Cerpen - SEPATU YANG SOMBONG
Tak-tok..tak-tok..tak-tok….Sepatu
dengan hak setingi delapan sentimeter itu mulai berjalan mengarah ke sebuah
ruangan di sebuah gedung yang sangat strategis. Ups! Ternyata sepatu itu terus
saja berjalan. Tak melirik sedikitpun untuk berhenti sejenak dan beristirahat
di tempat yang sudah disediakan petugas gedung itu persis di depan ruangan. Rak
sepatu berwarna merah terang tentu sangat mudah terlihat oleh siapapun.
Ternyata? “ Dasar sombong! Ucap sepatu tak ber-hak alias teplek yang
berada di rak sepatu bagian teratas menggerutu. “ iya nih, Mentang –mentang
pemiliknya itu wanita pejabat, punya hak setinggi delapan sentimeter, eeeh…dia
tidak mau melepas sepatunya itu disini.” Sepatu Boot
di tingkat kedua menyahut membenarkan ucapan sepatu teplek. Sepatu olahraga
yang berada di sebelah sepatu Boot tak tahan dan berceloteh. “ Lihat
teman-teman, apa sih hebatnya sepatu itu? Dia Cuma punya hak delapan senti kok,
temanku ada yang lebih tinggi lagi hak sepatunya, lima belas sentimeter. Haa…?
Seluruh penghuni rak sepatu pun membuka mulutnya lebar-lebar. Sepatu berhak dua
sentimeter pun tak mau ketinggalan. “ Ini tidak bisa dibiarkan! Kita harus
segera bertindak. Jangan sampai sepatu wanita itu semakin tinggi hati dan tak
pernah berada di tempat ini bersama-sama dengan kita. Ini tidak adil. “
Tiba-tiba sandal jepit yang sudah
berusia lebih dari 3 tahun, lusuh, dan basah karena baru saja dipakai
pemiliknya untuk berwudhu ikut berkomentar dengan nada yang lebih lembut. “
Sudahlah teman-teman, buat apa kalian selalu menggerutu seperti itu, tidak
baik. Mungkin saja pemilik sepatu itu lupa atau tidak melihat papan
pemberitahuan untuk meletakkan alas kakinya di tempat ini. Kita lihat saja besok, sepertinya
wanita itu akan datang setiap hari ke ruangan ini.”
“ Aaaah kau ini sandal jepit, kau
terlalu sabar, terlalu pasrah, terlalu lembek, terlalu menerima semua apa yang
telah menimpamu. Lihatlah dirimu itu, apa kau tidak pernah sekalipun menuntut
pemilikmu untuk membersihkan, atau menggantikan dengan yang baru, kau sudah
terlihat sangat usang dan menyedihkan kawan.” Sepatu Boot mengeluarkan semua
unek-uneknya. Sandal jepitpun menjawab “Hmmm, sudahlah, ini adalah urusanku
dengan pemilikku, biarkan aku hidup tenang dengan ketaatan dan kebaikan pemilikku
yang selalu mengajakku ke tempat-tempat yang baik. “
“Oke..oke…stop! kita lihat saja
besok. apa yang akan dilakukan sepatu sombong itu beserta pemiliknya. Sepatu
ber-hak dua sentimeter mencoba
melerai dan menyudahi pembicaraan mereka
siang itu.
Yap! Siang itu matahari sang atom
kehidupan memang sangat terik menyinari bumi. Bola misteri kehidupan manusia
semakin terasa sesak ketika di seberang jalan dari tempatku biasanya berdiri
sangatlah ramai dengan para pelaku kebisingan dengan klakson yang mereka miliki.
