab dan langsung masuk ke dalam rumah untuk menikmati bajigur yang baru
saja dibelinya.
Hari semakin gelap. Setelah adzan
Maghrib dagangan pak Subur mulai banyak pembelinya. Terlihat di gerobaknya,
bajigur tersisa sekitar 5 gelas lagi. Ubi, kacang, dan pisang rebus juga
tinggal sedikit. Suasana sedang hujan rintik-rintik. Dan hal itu menjadi salah
satu penyebab pembeli banyak yang mencari minuman dan makanan sekedar untuk
menghangatkan badan.
“Alhamdulillah..daganganku lumayan
laris hari ini. Mudah-mudahan besok bisa lebih laris dari hari ini” Pak Subur berceloteh
dalam hati sambil beristirahat sejenak di depan Mushola Nurul Iman, selepas
sholat maghrib.
“Bang...abang bajigur..sini bang..saya
mau beli..!”
Dari kejauhan terdengar suara seorang
ibu paruh baya memanggil pak Subur sambil melambaikan tangannya. Pak Subur
bergegas menghampiri.
“Iya bu...tunggu ya.” Seru pak Subur
sambil mendorong gerobaknya dengan semangat menuju si pembeli yang sudah
menunggunya. Setelah sampai di depan rumah si pembeli, pak Subur langsung
mengawali menegur lebih dulu, seperti biasanya ciri khas pak Subur yang ramah.
“Silakan bu Bajigurnya, satu gelasnya
lima ribu saja. Ibu mau berapa gelas? “ tanya pak Subur pada si ibu pembeli.
“Saya beli tiga gelas pak. Ini gelas
dan uangnya. “ kata si ibu pembeli sambil menyodorkan gelas dan selembar uang
duapuluh ribuan.
“ Oke bu, tiga gelas bajigur siap
diracik.hehe..” seru pak Subur sambil menerima gelas, uang, dan segera meracik
bajigur sesuai permintaan si ibu.
Si Ibu pembeli berkata lagi, “ Bapak
jualannya semangat sekali. Pantas saja badan bapak jadi subur begitu. Hehehe..”
Pak Subur menjawab, “ Loh, si Ibu. Ko
tau nama saya pak Subur? Kelihatan dari badan saya yang sangat subur ini
ya..hahaha..” (tertawa sambil memegang perut yang memang buncit).
Ibu pembeli terkejut sambil tersenyum
“ Eh..bener toh namanya pak Subur. Walah..emang cocok ya. Mudah-mudahan rejeki
bapak ikutan subur ya pak.”
“ Nah..itu bu. Aamiin.” Jawab pak
Subur sambil tersenyum puas. Lalu melanjutkan racikan bajigurnya.
“ini bu, bajigurnya sudah jadi. Cocok
sekali diminum saat malam hari begini, apalagi tadi hujan rintik-rintik.
Enaknya memang minum yang hangat-hangat. Yaa seperti bajigur ini, dan ini uang
kembaliannya.” Pak Subur menyerahkan pesanan bajigur dan uang kembalian kepada
ibu pembeli.
Ibu pembeli terkesan dengan sikap pak
Subur yang ramah seraya berkata, “Terima kasih pak Subur. Semoga dagangan pak
Subur selalu laris, karena pak Subur orang yang ramah.”
Pak Subur berkata,
“amin..bu..amiin..terima kasih banyak sudah beli bajigur buatan saya.Permisi
bu, assalamualaikum.” (sambil pergi mendorong gerobak dagangannya)
“Wa’alaikumussalam.” Ibu pembeli
menjawab dengan ramah dan segera masuk ke dalam rumah.
Hari itu Pak Subur tampak bahagia.
Dagangan bajigurnya habis tak tersisa. Ubi, kacang , dan pisang rebusnya pun
hanya tinggal hitungan jari. Dia bergegas mendorong gerobaknya untuk pulang ke
rumah.
“Biarlah ubi, kacang, dan pisang
rebus ini saya bawa pulang untuk dimakan bersama istri dan anak-anakku. Besok
aku harus lebih semangat lagi.” Bisik pak Subur dalam hati. Dia segera
melanjutkan perjalanan pulang dengan penuh rasa syukur atas rejeki yang
diterimanya hari ini.
Keesokan harinya
Pak Subur berjualan seperti biasanya.
