cerpen anak - MAX
” Pagi semuanya......! ” Sepatu
Pink itu menyapa teman-teman yang sudah datang lebih dulu dan berada di posisi
masing-masing. ”Pagi Pinky....kenapa kau baru datang? Biasanya kau lebih pagi
dari kami?” Sepatu Hitam bertali yang berada di rak paling atas itu menyahut.
”Iya Black Sweet, hari ini majikanku agak kesiangan. Maklumlah namanya juga
anak-anak, apalagi baru kelas satu SD, jadi masih agak manja. ” Pinky menjawab lagi.
Pemandangan yang menarik. Setiap pagi semua sepatu anak-anak kelas satu SD di
sekolah Cinta Ilmu itu selalu berada di posisi masing-masing. Rak sepatu dari
plastik berwarna biru muda berukuran satu kali setengah meter telah tersedia di
depan kelas. Model, warna, merk, dan harga
sepatu yang ada pun beragam. Ada yang bertali, berperekat, pita kecil di
atasnya, dan berbagai jenis hiasan lainnya yang menarik perhatian. Itulah dunia anak-anak. Sampai sepatu pun ikut berimajinasi seperti halnya
mereka. Tak lama kemudian, ada sepasang
sepatu lagi yang datang. Siapa dia?
(sambil bernyanyi riang) ”Na..na..na...na...Halo semuanya....apa kabar?
Perkenalkan, saya Max. Sepatu dari luar negeri, hargaku sangat mahal lho...sampai
ratusan ribu rupiah. Lihat, bagian bawahku ada lampu warna-warni dan dapat
mengeluarkan suara atau lagu anak-anak juga. Hebat kan? Mmm..Sepertinya disini
tidak ada lagi sepatu yang bagus kecuali aku ya? ” Max terus berceloteh
tanpa henti.
Pinky mulai bicara, ” Hei..hei...sepatu luar negeri! Sudahlah jangan banyak bicara. Kami tak suka mendengarnya. Mengapa
majikanmu tidak meletakkanmu di sini? Di rak sepatu yang sudah tersedia?
Bukankah setiap anak sudah diajarkan untuk meletakkan sepatunya sendiri di
tempatnya? ”
” Ho..ho...ho... jelas beda dong jika sepatu seperti aku yang datang.
Lihatlah kalian, sangat berbeda denganku. Kalian sepatu murahan, modelnya kuno,
ga menarik lagi. Mana mungkin aku mau ditempatkan di rak seperti kalian.
Aku ini seharusnya ditempatkan di tempat yang khusus. Jadi biar saja majikanku
Dirda yang mengurusnya.”
”Dasar sepatu sombong.” Si sepatu hijau Greeny, yang memiliki perekat diatasnya
akhirnya ikut bicara. ” Kau tidak boleh begitu Max, setiap sepatu harus berada
di rak sepatu.”
Bluety si sepatu biru tak mau kalah, ” Benar itu Max, kau harus ada disini, di
Rak sepatu ini. Karena memang inilah tempat kita. Agar kita semua terlihat rapi
dan teratur. Betul kan teman-teman...? ”
” Betul.........” Semua penghuni Rak sepatu itupun
menyahut dengan kompak.
” Aaah..! Kalian ini tahu apa sih. Sudah, jangan ikut campur! Aku ini dari luar
negeri, tentu aku lebih tahu dan lebih pintar dari kalian. Jangan coba-coba
menasehatiku lagi, aku muak!” Max membantah keras.
Semuanya terdiam. Tak ada lagi yang berani membantah Max. Akhirnya seluruh
penghuni Rak sepatu sepakat untuk memusuhi Max. Tidak ada yang mau bicara, menegur, apalagi berteman dengan Max. Sepatu
sombong itu benar-benar tidak punya teman, kecuali majikannya Dirda, anak orang
kaya yang juga sombong. Hari itu Max benar-benar tidak berada di tempat
yang seharusnya. Dia tetap dibawah, di depan kelas majikannya, sejak awal
hingga sekolah usai. Padahal itu sangat tidak aman baginya. Max bisa saja
terinjak-injak oleh anak-anak yang ingin keluar-masuk kelas. Atau bisa saja di
tendang-tendang oleh anak-anak yang iseng, dan lain sebagainya. Tapi itulah Max
dan Dirda, mereka tidak mau mendengarkan nasehat dari siapapun.
