naskah komik islami-AIMAN SANG PENGHAFAL AL-QURAN
Suatu sore di lapangan bola sebuah perumahan sederhana.
“Gooool! Yes…berhasil. Teriak Aiman.”
Wajah Aiman berbinar karena bangga berhasil memasukkan bola ke gawang lawan.
“Hebat kamu Aiman.” Kata Hilman.
Dari seberang lapangan terdapat mushola Nurul Iman. Terdengar cukup lantang dari mushola
itu suara anak-anak yang sedang melantunkan bacaan Alquran.(“Bismillaahirrohmaanirrohiim..QulHuwalloohuahad,
Alloohusshomad, lam yalidwalamyuulad, walamyakullahuukufuwanahad).
“Berisik amat sih di Mushola.” Kata Aiman pada Hilman. (memasang muka sinis)
“Huss, itu anak-anak lagi ngaji.”Jawab Hilman. (sambil menunjuk ke arah Mushola)
“Kok suaranya keras sekali ya? Kan kita lagi
main bola jadi ga konsen nih.” (memasang muka marah dan kesal)
“Yaa..namanya juga pengajian anak-anak, Man. Tiap sore sekarang ada pengajian anak-anak di mushola Nurul Iman.” Hilman menjelaskan.
“Oh..pantas. Tapi kan bias suaranya dikecilkan sedikit! Ga usah pake mikroponlah..” (Aiman masih kesal)
“Sudah sudah..protes terus nih.
Ayo lanjutin main bolanya.” Ajak Hilman.
Ayo! Kata Aiman.
Aiman, Hilman, dan teman-teman lainnya meneruskan main bola di lapangan.
Pengajian anak-anakpun tetap berlangsung dengan lancar. Menjelang maghrib, pengajian selesai.
Keesokan harinya.
Sore hari setelah waktu ashar.
Aiman, Hilman, dan beberapa teman lainnya
main bola lagi di lapangan.
Sedang asyik-asyiknya
main bola, terdengar lagi lantunan ayat suci Alquran dari Mushola Nurul Iman.
Aiman marah.
“Heei!!
Berisik! Kalau ngaji ga usah pakai mikropon doooong..!” teriak Aiman ke arah Mushola.
Hilman dan
teman-teman lainnya terkejut.
“Ssst..Aiman.
Jangan teriak begitu. Malu..ga sopan.” kata Hilman (sambil menutup mulut Aiman
dengan tangannya).
“Aku mau ke
Mushola. Aku akan bilang ke
anak-anak yang ngaji disana kalau mengaji ga perlu teriak-teriak, bikin ribut
saja!” Kata Aiman.
Hilman melongo. “Haaa….? Serius kamu man? Nanti malah kamu
yang bikin ribut di Mushola. Jaangan dehh.”
“Alahh..ga usah ikut campur! Lihat saja, aku pasti bikin
anak-anak di sana berhenti mengaji. Saya mau ajak main bola aja. Hahahaha..”
Kata Aiman dengan nada sombong.
Aiman berjalan ke Mushola. Hilman dan teman-temannya mengikuti dari belakang. Penasaran apa yang akan
dilakukan Aiman sekaligus khawatir terjadi sesuatu pada jagoan main bola
tersebut.
Sesampainya di Mushola, pengajian baru saja selesai.
Anak-anak beranjak pulang ke rumah masing-masing. Aiman langsung menegur salah
satu anak yang ikut mengaji, namanya Salman.
Aiman menepuk bahu Salman dari belakang. Akhirnya mereka
ngobrol sambil berjalan kea rah rumah Salman.
“Hei, kamu! Siapa namamu?”
“Salman kak. Nama kakak siapa?”
“Saya Aiman, jagoan main bola di sini.Ngapain kamu
ikut-ikutan ngaji? Berisik tau.” Kata Aiman dengan nada kesal.
“Kak Aiman ikutan ngaji aja yuk, menghafal Al-Quran seperti
anak-anak disini. Seru loh.”Ajak Salman.
“Gak mau. Enakan juga amin bola, lebih seru dan lebih
menantang. Wee..” Aiman mengejek.
Menghafal Alquran di sini juga seru abis kak. Kita diajarin
cara menghafal Al-Quran dengan senang hati. Pasti kakak suka.”
“Alaah..bosen. saya ga suka mengaji. Ga penting! Kamu kok
mau sih ngaji di tempat kecil begini?”
“saya mau memberikan mahkota sama jubah yang bagus kak, buat
orangtua saya.”
“Gampang, tinggal beli aja di pasar, kasih deh orangtua
kamu. Beres kan?”
“Ayah Ibu saya sudah meninggal dunia , kak. “ Kata Salman
sambil berkaca-kaca.
Deg! Jantung Aiman seakan berhenti. Mulut tercekat hingga
tak mampu lagi berkata-kata.
“Ma..maaf ya Salman. Lalu, bagaimana caranya kamu mau memberikan
mahkota dan jubah yangbagus? Tanya Aiman.
“Dengan menghafal Al-Quran kak.” Jawab Salman.
“Loh? Kok bisa?” Aiman bingung penasaran.
“Di akhirat nanti, orangtua yang anak-anaknya menghafal
Al-Quran akan dipakaikan mahkota dan jubah yang sangaat bagus.” Salman
menjelaskan.
“Lalu?” Kata Aiman
“Karena ayah ibuku sudah meninggal, jadi aku mau memberikan
hadiahnya di akhirat aja. Kan udah ga bisa ketemu lagi.” Setitik air mata
keluar dari sudut mata Salman. Cepat-cepat dia menghapusnya karena malu.
“Kamu hebat banget, Salman. Saya tidak bisa seperti kamu.
Ayah ibuku marah karena aku lebih memilih main bola daripada mengaji.” Aiman
tertunduk lesu.
“Bisa kak! Mulai besok, kita mengaji bersama yuk.” Ajak
Salman.
“Serius? Kamu mau bantu aku juga menghafal Al-Quran?” Tanya
Aiman.
“Tentu saja. Tapi kita tukeran ya kak?” Jawab Salman.
“Maksudmu?” Aiman bingung.
“Aku minta tolong ajari main bola yang keren. Tapi hari
minggu saja. Gimana?” Salman menawarkan.
“Oh…beress..serahkan padaku. Aku jagonya, hahaha. “ Aiman
tertawa puas.
“Alhamdulillah, terima kasih
ya kak Aiman.” Jawab Salman.
“Sama-sama, Salman. Mulai hari ini, namaku Aiman sang
penghafal Al-Quran. Yess!” (berkata dengan bangga dan penuh semangat)
Siapa yang membaca Al Qur’an, mempelajarinya, danmengamalkannya,
makadipakaikanmahkotadaricahayapadaharikiamat. Cahayanyaseperticahayamataharidankedua
orang tuanyadipakaiakanduajubah (kemuliaan) yang tidakpernahdidapatkan di
dunia.Keduanyabertanya, “Mengapa kami dipakaikanjubahini?”Dijawab,”Karena
kalian berduamemerintahkananak kalian untukmempelajari Al Qur’an.” (HR.
Al-Hakim)
Komentar
Posting Komentar