Itulah kehidupan. Memang tidak selalu sesuai dengan apa yang kita harapkan dan
kita inginkan. Begitupun di dunia sepatu. Hampir setiap hari aku yang sudah
disediakan petugas kebersihan di sebuah gedung yang katanya bergerak di bidang
pendidikan, selalu sepi dari sepatu dan alas kaki yang seharusnya memang
dititipkan sejenak padaku. Mungkin tidak saja gedung ini. Entah karena lupa
atau di sengaja, sepatu-sepatu itu terus saja melewatiku tanpa mau berhenti
sejenak untuk meletakkan pada tempat yang telah ada padaku.
Kapasitasku cukup banyak. Walaupun
hanya terbuat dari papan tipis yang disusun secara bertingkat, tetapi aku dapat
menampung lebih dari lima belas pasang alas kaki. Hebat bukan! Terkadang aku
sendiri tak mengerti. Mereka lebih senang melepaskan begitu saja di depan pintu
dengan sembarangan, tanpa melihat lagi posisi alas kakinya tersebut, sudah ada
padaku atau belum. Yaah…dapat kau lihat sendiri lah…banyak sekali yang
membiarkan sepatu atau sandalnya tercecer entah kemana. Hilang sebelah pun rasanya
mereka tidak pernah peduli. Mereka hanya ingin cepat sampai ke tujuan, ingin
cepat-cepat menuju ruangan yang diinginkan, ingin sekali segera melakukan
aktivitas yang katanya dalam rangka pendidikan.
Huh! andai saja aku bisa berteriak
pada mereka. Apa salahnya sih sekedar berhenti sejenak? Kupikir tak sampai 5
menit pun alas kaki itu akan dapat kusimpan dengan rapi dan baik. Kujamin tak
akan ada yang tercecer atau tertinggal pasangannya selama tak ada tangan-tangan
jahil yang mengacaukan susunan penghuniku. Apa aku tak cukup menarik buat
mereka? Padahal aku sudah di disain dengan berbagai warna-warni yang mencolok
dan menarik. Merah, kuning, hijau, hmmm….entahlah. Hidup ini memang aneh.
Sudahlah, kita lihat saja besok. Mungkin aku lebih beruntung.
Raja kegelapan pun datang. Tak ada
satupun yang tersisa di tempat ini. Hanya ada sedikit tanah liat dan pasir yang
mereka tinggalkan untukku. Bahkan jika musim hujan tiba, aku bisa mendapatkan
tiga kali lipat dari yang kudapatkan hari ini. Untunglah ada Pak Iwan yang
selalu membersihkan aku. Aku memang beruntung bisa mengenalnya. Dia sangat
rajin dan cekatan membersihkanku tiap hari. Semua penghuniku telah kembali
bersama pemiliknya ke rumah masing-masing. Aku
kesepian lagi.
Ayam jantan mulai berkokok, tanda pagi
hari telah tiba. Benih harapan manusia kembali ditanamkan ke seluruh penjuru
dunia. Begitu pula harapanku. Semoga saja hari ini akan lebih banyak yang
dengan senang hati meletakkan alas kakinya padaku. Aku pun akan senang sekali
menjaga dan memeliharanya hingga pemiliknya datang kembali padaku. Satu persatu
para sepatu dengan berbagai model dan merk itu menghampiriku. Aku sungguh
senang mereka telah kembali. Sepatu ber-hak dua senti mulai menyapa.
“ Selamat pagi semuanya….” Serempak seluruh penghuniku menyahut.
“ Selamat pagi …..” .Sepatu Boot yang sejak pukul tujuh pagi sudah ada padaku berkata. “ Hai..teman-teman, apakah kalian melihat sepatu yang sombong itu? Itu loh sepatu wanita yang berhak delapan sentimeter….sudah datang belum?” Sepatu teplek menjawab. “ Belum, dia belum datang. Mungkin sebentar lagi, kita tunggu saja.” Tiba-tiba sepatu olahraga berteriak . “ Hai lihat! Itu dia sepatunya, dia sedang berjalan mengarah pada kita.”
“Aku yakin, pemiliknya pasti tidak akan meletakkan sepatu itu disini. Lihat saja dari penampilannya…hmmm…sepatu dan pemiliknya sama-sama sombong!” Ujar sepatu ber-hak dua sentimeter.