Keesokan harinya, Ibu Guru segera menegur Dirda untuk meletakkan
sepatunya di rak yang sudah tersedia.
”Dirda, kamu tidak kasihan dengan sepatu kamu?” Ibu Guru mulai membujuk.
”Kenapa bu?” Dirda balik bertanya. Ibu guru menjawab lagi, ”Coba lihat,
Sepatumu terpisah sendiri, sedangkan sepatu yang lain sudah tersusun rapi di rak.
Nanti kalau sepatumu terinjak-injak dan rusak bagaimana? Ini sepatu mahal kan?
Ayo, sekarang letakkan dengan benar sepatumu, supaya terlihat rapi dan juga
aman, mengerti?”
”Baik bu...” Dirda menyahut lemas. Sambil
cemberut, Dirda meletakkan Max di rak yang paling bawah.
” Nah, itu baru anak Bu Guru yang pintar. Ayo masuk.” Bu Guru memuji.
“ Hai Max, bagaimana rasanya berada di tempat yang sama seperti kami, nyaman
bukan?” Pinky menyindir. “Ah, diam kau sepatu butut! Lihat saja warnamu yang
bukan lagi warna pink, itu warna pink kusam namanya. Aku disini karena terpaksa, karena majikanku ditegur oleh Bu Guru ”
Sepatu Hitam Black Sweet mencoba menengahi, ” Hei, teman-teman sudahlah, tak
perlu bertengkar lagi. Kita ini sama-sama sepatu, sama-sama di tempat yang
benar. Nikmatilah dunia kita, dunia dimana kita bisa melihat anak-anak nyaman
dan senang memakai kita sebagai alas kakinya.”
Akhirnya Max dan Pinky berhenti bertengkar. Mereka mulai menikmati
pemandangan menarik dari posisinya masing-masing. Diiringi angin sepoi-sepoi,
mereka melihat majikannya masing-masing yang sedang asyik belajar di dalam
kelas. Karena suasana yang nyaman dan tenang, Max pun tertidur pulas. 10 menit
kemudian, Bu Guru mengumumkan bahwa waktunya istirahat, dan anak-anak boleh
bermain di luar kelas. Dengan senangnya anak-anak mulai keluar kelas. Karena
terlalu bersemangat, sampai-sampai anak-anak menyenggol rak sepatu yang
didalamnya terdapat banyak penghuni yang sudah tersusun rapi.
Brakk! Rak sepatu plastik itu akhirnya
jatuh. Isinya berhamburan keluar dan
berantakan. Sepatu-sepatu yang sudah tersusun rapi menjadi terpental kemana-mana. Pinky, Greeny, Bluety, dan si Black
Sweet terkejut bukan main.
Bluety mencoba melihat kondisi sekeliling sambil menahan sakit, ” Aduh..aduh...sakit,
ada apa ini? Apa yang terjadi?”
” Iya nih, ada
apa sih, aku sampai kaget dan terbangun.” Greeny merasakan hal yang sama.
” Teman-teman, lihat! Ternyata Rak sepatunya jatuh, makanya kita semua jadi
terpental begini, aduuuh sakit sekali.” Pinky mencoba
menjelaskan.
” Hai,
teman-teman, kalian tidak apa-apa ? ada yang terluka tidak? ” Black Sweet mencoba melihat kondisi seluruh teman-teman.
” Tidak
apa-apa, kami hanya luka kecil, nanti juga sembuh, yang penting kami tidak
rusak.” Pinky menjawab.
”Syukurlah kalau begitu. Hei, dimana Max? Ada
yang melihat Max? Black Sweet melihat sekeliling dengan khawatir, karena sepatu
luar negeri itu tidak tampak sama sekali.
