MEMBACA itu ASYIK
Oleh: Siti Nurhasanah, S.Pd.I
Guru SDIT NurulFikri - Depok
snurhasanah11783@gmail.com - 081514237784
istanaberbagi.blogspot.co.id
Disusun untuk mengikuti lomba penulisan artikel ilmiah populer
Sekolah Dasar tahun 2017 yang diselenggarakan oleh Kementrian Pendidikan dan
Kebudayaan
I.
Pendahuluan
Anda guru
sekolah dasar? Atau memiliki anak yang berusia 7-12 tahun yang duduk di bangku
sekolah dasar? Sulit sekali mengajak anak-anak untuk membaca buku? menjadikan
membaca buku sebagai suatu budaya yang melekat pada pribadi setiap anak seakan
hanya mimpi? Mari kita renungkan bersama. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ‘budaya’
artinya pikiran ; akal budi; sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sudah
sukar dirubah. ‘Membaca’ artinya melihat serta memahami isi dari apa yang
tertulis ( dengan melisankan atau hanya dalam hati) ; mengeja atau melafalkan apa
yang tertulis; mengucapkan.
Bagaimana agar
anak-anak usia sekolah dasar dapat tertarik membaca? Lalu dapat membaca berbagai
judul buku yang bermanfaat untuk mereka, hingga mereka merasa membaca itu asyik.
Kata ‘asyik’
dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya dalam keadaan sibuk (melakukan sesuatu dengan gemarnya) ; sangat terikat hatinya; penuh perhatian; senang; sangat suka (gemar).
Ade Husnul dan
Muhammad Ihsan Nugraha dalam buku ‘Menguasai Teknik Membaca Memindai’
menyatakan bahwa pada dasarnya walaupun statistik mencatat 84% penduduk
Indonesia sudah melek huruf, namun menumbuhkan budaya membaca masih merupakan
hal yang relatif cukup sulit dalam dunia pendidikan di Indonesia. Oleh karena
itu, perlu adanya kerjasama dari seluruh elemen masyarakat. Tidak hanya dari
sekolah, namun gerakan yang dilakukan di rumah dan masyarakat juga menjadi
tolok ukur keberhasilan menumbuhkan minat membaca warga Indonesia.
II.
Uraian masalah
1.
Survei UNESCO : Minat Baca Masyarakat Indonesia 0,001 persen.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) terus menggenjot minat
baca masyarakat khususnya peserta didik. Berdasarkan survei UNESCO minat baca masyarakat
Indonesia baru 0,001 persen. Artinya, dalam seribu masyarakat hanya ada satu
masyarakat yang memiliki minat baca.
Kepala Biro Komunikasi Layanan Masyarakat (BKLM) Kemendikbud Asianto
Sinambela menegaskan, minat baca literasi masyarakat Indonesia masih sangat
tertinggal dari negara lain. Dari 61 negara, Indonesia menempati peringkat 60.
Salah satu terobosan yang dilakukan pemerintah adalah dengan menerbitkan
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 Tahun 2015
Tentang Penumbuhan Budi Pekerti. “Permendikbud itu diwujudkan dengan wajib
membaca 15 menit sebelum waktu pembelajaran dimulai, khususnya bagi siswa SD,
SMP atau SMA,” bebernya.
Data BPS 2006 menunjukkan tingkat minat baca masyarakat usia diatas 15 th
menunjukkan 55 persen masyarakat lebih tertarik membaca koran, 29 persen
membaca majalah, 16 persen membaca buku cerita, 44 persen membaca buku
pelajaran sekolah. Sementara jumlah masyarakat usia 15 hingga 59 tahun yang
buta aksara sebanyak 5,9 juta atau 3,70 persen dari 81 juta orang. (nas/ray/jpnndam/gob)
sumber : http://gobekasi.pojoksatu.id/2016/05/19/survei-unesco-minat-baca-masyarakat-indonesia-0001-persen/
2.