“ Selamat pagi semuanya….” Serempak seluruh penghuniku menyahut.
“ Selamat pagi …..” .Sepatu Boot yang sejak pukul tujuh pagi sudah ada padaku berkata. “ Hai..teman-teman, apakah kalian melihat sepatu yang sombong itu? Itu loh sepatu wanita yang berhak delapan sentimeter….sudah datang belum?” Sepatu teplek menjawab. “ Belum, dia belum datang. Mungkin sebentar lagi, kita tunggu saja.” Tiba-tiba sepatu olahraga berteriak . “ Hai lihat! Itu dia sepatunya, dia sedang berjalan mengarah pada kita.”
“Aku yakin, pemiliknya pasti tidak akan meletakkan sepatu itu disini. Lihat saja dari penampilannya…hmmm…sepatu dan pemiliknya sama-sama sombong!” Ujar sepatu ber-hak dua sentimeter.
Pak Iwan yang sedang menyapu lantai
teras ruangan menyapa pemilik sepatu sombong itu, “ Mohon maaf bu, silahkan
sepatunya untuk diletakkan di tempat yang telah kami sediakan. Ini adalah
peraturan disini, untuk menjaga kebersihan dan ketertiban ruangan, dan agar ibu
tetap nyaman di sini. Tenang saja, sepatu ibu tidak akan hilang, saya akan
selalu menjaga setiap sepatu dan alas kaki yang telah tersimpan disini.”
Dengan marah Ibu itu menjawab. “ Hei, bapak
tua! kau tidak tahu siapa aku? Aku ini orang penting, orang yang sangat
berpengaruh bagi kelangsungan kegiatan disini, jadi kau tidak perlu mengaturku, mengerti!”
“ Nah, kau lihat sendiri bukan? Wanita
itu menolak meletakkan sepatunya. Lihatlah
Sepatu itu,
betapa sombongnya dia.” Ketus sepatu Boot. Sepatu
ber-hak dua sentimeter berkata, “
kasihan Pak Iwan, dia sudah memberi tahu dengan baik
malah dimarahi.”
“ Maaf ibu, saya hanya
menjalankan tugas, bahwa semua orang yang ingin masuk ke dalam ruangan ini
harus meletakkan alas kakinya di luar, di rak sepatu yang telah kami sediakan.”
Pak Iwan mencoba membujuk lagi.
Dengan sangat terpaksa dan wajah tak
suka akhirnya Ibu itu mencoba melepaskan satu persatu alas kakinya. Sepasang
sepatu mahal berwarna kuning keemasan dengan aksen pita kecil di salah satu
sudutnya, bermerk luar negeri dengan model terbaru. Hak sepatu setinggi delapan
sentimeter pun ikut melengkapi keanggunan sepatu tersebut, yang layak menghiasi
kaki seorang wanita. Kemudian Ibu yang sombong itu membiarkan sepatunya di
depan pintu dan berkata kepada pak Iwan, “ Hai bapak tua, kau saja yang menaruh
sepatuku di rak ya, aku sangat sibuk, tidak ada waktu.”
Pak Iwan
menanggapi, “Baik bu, terima kasih.”
“ Awas, jaga sepatuku dengan
baik, jangan sampai kotor, rusak, apalagi hilang, Mengerti!” Ibu itu masih saja
berceloteh tentang sepatunya. Dia pun segera masuk ke ruangan. Pak Iwan
menjawab singkat, “Baik bu..”
