Antara CUCUR dan JUJUR
Oleh : Siti Nurhasanah
Apa bedanya
JUJUR dengan CUCUR? Sebuah pertanyaan menarik dan menggelitik membuat setiap
orang yang membaca atau mendengar heran dan mengerutkan dahi. Mengapa harus
dibandingkan dengan kue CUCUR ya? Apabila dibandingkan berdasarkan
ketatabahasaan, kedua kata tersebut sama-sama memiliki lima huruf. Bedanya kata
JUJUR memiliki huruf pertama dan ketiga J, sedangkan CUCUR memiliki huruf
pertama dan ketiga C. Tipis sekali memang, tapi itulah yang membuat menarik.
Kue CUCUR yang legit dan manis itu akan sangat nikmat jika disantap sebagai
teman minum kopi atau teh. Sedangkan JUJUR, tentu akan terasa manis juga jika
digunakan, diaplikasikan, serta dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari di
Negeri ini. Alangkah miris melihat potret buram tentang kejujuran di Indonesia.
Mulai dari pengemis jalanan yang ’pura-pura’ sakit / cacat, pedagang yang
mengurangi timbangan, pelaku bisnis yang ’main curang’, hingga para koruptor,
baik kelas teri maupun kelas kakap yang dengan bebas melangkah dan beraksi di
seluruh penjuru Nusantara.
Ada apa dengan
kejujuran di Negeri kita? Sepertinya telah menjadi sesuatu yang sangat langka
dan asing terdengar. Jika ada orang yang bersikap jujur, dianggap aneh. Jika
ada orang yang mencoba mengembalikan uang atau sesuatu yang memang bukan
miliknya, pasti dianggap munafik atau sok. Kebohongan dalam bentuk apapun
seperti sesuatu yang sangat wajar terjadi, walaupun sangat merugikan.
Sebenarnya umat islam memiliki idola yang sangat pantas dan patut untuk
dicontoh dalam hal kejujuran ini. Siapa lagi kalau bukan nabi akhir zaman
Muhammad SAW. Dari perkataan, tingkah laku dan gerak-gerik kesehariannya dapat
kita lihat bagaimana beliau memang selayaknya mendapat gelar Al-Amin (yang
dapat dipercaya). Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dikatakan
bahwa :
” Abdullah bin
Mas’ud berkata: Bersabda Rasulullah : Kalian harus jujur karena sesungguhnya
jujur itu menunjukan kepada kebaikan dan kebaikan itu menunjukkan kepada
jannah. Seseorang senantiasa jujur dan berusaha untuk jujur sehingga ditulis di
sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian dusta karena
sesungguhnya dusta itu menunjukkan kepada keburukan dan keburukan itu
menunjukkan kepada neraka. Seseorang senantiasa berdusta dan berusaha untuk
berdusta sehingga ditulis disisi Allah sebagai seorang pendusta” (HR Muslim)
Shohih Muslim hadits no : 6586.
Jelas sekali
bukan? Bagi seorang muslim yang telah meyakini bahwa Rasulullah Muhammad SAW
adalah utusan Allah, tentu dapat melihat secara gamblang pentingnya sikap jujur
dalam kehidupan manusia, di dunia dan akhirat. Secara logika hadits ini dapat
dengan mudah kita ambil hikmahnya. Ternyata setiap perbuatan jujur yang
seseorang lakukan akan membawa orang tersebut kepada sebuah kebaikan, dan akan
menghantarkannya menuju syurga. Subhanallah, indah sekali bukan? Kita
ambil satu ilustrasi seorang pedagang daging sapi. Apabila pedagang ini selalu
bersikap jujur dalam setiap transaksinya, tidak mengurangi timbangan agar
memiliki untung besar, tidak menaikkan harga sembarangan, maka sangat diyakini
bahwa pedagang ini akan sukses di kemudian hari. Mengapa? Pertama, dia akan
disukai banyak pelanggan, kemudian hal itu akan menarik magnet rezeki dan
keberkahan yang jauh lebih besar lagi bagi keuntungan perdagangannya. Para
pembeli akan segera beralih kepada si pedagang yang jujur ini. Tinggal menunggu
waktu, setelah semua pembeli yang membutuhkan daging sapi hanya membeli dari
satu pedagang yang jujur ini, apa yang terjadi? Kebaikan dunia akhirat pun
ditangan. Rezeki berlimpah, kebaikan bersikap jujur berpahala, dan Insya Allah
dapat meraih Syurga.
Bagaimana jika
ada seorang pedagang lagi yang bersikap sebaliknya? Dia tidak segan-segan
mengurangi timbangannya, tidak malu menaikkan harga, menjual daging sapi dengan
kualitas sangat rendah tetapi harga yang tinggi. Apa yang akan terjadi? Benar.
Untuk pertama kali mungkin pembeli tidak terlalu merasakan. Namun jika pembeli sudah
mendapati kebohongan sekecil apapun, pasti pedagang itu akan ditinggalkan
jauh-jauh. Fatalnya lagi, para pembeli itu akan berbicara kepada calon pembeli
lainnya utnuk tidak membeli di tempat yang sudah merugikannya. Walhasil,
Pedagang itu mendapat kerugian, mendapat keburukan karena sifatnya, serta satu
paket menuju ke Neraka. Na’udzubillah. Sifat fitrah manusia memang tidak
suka dibohongi, dalam bentuk apapun. Oleh karena itu, modal utamanya adalah
dengan bersikap jujur, baik dalam perkataan maupun perbuatan. Bukankah
pengertian dari Iman itu sendiri merupakan refleksi dari sikap jujur?
Mengucapkan dengan lisan, membenarkan dalam hati, dan melaksanakan dengan
perbuatan. Memang tidak mudah untuk selalu jujur, namun perlu usaha dan ikhtiar
yang optimal dan kita biasakan dari hal-hal yang kecil dalam kehidupan kita
sehari-hari. Berbicara, berbuat, berpendapat, bersaksi di pengadilan, dan lain
sebagainya.
Lagi-lagi,
bersikap jujur memanglah tidak mudah. Perlu kerja
ekstra keras dari seluruh elemen Bangsa Indonesia untuk memulainya. Paling
tidak mulailah dari diri sendiri, keluarga, lingkungan masyarakat, dan
mudah-mudahan menjadi sebuah bola salju yang terus meluncur, menggulung, dan
melesat menjadi jauh lebih besar, hingga mampu menghancurkan berbagai kebohongan
dan kedustaan di sekelilingnya. Harapan besar menanti di setiap insan Negeri
ini, baik orang kecil maupun pejabat, baik pedagang ataupun pelaku bisnis,
laki-laki atau perempuan, semuanya harus mendukung dan berusaha melaksanakan
gerakan hidup JUJUR. Agar suatu hari nanti, JUJUR pun akan senikmat dan semanis
kue CUCUR, yang dapat dengan mudah dan murahnya diperoleh dan dinikmati
bersama. Harapan itu masih ada, marilah kita awali saat ini juga.
Komentar
Posting Komentar