Selepas sholat Ashar, dia mulai beranjak dari rumahnya dengan gerobak bajigur
lengkap dengan isinya. Ketika berjalan sambil menawarkan dagangannya, Pak Subur
melihat ada beberapa orang anak laki-laki berusia sekitar 8-10 tahun sedang
berkumpul dan bermain bola. Pak Subur melanjutkan perjalanan sambil menawarkan
dagangannya. “Gur...Bajigur hangat...kacang rebus, ubi rebus, pisang rebus juga
masih hangat...”
“Bang..abang bajigur!” terdengar panggilan
dari arah anak-anak yang sedang bermain bola memanggil pak Subur. Pak Subur
segera menoleh dan otomatis menghentikan laju gerobak dagangannya dan menjawab
panggilan tersebut.“ Iya dek, mau beli bajigurnya ya? Berapa gelas? Satu
gelasnya lima ribu saja dek..” Pak Subur menjelaskan.
Anak laki-laki yang bernama Deni itu
menjawab dengan nada menghina, “ Yah..abang, bajigur apaan sih? Minuman aneh
ya? Itu pasti ga enak. Enakan juga minuman yang ada di warung depan sana tuh. Dingin,
segar lagi” (sambil menunjuk ke arah warung yang menjual minuman dingin)
Deni masih melanjutkan celotehnya. “Tuh..liat
bang..ga ada yang beli kan bajigurnya. Kebanyakan orang beli minuman yang enak,
bukan bajigur seperti yang abang jual, ga pada doyan bang. Hahaha..(sambil
tertawa dan diikuti oleh teman-teman Deni yang lain)
Pak Subur menghela nafas panjang. Harapannya
hilang sudah. Ternyata Deni bukan ingin membeli dagangannya. Dengan cepat pak
subur meninggalkan anak tersebut yang hanya ingin mencela
dagangannya.”Sabar...sabar..rejeki ga akan kemana.” Pak Subur menenangkan diri
dalam hati.
Selepas sholat maghrib pak Subur akan beranjak pulang. Kali
ini wajahnya nampak lesu. Dagangan bajigurnya masih tersisa cukup banyak.
Kacang, ubi, dan pisang rebusnya pun masih menumpuk di salah satu sudut
gerobaknya. Pak Subur berpikir keras. “Bagaimana ini? Daganganku masih tersisa
banyak sekali. Dibawa pulang ke rumah pun tidak akan habis dimakan keluarga
sendiri.hmm....”
Pak Subur mendengar sayup-sayup suara
orang-orang mengaji. Ternyata di Mushola Nurul Iman, tempat pak Subur sholat
maghrib tadi, ada kegiatan pengajian bapak-bapak. Terlihat sekitar 10-15 orang mengikuti
kegiatan pengajian tersebut. Pak Subur yang sejak tadi nampak lesu, tiba-tiba
tersenyum dan berkata, “Aha, aku punya ide. Alhamdulillah ada pengajian
bapak-bapak. Biar aku berikan saja bajigur dan makanan rebusan ini untuk
mereka. Mudah-mudahan mereka suka.”
Tanpa
pikir panjang, Pak subur segera merapatkan gerobaknya ke halaman Mushola Nurul
Iman. Setelah berbincang dengan salah seorang bapak yang mengikuti pengajian,
Pak Subur segera menyerahkan ubi, kacang, dan pisang rebus pada para jamaah
yang mengikuti pengajian. Begitu juga bajigurnya. Setelah dihangatkan beberapa
saat di kompor gerobaknya, bajigur hangat pun siap diminum oleh para jamaah.
Semua bapak-bapak yang mengikuti kegiatan pengajian di Mushola tersebut dapat
mencicipi hangatnya minuman bajigur serta makanan rebusan dari pak Subur. Semua
menyukainya. Memang cocok sekali diminum saat malam hari saat udara terasa
dingin. Bajigur sangat bermanfaat untuk menghangatkan badan dan mencegah masuk
angin. Racikan dari bahan –bahan seperti kopi hitam, santan kelapa, gula merah, gula pasir, garam serta daun pandan
membuat minuman bajigur ini nikmat diminum ketika masih hangat. Para jamaah mengucapkan
terima kasih kepada pak Subur.
“Alhamdulillah, terima kasih Pak
Subur, kami sangat suka dengan bajigur buatan bapak.” Kata pak Ahmad, salah
satu jamaah di Mushola Nurul Iman.
“iya pak, sama-sama. Saya senang
kalau dagangan saya akhirnya tidak dibuang sia-sia.” Sahut pak Subur.
“Tapi, apakah pak Subur tidak rugi
jika hanya diberikan secara gratis kepada kami?” Pak Ahmad menambahkan.