Persentase penduduk buta huruf di indonesia
Berikut ini
data dari Badan Pusat Statistik untuk persentase penduduk buta huruf tahun 2016
di Indonesia
Provinsi
|
2016
|
||
Persentase
Penduduk Buta Huruf (Persen)
|
|||
15+
|
15-44
|
45+
|
|
ACEH
|
2.26
|
0.22
|
7.32
|
SUMATERA UTARA
|
1.12
|
0.37
|
2.71
|
SUMATERA BARAT
|
1.19
|
0.17
|
3.06
|
RIAU
|
0.93
|
0.20
|
2.90
|
JAMBI
|
1.99
|
0.35
|
5.66
|
SUMATERA SELATAN
|
1.54
|
0.35
|
4.18
|
BENGKULU
|
2.25
|
0.36
|
6.55
|
LAMPUNG
|
3.22
|
0.21
|
9.23
|
KEP. BANGKA BELITUNG
|
2.34
|
0.81
|
5.67
|
KEP. RIAU
|
1.16
|
0.28
|
4.10
|
DKI JAKARTA
|
0.36
|
0.08
|
0.99
|
JAWA BARAT
|
1.78
|
0.23
|
4.90
|
JAWA TENGAH
|
6.70
|
0.36
|
15.75
|
DI YOGYAKARTA
|
5.41
|
0.13
|
12.63
|
JAWA TIMUR
|
8.41
|
1.09
|
18.84
|
BANTEN
|
2.45
|
0.19
|
8.30
|
BALI
|
7.18
|
0.51
|
18
|
NUSA TENGGARA BARAT
|
12.94
|
3.26
|
33.47
|
NUSA TENGGARA TIMUR
|
8.48
|
3.06
|
19.42
|
KALIMANTAN BARAT
|
7.61
|
1.88
|
20.43
|
KALIMANTAN TENGAH
|
1.03
|
0.19
|
3.19
|
KALIMANTAN SELATAN
|
1.72
|
0.11
|
5.21
|
KALIMANTAN TIMUR
|
1.18
|
0.12
|
3.82
|
KALIMANTAN UTARA
|
4.95
|
1.31
|
14.41
|
SULAWESI UTARA
|
0.21
|
0.15
|
0.32
|
SULAWESI TENGAH
|
2.49
|
0.82
|
5.99
|
SULAWESI SELATAN
|
8.48
|
2.07
|
20.81
|
SULAWESI TENGGARA
|
5.75
|
1.19
|
16.80
|
GORONTALO
|
1.56
|
0.49
|
3.86
|
SULAWESI BARAT
|
7.25
|
3.06
|
17.36
|
MALUKU
|
1.06
|
0.76
|
1.75
|
MALUKU UTARA
|
1.33
|
0.36
|
3.83
|
PAPUA BARAT
|
2.95
|
1.97
|
5.77
|
PAPUA
|
28.98
|
28.21
|
31.41
|
INDONESIA
|
4.62
|
1
|
11.47
|
Sumber : https://www.bps.go.id/linkTableDinamis/view/id/1056
III.
Analisis masalah
Minat membaca yang rendah juga disebabkan oleh beberapa faktor
penghambat yang mempengaruhinya seperti banyaknya jenis hiburan, permainan (game),
televisi, gadget, mall, supermarket yang ternyata berhasil
menyedot perhatian lebih besar daripada buku.
Adapun persentase tertinggi dari penduduk yang buta aksara yang
berusia diatas 15 tahun di Indonesia adalah Papua. Disini perlu kerja keras dan
kerjasama dari semua komponen. Pemerintah dengan program ‘mobil pintar’ dan
‘motor pintar’ bisa dijalankan kembali dengan beberapa inovasi yang sesuai
hingga dapat dimanfaatkan juga di daerah- daerah terpencil. Perlu juga adanya pengawasan penggunaan fasilitas mobil dan
motor pintar tersebut agar semua daerah di pelosok Indonesia dapat
menikmatinya.
IV.
Solusi / Alternatif penyelesaian masalah
Membaca itu
ASYIK. Kata ‘ASYIK’ disini merupakan singkatan dari Amati karakteristik siswa Sekolah
Dasar ; Siapkan fasilitas yang memadai; Yakinkan semua komponen ikut terlibat;
Identifikasi dengan nama yang unik dan menarik; Kegiatan membaca yang variatif.
Lalu, bagaimana langkah-langkahnya? Berikut penjelasannya.
