10 Kiat Utama Untuk Melatih Anak Menulis
“ Aku harus menulis apa ya?..... “ Bu guru, aku tidak bisa menulis, aku
tidak tahu apa yang harus aku tulis,”… “ Ah, aku paling males kalau disuruh
mengarang bebas” . Beberapa kalimat tersebut sering kali kita dengar dari mulut
siswa –siswi kita ketika pelajaran Bahasa Indonesia berlangsung, khususnya di
Sekolah Dasar. Ketika diberi waktu untuk membuat sebuah tulisan, anak-anak
seringkali bingung dan tidak tahu apa yang harus mereka tulis. Beberapa siswa
khawatir dan merasa takut tulisannya tidak layak untuk dibaca orang lain.
Beberapa siswa lagi memang benar-benar tidak mengerti, karena tidak tahu harus
memulai dari mana dalam membuat tulisan. Sebagai Guru, tentu hal ini perlu
disiasati lebih lanjut agar tidak ada lagi kata ‘takut’ atau ‘phobia’ dalam
membuat tulisan.
Menurut Mary Leonhardt
dalam bukunya “ 99 Cara Menjadikan Anak Anda Bergairah Menulis ” memaparkan
setidaknya ada 10 kiat utama untuk para Guru dan juga orangtua untuk melatih
anak menulis. Pertama, tumbuhkan kecintaan dan kebiasaan membaca pada
diri anak. Ini salah satu hal terpenting yang bisa Anda lakukan untuk menjamin
agar mereka menjadi penulis yang baik. Orang yang keranjingan membaca menjadi
akrab dengan teknik-teknik yang digunakan penulis yang baik. Anak memerlukan
teladan, yakni dengan membaca. Semakin banyak mereka membaca, semakin matang
berkembangnya rasa kebahasaan mereka. Kedua, dukunglah selalu tulisan
anak Anda. Dalam setiap tulisan, pastilah ada sesuatu yang dapat Anda puji.
Sebuah hasil karya anak, tulisan misalnya, tentu ada yang baik dan ada yang
kurang baik. Mereka telah berusaha memberikan yang terbaik dalam tulisannya.
Mereka mau mencoba dengan kemampuan yang mereka miliki dan itulah hasilnya.
Kita harus dapat menghargai apa yang mereka usahakan. Lihatlah prosesnya,
nilailah prosesnya dan jangan hanya menilai hasilnya saja. Baik atau buruk
tulisan anak, kita harus memberikan penghargaan dengan memberikan pujian. Hal
ini dilakukan sebagai cara untuk memberikan dukungan dan memberikan semangat
kepada anak. Memberikan motivasi kepada mereka supaya menghasilkan
tulisan-tulisan yang lebih baik lagi.
Ketiga, tawarkan saran dan kritik kepada anak hanya kalau mereka sudah menjadi
penulis yang terampil dan percaya diri. Pemberian saran dan kritik ini
diberikan secara personal karena tidak semua anak dalam ruang kelas itu
mempunyai potensi menulis yang sama. Guru dapat melakukan pendekatan pribadi
terlebih dahulu, kemudian tanyakan dengan perlahan dan dengan kata-kata yang
tidak membuatnya tersinggung. Keempat, hargai privasi anak. Janganlah
membaca tulisan tanpa seizinnya. Tunjukkan saja bahwa Anda tertarik pada
tulisan mereka. Tanyakan lebih dulu apakah mereka ingin Anda membacanya, dan
jangan memaksa. Jangan pula mencuri-curi baca. Kelima, hargai pendapat
anak. Pada saat Anda jelas-jelas tidak bisa menyetujui apa yang diucapkan atau
ditanyakan anak, Anda harus mendengarkan mereka dengan hormat—alasannya
bermacam-macam, tetapi juga untuk membantu mereka menjadi penulis yang lancar
dan percaya diri.
Keenam, Jangan menuntut kesempurnaan. Ketika anak baru belajar dan berlatih membuat
tulisan, jangan terburu-buru mengharapkan apalagi menuntut kesempurnaan. Ketika
mereka merasa sebuah tulisan harus sempurna, hal itu tidak hanya menyingkirkan
kreativitas dan keceriaan, tetapi kadang menghasilkan kelumpuhan besar bagi
penulis. Ketujuh, Jangan menyensor tulisan anak. Tulisan yang
betul-betul tidak dapat diterima biasanya hanya musiman. Ketika anak-anak sudah
mulai mau membuat tulisan, jangan membatasi apa yang ingin mereka tulis.
Biarkan mereka menulis tentang imajinasi mereka. Tentang manusia super,
kerajaan luar angkasa, kematian, atau mungkin pembunuh yang keji. Jika Anda
menunggu masa ini terlewati, masa tersebut akan berakhir juga. Semakin tenang Anda,
semakin mungkin mereka berlanjut ke tulisan yang lebih serius. Kedelapan,
sadarilah bahwa anak mempunyai selera menulis yang berbeda-beda, seperti halnya
selera membaca. Doronglah mereka untuk menulis apa yang mereka senangi. Tidak
menjadi masalah apa jenis tulisan anak-anak Anda. Semakin banyak tulisan yang
mereka buat, apa pun jenisnya, semakin cakap mereka jadinya.
Kesembilan, Anda tidak perlu mengajarkan tata bahasa kepada anak ketika mereka baru
mulai menulis. Sebagian besar pengetahuan ketatabahasaan bersifat berkembang
sehingga dikuasai oleh anak-anak sedikit demi sedikit daripada dipelajari
langsung. Ingatlah selalu bahwa anak-anak secara alami belajar berbicara dalam
bahasa yang mereka dengar. Mereka akan secara alami pula belajar menulis dalam
bahasa yang mereka baca—tentu saja, apabila mereka banyak membaca. Membaca itu
penting sekali untuk dapat menulis dengan tata bahasa yang baik. Kesepuluh,
Anda sendiri, menulislah untuk kesenangan. Kita sendiri sebagai orangtua atau
Guru, mulailah menulis untuk kesenangan. Buatlah buku harian, puisi, riwayat
keluarga, atau surat. Lakukan bentuk penulisan apa pun yang mudah Anda nikmati.
Kesepuluh kiat ini dapat
Anda lakukan di Sekolah ataupun di Rumah. Keberhasilan sebuah pendidikan dan
pembelajaran bukan hanya tanggung jawab Guru atau pihak sekolah semata, namun
pihak keluarga atau orangtua juga sangat memiliki pengaruh yang luar biasa.
Menulis adalah sesuatu yang menyenangkan jika kita tahu bagaimana cara
memulainya. Dengan memulai dari diri sendiri, secara tidak langsung kita akan
menjadi teladan bagi anak-anak kita . Harapan besar menanti semoga tidak ada
lagi kata ‘takut’ atau ‘malas’ yang keluar dari mulut siswa-siswi kita ketika
mereka memulai untuk membuat sebuah tulisan. Yuk, dimulai.
Komentar
Posting Komentar