Bluety
menyahut, “Tidak, dimana ya Max? Teman-teman ayo kita panggil dia. Max...Max...Max...Dimana kau? ”
Semuanya memanggil-manggil nama
Max, mereka khawatir septu itu terpental terlalu jauh atau rusak.
” Max...Max..., keluarlah, apa kau baik-baik saja? ” Max................!
Dari kejauhan, Max mulai menjawab panggilan teman-temannya. ” Teman-teman,
tolong aku...aku disini...dibawah sini. Aku terjatuh ke selokan.
Tolong...tolong...” Max berteriak keras minta tolong.
” Tunggu Max, kami akan menolongmu.” Teriak Black Sweet menenangkan. Tak lama
Ibu Guru datang dan membetulkan semua posisi sepatu-sepatu yang berjatuhan ke
lantai untuk kembali ke atas Rak. Bu Guru juga
tak lupa mengambil Max yang jatuh ke selokan. Sepasang sepatu luar negeri itu
menjadi basah, kotor, dan bau.
”Aduuh, apa yang terjadi? aku jadi sangat kotor dan bau.” Max mulai menyadari
kondisinya.
” Max, tadi rak sepatu ini terjatuh, sehingga kita semua terpental dan berantakan
keluar. Untung saja kami tidak luka parah, jadi masih bisa digunakan oleh
majikan kami.” lagi-lagi Black Sweet memberi penjelasan.
” Aku...aku...bagaimana denganku..hik...hik...tubuhku kotor, bau,
dan...dan..lampu bagian bawahku sudah tidak bisa dinyalakan lagi, bagaimana
ini?” Max melihat dirinya yang sangat menyedihkan.
” Sudahlah Max, kau seharusnya bersyukur bahwa kau masih hidup, masih bisa
digunakan oleh majikanmu, walau tak seperti dulu lagi.” Greeny mencoba
menghibur.
” Iya max, mungkin ini juga sebuah teguran untukmu, agar kau tidak lagi
bersikap sombong, walaupun kau memiliki berbagai kelebihan dibandingkan dengan
kami.” Pinky menambahkan.
Bluety pun ikut menasehati, ” Betul Max, jadi lain kali kau tidak boleh
bersikap sombong, karena kesombongan itu akan merusak dirimu sendiri. Sekarang, kau bisa merasakan sendiri akibatnya kan?”
Max tertunduk lesu, ” I...iya, aku memang salah. Aku terlalu sombong dengan
keadaan diriku sendiri. Aku selalu memandang rendah sepatu-sepatu yang lain,
aku terlalu bangga dengan hargaku yang sangat mahal, aku menyesal
teman-teman...maafkan aku ya...aku benar-benar menyesal.”
Black Sweet menyambut gembira, ” Nah, begitu dong...baguslah kalau kau sudah
sadar. Sekarang kita tidak usah memikirkan perbedaan diantara kita. Yang
terpenting adalah, kita bisa bermanfaat untuk anak-anak yang memakai kita, dan
membuat hati mereka senang dan semangat untuk berangkat ke sekolah, bukankah
itu hal yang luar biasa?
” Betul...tul.tul...Baiklah Max, kita semua akan memaafkan kamu, asal kamu
tidak lagi mengulangi hal yang sama, oke?” Pinky memberi syarat.
Max menjawab, ” Baiklah teman-teman, aku janji tidak akan bersikap sombong
lagi. Terima kasih telah memaafkanku.”
Black Sweet berkata lagi, ”Nah, Max..kami punya sebuah ucapan untukmu.”
” Apa itu?” Max penasaran.
Seluruh sepatu di Rak berkata serempak, ” Selamat bergabung di dunia
sepatu......! Ha...ha...ha....”
-SELESAI-
Catatan:
anak-anakku yang baik dan pintar,
jangan lupa meletakkan sepatu dan alas kaki di tempatnya yaaa.....rak sepatu...
Komentar
Posting Komentar