1 1. Amati karakteristik siswa Sekolah Dasar
Adapun untuk karakteristik anak SD menurut beberapa ahli,
diantaranya sebagai berikut :
Piaget (Dalam Snowman, 2010)
Menurutnya, karakteristik anak sekolah dasar percaya
berkembang lebih cepat ketika mereka berinteraksi satu sama lain.
Suyadi (2009).
Arti karakteristik anak-anak usia sekolah dasar adalah anak yang suka bermain. Dunia anak adalah dunia bermain dan belajarnya anak sebagian besar melalui permainan yang mereka lakukan. Bermain menurut Ade (2011),
memiliki fungsi sebagai sarana refreshing untuk memulihkan tenaga seseorang
setelah lelah bekerja dan di hinggapi rasa jenuh.
2.
Siapkan fasilitas yang memadai
a) Perpustakaan
( sekolah dan kelas)
Menurut Andri Priyatna dalam buku Parenting for Character
Buiding menyatakan bahwa
salah satu langkah untuk menanamkan hobi membaca pada anak usia sekolah adalah dengan
sering-sering berkunjung ke perpustakaan. Pastikan seluruh sekolah dasar memiliki
perpustakaan lengkap dengan buku-buku yang dibutuhkan. Minimal di kelas masing-masing
terdapat perpustakaan mini agar memancing siswa untuk membaca setiap hari.
salah satu langkah untuk menanamkan hobi membaca pada anak usia sekolah adalah dengan
sering-sering berkunjung ke perpustakaan. Pastikan seluruh sekolah dasar memiliki
perpustakaan lengkap dengan buku-buku yang dibutuhkan. Minimal di kelas masing-masing
terdapat perpustakaan mini agar memancing siswa untuk membaca setiap hari.
b) Pojok baca
Pojok baca ini bisa
dibuat sederhana. Dengan 1 rak buku, 1 meja dan beberapa kursi dibuat
melingkar sudah cukup untuk menjadi pojok baca. Bisa juga ditambahkan kata-kata
motivasi untuk datang ke pojok baca tersebut. Misalnya ‘Anda merasa ragu-ragu?
Bacalah buku, anda akan banyak tahu. ’
melingkar sudah cukup untuk menjadi pojok baca. Bisa juga ditambahkan kata-kata
motivasi untuk datang ke pojok baca tersebut. Misalnya ‘Anda merasa ragu-ragu?
Bacalah buku, anda akan banyak tahu. ’
c) Banner / poster motivasi membaca
Poster motivasi membaca
bisa dibuat dengan banner ukuran 100 cm x 100 cm. Isi banner
tersebut merupakan kata-kata motivasi agar seluruh warga sekolah senang membaca.
Pilihlah kata-kata motivasi yang unik dan menarik untuk dibaca semua orang. Misalnya
dengan kalimat berima atau pantun seperti berikut ini :
tersebut merupakan kata-kata motivasi agar seluruh warga sekolah senang membaca.
Pilihlah kata-kata motivasi yang unik dan menarik untuk dibaca semua orang. Misalnya
dengan kalimat berima atau pantun seperti berikut ini :
d)
PerLing (perpustakaan keliling)
Mobil pintar dan motor pintar yang telah ada butuh inovasi baru dan
perawatan yang lebih optimal. Mobil PerLing bisa dilengkapi dengan sound system
yang dapat memperdengarkan rekaman suara tentang ajakan membaca buku serta
manfaatnya. Layaknya sebuah gerobak jajanan yang selalu berbunyi ketika lewat
di depan rumah kita. Mobil PerLing juga bisa melakukan hal yang sama, bahkan
lebih baik. Contoh suara rekaman mobil
PerLing yang dapat di perdengarkan : “Kalau kau suka hati baca buku..prok..prok..prok..Kalau
kau suka hati baca buku..prok..prok..prok..kalau kau mau tahu perbanyak baca
buku, banyak membaca jadi banyak ilmu.prok..prok..prok” . Bisa diselingi
juga dengan lagu sebagai berikut :
Judul : Ayo Baca Buku
Irama : Potong Bebek
Angsa
Ayo baca buku..Agar banyak ilmu..Matikan tv mu..Simpan gadgetmu
Ajak temanmu..Bacalah buku..agar kau banyak tahu banyak ilmu..
Ajak temanmu..bacalah buku..agar kau banyak tahu banyak ilmu..