Pak Iwan segera meletakkan sepatu
mahal itu di rak yang paling bawah, dia berpikir agar pemiliknya lebih mudah
menemukan dan mengambil kembali sepatu miliknya. Kemudian dia pergi melanjutkan
tugasnya untuk membersihkan taman. Belum lama berselang setelah sepatu bermerk
luar negeri itu tersimpan, tiba-tiba “Krekk...krekk...Brak!” Aku yang terbuat
dari papan tipis bertingkat lima sepanjang dua meter tak kuat menahan beban
yang terlalu banyak dan akhirnya jatuh. Penghuninya pun berhamburan keluar dan
terpental tak beraturan. Pak Iwan tersentak kaget dan menghampiriku yang sudah
lemah tak berdaya. Dia mencoba mengangkatku dengan sekuat tenaga, mengembalikan
posisinya seperti semula, dan menambahkan beberapa paku di keempat sisiku. Aku
lega. Kini aku merasa lebih kuat dari sebelumnya.
Hei, bagaimana dengan penghuniku?
Sepatu-sepatu yang sudah tersusun rapi menjadi berserakan dilantai. Mataku
mencari sosok sepatu mahal yang kuning keemasan itu. Kemana dia? Pak Iwan
segera merapihkan semua sepatu dan alas kaki untuk kembali padaku.
Kudengar dari kejauhan suara mengaduh kesakitan. “ duuh….aduuuh, sakit sekali. Apa yang terjadi? Dimana aku?” sepatu mahal itu mulai tersadar.
Kudengar dari kejauhan suara mengaduh kesakitan. “ duuh….aduuuh, sakit sekali. Apa yang terjadi? Dimana aku?” sepatu mahal itu mulai tersadar.
Sepatu Boot yang sudah kembali ke tempatnya berteriak, “ Hai sepatu sombong! Kau
baru saja tertimpa musibah. Rak sepatu ini baru saja jatuh dan mengeluarkan
kami para penghuninya. Syukurlah kami hanya luka kecil, itu hal yang biasa buat
kami.”
Sepatu keemasan mulai memeriksa keadaan dirinya dan langsung berteriak. “AAAAAAAHHH…..!!! Tidak! Tidak mungkin. Hal ini tidak boleh terjadi padaku. Hak sepatuku……, Oooh tidak! Aku pincang! apa yang harus kulakukan?”
Sepatu keemasan mulai memeriksa keadaan dirinya dan langsung berteriak. “AAAAAAAHHH…..!!! Tidak! Tidak mungkin. Hal ini tidak boleh terjadi padaku. Hak sepatuku……, Oooh tidak! Aku pincang! apa yang harus kulakukan?”
Rupanya salah satu dari hak sepatu
setinggi delapan sentimeter itu patah akibat jatuhnya rak tadi. Ketika berjalan
pun pasti akan pincang karena tidak sama tingginya. Sandal jepit tua yang sejak
tadi mengamati mulai berkata, “ Mungkin ini satu teguran untukmu sepatu emas,
kau tidak boleh sombong hanya karena kau lebih mahal, lebih bagus, atau lebih
modern dari kami semua. Kau harus tetap mengingatkan pemilikmu untuk
meletakkanmu disini, di rak sepatu ini, karena memang inilah tempat kita yang
sebenarnya.”
Sepatu keemasan mulai tersadar akan kesalahannya. Sambil terisak dan menahan sakit, dia berkata, “ Iya, ini memang salahku. Aku selalu merasa lebih baik, lebih mahal, lebih bagus dari semua sepatu yang ada disini. Maafkan aku teman-teman…..aku janji tidak akan bersikap sombong lagi.”
Sepatu keemasan mulai tersadar akan kesalahannya. Sambil terisak dan menahan sakit, dia berkata, “ Iya, ini memang salahku. Aku selalu merasa lebih baik, lebih mahal, lebih bagus dari semua sepatu yang ada disini. Maafkan aku teman-teman…..aku janji tidak akan bersikap sombong lagi.”
Semua sepatu yang sudah berjajar
rapi menjawab, “ Iya…..sepatu emas, kau sudah kami maafkan. Sekarang kita
berteman, selamat datang di dunia sepatu, ha..ha..ha….”
-SELESAI-
Komentar
Posting Komentar