Pak Subur menjawab, “ Oh, tidak
masalah pak. Yang rugi kalau dagangan saya dibuang ke selokan karena tidak
laku, atau malah basi kalau saya bawa pulang lagi.” (sambil tersenyum ramah).
“Kami doakan agar pak Subur makin berkah
jualan bajigurnya, makin laris, makin sukses, aamiin.” Pak Ahmad dan seluruh
bapak-bapak di mushola tersebut serempak mengaminkan doa untuk pak Subur.
“Terima kasih atas doanya
bapak-bapak. Saya permisi dulu mau pulang, Assalamu’alaikum.”
Pak Subur berpamitan dan segera
mendorong gerobak bajigurnya untuk segera pulang.
“Wa’alaikumussalam...” jawab serempak
dari bapak-bapak di Mushola Miftahul Jannah.
Tiga Hari Kemudian
Pak Subur berjualan bajigur seperti
biasanya. Melewati jalan-jalan di desa Asri makmur, menawarkan dagangannya,
menyapa para pembeli dengan ramah. Itulah ciri khas Pak Subur. Pedagang bajigur
yang disukai oleh banyak pelanggan. Bukan hanya rasa bajigur racikannya yang
memang enak, tapi sikap ramah dan senang berbagi dari pak subur yang menjadi
daya tarik tersendiri. Pak Subur melewati jalan yang biasanya berkumpul
anak-anak bermain. Terdapat beberapa anak laki-laki sedang asyik bermain kelereng.
Tetapi, Pak subur tidak melihat Deni. Anak yang beberapa hari lalu mencela dan
mengejeknya karena berjualan bajigur. Pak subur menoleh kesana-kemari.
“Tidak ada. Kemana ya anak itu? Kok
tidak ikut berkumpul bermain dengan teman-temannya.” Bisik pak Subur dalam
hati. Tiba-tiba seorang anak laki-laki bernama Banu datang menghampiri pak Subur
dan menegurnya.
“Pak, Bapak cari siapa?” Ucap Banu
penasaran. Pak subur menjawab, “Eh, kamu liat anak laki-laki yang kemarin
mengejek saya tidak?”
“Oh...Deni? memangnya kenapa pak?
Bapak mau memarahi Deni karena sudah mengejek bapak ya?“ Sahut Banu.
“Oh..bukan nak. Saya cuma penasaran.
Kok dia tidak bermain disini bersama kalian?” Biasanya Deni juga bermain disini
kan? Pak Subur dengan tenang menjelaskan.
Banu menghela napas lega. “Oh.....kirain
bapak mau memarahi Deni. Karena sikap Deni yang sudah menghina bapak. Deni
sekarang sedang sakit, jadi tidak bisa bermain bersama dengan kami.” Pak Subur
bertanya lagi, “ Sakit? Deni sakit apa nak Banu? Sudah berapa lama sakitnya?”
Banu menjawab, “ Sudah tiga hari pak,
Deni juga tidak masuk sekolah. Katanya sih sakit demam. Tapi saya juga belum
menjenguk Deni pak.” Pak Subur terkejut dan langsung mengajak Banu menjenguk
Deni bersama-sama. “Banu, kamu tahu dimana rumah Deni? ayo kita jenguk Deni sama-sama.
Dia pasti senang jika teman-temannya datang menjenguk.”
Banu dengan senang menjawab, “Ayo
pak, boleh. Teman-teman, kita jenguk Deni yuk..” (sambil memanggil teman-teman
yang lainnya).
Pak Subur, Banu dan beberapa
teman-teman Deni yang lainnya segera berangkat menuju rumah Deni. Pak Subur
tetap mendorong gerobak dagangan bajigurnya. Di perjalanan, Pak subur tak
berhenti berdzikir dan berdoa semoga Deni cepat diberi kesembuhan. Tiba-tiba
Banu bertanya. “Pak Subur, kenapa bapak mau menjenguk Deni? Bukankah Deni sudah
bersikap tidak baik terhadap bapak? Sudah menghina bapak dan mempermalukan
bapak karena berjualan bajigur?” Sambil tersenyum, pak Subur menjawab, “Buat
apa saya marah, Deni kan masih anak-anak. Mungkin dia belum mengerti bagaimana
caranya bersikap terhadap orang yang lebih tua.” Banu terdiam dan tertunduk
malu, lalu meminta maaf pada pak Subur. “ Maafkan Deni ya pak, maafkan saya dan
teman-teman juga. Karena sudah ikut-ikutan menghina bapak beberapa hari lalu.