Rekaman suara tersebut bisa di stel berulang –ulang untuk menarik
perhatian. Tambahkan pula e-book, akses internet pintar, permainan menyusun
kata/kalimat secara digital, teka-teki silang, kuis online dari berbagai
wacana/buku, dan tentunya ada reward bagi yang dapat menyelesaikannya.
e)
Kelas bahasa
Isi dari kelas bahasa tersebut adalah berbagai macam permainan
untuk memancing anak agar tertarik untuk membaca. Misalnya, permainan acak
huruf, acak kata, susun kalimat, kuis membaca online, puzzle huruf, membaca
dari gambar yang disediakan, dan lain sebagainya. Dengan adanya kelas bahasa
ini, diharapkan anak-anak di sekolah tidak jenuh dan bosan ketika melakukan
aktifitas membaca karena dilakukan sambil bermain.
3. Yakinkan semua komponen ikut terlibat
a)
Guru
One Month One Book. Setiap
guru diajak untuk membaca buku yang bermanfaat sebanyak satu buku setiap bulan.
Setelah membaca satu buku, guru diajak juga untuk menjelaskan isi buku yang
telah dibacanya tersebut dalam sebuah sesi BSG, “Berbagi Sesama Guru” pada
setiap akhir bulan.
b)
Siswa : Duta baca di sekolah
Duta baca ini bisa dipilih dari setiap level kelas 1-6. Bekerjasama
dengan pustakawan dan juga wali kelas di sekolah tersebut. Duta baca ini
bertugas memotivasi teman-teman di level kelasnya untuk datang ke perpustakaan
dan dan siap menjawab jika ada pertanyaan tentang buku-buku yang telah
dibacanya. Pihak sekolah diharapkan dapat memberikan dukungan kepada semua duta
baca ini dengan memberikan hadiah/reward yang bermanfaat.
c)
Kepala sekolah
Langkah strategis kepala sekolah bisa dilakukan dengan menjalankan
seluruh program terkait menarik minat membaca peserta didik dan guru. Kepala
sekolah juga dapat membantu memberikan fasilitas yang dibutuhkan, memastikan
seluruh komponen di sekolah tersebut untuk terlibat, dan yang terpenting adalah
menjadi teladan.
d)
Komite sekolah / forum orangtua siswa
Ada 3 cara yang dapat dilakukan. Pertama, menyamakan
persepsi tentang penting dan manfaat membaca buku. Ajak seluruh orangtua siswa
dalam sebuah seminar / pertemuan khusus untuk membicarakan hal ini. Kedua,
canangkan program perpustakaan mini di rumah. Ketiga, gerakan 15 menit membaca buku pada pukul
18.30-18.45 setiap hari. Dengan ketiga program diatas diharapkan kebiasaan
membaca buku akan terus terpelihara sehingga menjadi suatu budaya.
e)
Seluruh staff dan karyawan
Buatlah pojok-pojok baca di area tempat mereka bekerja. Pemilihan
buku-bukunya juga dapat disesuaikan dengan apa yang mereka butuhkan atau
sekedar buku hiburan dan wawasan. Dengan demikian, kebutuhan akan informasi
tetap tercapai untuk seluruh staff dan karyawan sekaligus membiasakan budaya
membaca di sekolah tersebut.
4.
Identifikasi dengan nama yang unik dan menarik
a)
Nama kelas
Untuk nama kelas di masing-masing level bisa dipilih nama yang unik
dan menarik sekaligus memotivasi anak-anak. Misalnya Kelas : Lebah Pemberani,
Kupu-kupu cerdas, Semut Bersahabat, Rayap Hebat. Semua nama-nama kelas tersebut
mewakili karakter yang ada pada binatang tersebut. Di dalam kelas dapat di
pasang tulisan mengenai kelebihan binatang yang menjadi nama kelasnya.
Harapannya adalah anak-anak dapat meniru dan memunculkan karakter sesuai dengan
nama kelasnya, dan mereka bangga memiliki karakter tersebut.
b)
Nama kegiatan
Setiap sekolah mengadakan suatu kegiatan, namai kegiatan tersebut
dengan unik dan menarik. Misalnya ‘EMAS’ yang artinya Ekspresi Murid Ambil
Sampah. Kegiatan ini bertujuan agar anak-anak dapat mengenal dan memilah jenis
sampah, sekaligus mengajak teman-teman untuk mengambil sampah dan membuang ke
tempat yang telah disediakan.
c)
Nama Mading yang unik
Mading atau majalah dinding dapat digunakan sebagai sarana membaca
sekaligus memuat tulisan para siswa. Nama mading bisa dibuat unik dan menarik.