Pak Subur menjawab sambil tertawa kecil, “Hehehe..Iya nak Banu. Deni sudah saya
maafkan sejak awal, kalian semua juga sudah saya maafkan kok. Jadi kalian tidak
usah takut ya. Tenang saja...”
Banu dan teman-teman serempak
menjawab, “Terima kasih pak Subur.”
Pak Subur menjawab, “ iya..sama-sama.
Ayo kita percepat jalannya ke rumah Deni.”
Tak lama kemudian, sampailah mereka
di rumah Deni. Setelah mengucap salam, mereka dipersilakan masuk oleh ibunda
Deni. Betapa terkejutnya Deni ketika melihat Pak Subur ikut datang ke rumahnya.
Dengan nada takut, Deni segera meminta maaf kepada pak Subur. “Ma..maafkan saya
pak Subur. Saya sudah menghina bapak karena bapak hanya berjualan bajigur.” Pak
Subur segera menenangkan Deni. “ Iya nak Deni, bapak sudah memaafkan kamu sejak
awal kok. Deni tenang saja ya, biar cepat sembuh.” Deni tersenyum dan membalas,
“Terima Kasih banyak pak Subur, bapak memang orang yang baik.”
Ibunda Deni menjelaskan bahwa Deni
sakit demam sudah tiga hari. Sepertinya karena masuk angin karena Deni sempat
kehujanan sewaktu pulang sekolah. Sifat dermawan pak Subur pun muncul kembali.
“Ibu, Deni, ini saya bawakan bajigur
spesial untuk Deni. Jika masuk angin, mudah-mudahan bisa lebih baik dengan
meminum bajigur hangat ini.” (sambil menyerahkan beberapa bungkus minuman
bajigur kepada ibunda Deni). Ibunda Deni menerima dengan pandangan
berkaca-kaca.”Terima kasih pak Subur, bapak sudah memaafkan anak saya. Dan
sekarang malah memberikan bajigur ini untuk Deni. Terima kasih pak, terima
kasih.”
“iya bu, semoga Deni cepat sembuh
ya.” Sahut pak Subur. Deni tak sanggup berkata-kata. Matanya sudah terlanjur
basah dengan air mata. Dengan tubuh yang masih lemah, Deni beranjak dari
duduknya dan segera mencium tangan pak Subur tanda berterima kasih yang teramat
dalam dan berkata sambil terisak, “Pak Subur, Deni minta maaf, terima kasih
bajigurnya. Sudah tiga hari ini saya sakit, tapi belum ada satu teman pun yang
datang menjenguk. Baru hari ini ada yang datang menjenguk saya. Ternyata, pak
Subur yang datang. Deni benar –benar menyesal. Deni janji tidak akan menghina
atau mencela siapapun lagi.
Ibunda Deni, pak subur, dan seluruh
teman-teman Deni tersenyum lega. Pak Subur berkata sambil mengusap kepala Deni
dengan lembut, “Alhamdulillah, syukurlah jika kamu sudah menyesal Deni. Sekarang
kamu minum dulu ya bajigurnya, mumpung masih hangat.”
Banu menyela, “wah...pak Subur,
bajigurnya cuma buat Deni nih? Saya dan teman-teman yang lain kebagian tidak?
Hehehe..” (sambil tertawa kecil). Pak Subur menjawab, “ Tenang, semuanya
kebagian kok. Ayo kita minum bajigur sama-sama.” Pak Subur segera ke
gerobaknya, mengambil beberapa bungkus bajigur dan sejumlah makanan rebusan.
“Ini dia..bajigur spesial buatan pak
Subur. Paling enak diminum hangat-hangat. Jangan lupa kacang, ubi, dan pisang
rebusnya nih..mantap kan. Ayo kita makan dan minum sama-sama.”
“Wah..Pak Subur emang baiknya ga ada
duanya deh.” Lanjut Banu. “Mudah-mudahan pak Subur jadi makin subur ya..”
ibunda Deni menambahkan.
Pak Subur menjawab, “hahaha...apanya
bu? saya ini kan memang udah subur sekali..nih lihat perut saya.” (sambil
menepuk-nepuk perutnya yang buncit).
Semuanya tertawa melihat tingkah pak
Subur. Ibunda Deni menambahkan “hehe..Oalah...iya ya..maksud saya,
mudah-mudahan pak subur makin subur rejekinya, gitu loh pak.”
Dan, semuanya serempak menjawab,
“Aamiin..”
-Selesai-
Komentar
Posting Komentar