Misalnya : Mading PENA (Penggenggam duNiA). Pada mading ini dapat di pasang
berbagai informasi kekinian, serta tulisan hasil karya peserta didik baik
berupa puisi, cerpen, artikel, tips, dan lain-lain.
d) Nama buletin sekolah
Buletin
sekolah bisa dikelola oleh pustakawan bekerjasama dengan seluruh guru. Nama
buletin diusahakan yang unik dan menarik. Contoh : Buletin KAMI (Kumpulan
tulisAn Menarik Inspirasi ).
4. Kegiatan membaca yang variatif
a)
Satu hari satu halaman (SH²)
Gerakan membaca satu hari satu halaman ini dapat diterapkan pada
seluruh siswa dari kelas 1-6. Pihak sekolah menyiapkan buku-buku yang sesuai
dengan level kelasnya. Gerakan ini dilakukan sebelum pembelajaran jam pertama
dimulai. Diharapkan dengan satu hari satu halaman dapat menjadi titik awal
anak-anak untuk suka membaca buku.
b)
Kartu baCa Aku Pintar ( KaCa APi)
Permainan Kaca Api ini dibuat khusus untuk siswa kelas 1-3. Kartu baca
terbuat dari karton manila atau asturo yang berwarna warni berukuran 10 cm x 10
cm. Diatas kartu ini tertulis huruf atau suku kata yang dapat disusun menjadi
berbagai jenis kata. Berikut contohnya :
Huruf vokal ditandai dengan
kartu warna biru, huruf konsonan kartu warna merah, suku kata kartu warna
hijau. Semakin banyak huruf dan suku kata yang disediakan, akan semakin banyak
variasi kata yang dapat dibuat.
c)
Kartu kata luar biasa (KaKa LuBi)
Mirip seperti KaCa APi, KaKa LuBi ini hanya berbeda tulisan diatas
kartunya yaitu dalam bentuk kata. Ukuran KaKa LuBi bisa sesuai dengan
kebutuhan, misalnya 20 cm x 15 cm. Berikut contoh KaKa LuBi :
KaKa
LuBi dapat menggunakan kode warna. Misalnya ungu untuk kata benda, warna coklat
untuk nama orang, warna kuning untuk kata kerja, dan oranye untuk kata sambung.
d)
Bulan Bahasa Bulan Oktober (B3O)
Berbagai lomba bisa dilakukan dalam satu kegiatan yang dinamakan
B3O atau Bulan Bahasa Bulan Oktober. Pemilihan tema juga diharapkan menarik
perhatian, misalnya “Pandai Berbahasa, Genggamlah Dunia.” Beberapa lomba yang
bisa dilakukan antara lain membaca nyaring dan kuis online, paham wacana, lomba
bercerita, lomba menulis cerpen, membaca puisi, pidato, dan lain sebagainya.
Dengan kegiatan ini, diharapkan dapat semakin meningkatkan minat baca anak-anak
usia sekolah dasar sekaligus menyalurkan bakat dan potensi mereka.
“Membaca itu
ASYIK. Susunlah rencana secara spesifik. Agar membaca menjadi suatu budaya yang
menarik. Menuju Indonesia yang lebih baik.”
Daftar Pustaka :
Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2007.
Jakarta : Balai Pustaka.
Tim pengembang ilmu
pendidikan FIP-UPI. 2007. Ilmu dan aplikasi pendidikan.
Bandung: Imperial
Bhakti Utama.
Husnul, Ade dan
Muhammad Ihsan Nugraha. 2010. Menguasai Teknik Membaca
Memindai.
Jakarta : PT. Multazam Mulia Utama.
Priyatna, Andi.
2011. Parenting for Character Buiding. Jakarta : PT. Elex Media
Komputindo.
ahli-lengkap/
https://www.bps.go.id/linkTableDinamis/view/id/1056
masyarakatindonesia-0001-persen/


Komentar
Posting Komentar