LELAH vs LILLAH
LELAH
vs LILLAH
Oleh : Siti Nurhasanah
Anda seorang
pekerja keras? Berjuang setiap hari harus berangkat sebelum matahari terbit dan
pulang setelah matahari berganti bulan? Atau seorang ibu rumah tangga? Yang
berperan juga sebagai ibu, istri, anak, guru, atau pendidik yang mengabdi di
suatu lembaga pendidikan hingga saat ini? Lelah? Tentu saja.
Sudah
tergambar dengan sangat jelas bahwa setiap amanah dan tanggung jawab tentu
memiliki resikonya masing-masing. Misalnya seorang ibu rumah tangga yang sekaligus
guru di suatu lembaga pendidikan. Ia harus bangun di pagi hari sebelum anggota
keluarga yang lain bangun. Mempersiapkan segala sesuatu, mulai dari urusan
logistik hingga matahari menjelang naik. Terkadang kebutuhan diri sendiri tak terpenuhi
dengan baik. Di sekolah, semua tugas harus dilaksanakan dengan apik. Pulang
hingga menjelang mahrib. Tubuh pun sudah pasti meminta haknya untuk beristirahat.
Namun, sebagai ibu rumah tangga peran kami masih ditunggu hingga seluruh
anggota keluarga terlelap dalam gelap. Dan kami para ibu, harus bersiap esok
hari dengan pola aktifitas yang sama. Melelahkan bukan?
Apa
itu ‘lelah’? Di dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata ‘lelah’ berarti penat;
letih; payah; lesu; tidak bertenaga. Kondisi lelah seorang manusia adalah hal
yang normal, karena tubuh manusia memiliki keterbatasan dan membutuhkan energi
untuk dapat bergerak serta melakukan berbagai aktifitas kehidupan.
Berikut
ini makna ‘LELAH’ yang menjadi bahan introspeksi tiada henti bagi diri saya
sendiri. Mari kita telusuri bersama. ‘LELAH’ disini merupakan singkatan dari Lalai
dari mengingat Allah; Enggan memperbaiki diri; Lalai dari
muhasabah; Amanah yang terabaikan; Hanya berpikir diri sendiri. Mari
kita sepakati bersama bahwa kita semua tidak ingin berada di posisi ‘LELAH’
seperti yang telah diuraikan tersebut. Berikut penjelasannya.
1)
LALAI
DARI MENGINGAT ALLAH SWT
Saya
berpendapat bahwa ini kesalahan yang amat fatal. Bagaimana mungkin seorang hamba
Allah yang selalu berbuat dosa dan salah bisa melupakan sang penciptanya? Mari
kita lihat kembali firman Allah swt dalam surat An-Nisa ayat 103 berikut ini.
“Maka apabila kamu
telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk
dan di waktu berbaring.”
Kita diminta oleh Allah untuk selalu mengingatNya,
dalam setiap kondisi. Maka lakukanlah, perbanyak dzikir dan menyebut asmaNya
dimanapun dan kapanpun kita berada. Dan ingatlah Allah maka hati kita akan
menjadi lebih tenang. Jika hati kita tenang, setiap amanah dan pekerjaan pun
akan menjadi lebiih mudah dilakukan. Insya Allah.
2)
ENGGAN
MEMPERBAIKI DIRI.
Di
dalam surat Al-Mu’minun ayat 57-61 Allah kembali menyapa kita dengan lembutnya:
“Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Rabb
mereka, Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Rabb mereka, Dan
orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Rabb mereka (sesuatu apapun), Dan
orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang
takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb
mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah
orang-orang yang segera memperolehnya.”
Maha
benar Allah dengan segala firman-Nya. Apabila kita enggan untuk memperbaiki
diri, artinya kita kurang menyadari bahwa kita semua akan kembali kepada Rabb
kita, Allah swt. Tanpa perbaikan dari diri sendiri, lalu dengan modal apa kita
mampu menghadapkan wajah kita di hadapan Allah kelak? Yuk, mulailah dari
diri sendiri, mulai dari hal yang kecil, dan mari kita mulai saat ini juga.
Contohnya adalah shalat lima waktu tepat pada waktunya. Jangan pernah menunda
shalat apapun kondisi kita. Sedang sibuk bekerja? Rapat penting? Tinggalkan
semua itu dan mari menghadap dan bersimpuh ke hadapan Allah swt dalam shalat dan
doa – doa kita.
3)
LALAI
DARI MUHASABAH
Tidak
ada manusia yang sempurna. Tempatnya dosa, khilaf, dan salah sebagai manusia
itu sudah pasti ada. Kita bukanlah sekumpulan malaikat yang bersih tanpa noda dan dosa.
Lalu, apakah kita sudah membiasakan diri untuk bermuhasabah?
Muhasabah
berasal dari akar kata hasiba yahsabu hisab, yang artinya secara
etimologis adalah melakukan perhitungan. Dalam terminologi syar’i, makna
definisi pengertian muhasabah adalah upaya evaluasi diri terhadap kebaikan dan
keburukan dalam semua aspeknya.
Berikut
ini sapaan Allah ta’ala yang amat sayang kepada kita sebagai hambanya yang
penuh dosa.
“Hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri
memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan
bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan”(QS.Al-Hasry(59):18).
Surat
Al-Hasyr diatas mengingatkan kita untuk memperhatikan dan mempersiapkan bekal
untuk hari esok kita yang sudah jelas kebenarannya yaitu kampung akhirat.
Jangan pernah lalai dari muhasabah diri. Ingatlah bahwa hidup di dunia hanya
sementara dan kita semua pasti akan mati. Maka, apa yang akan kita bawa nanti
untuk menghadap ilahi robbi?
Dengan
terbiasa muhasabah diri, insya Allah kita akan bersiap menjadi manusia yang
lebih baik lagi dan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Hisablah dirimu
sebelum kau di hisab oleh-Nya.
4) AMANAH YANG TERABAIKAN
Berikut ini surat cinta Allah untuk setiap hambaNya:
Sesungguhnya
Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan
(menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu
menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang
sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha
Melihat. (An-Nisa : 58)
Bagi
seorang guru, amanah besar yang harus dijaga adalah mendidik anak-anak dengan
penuh tanggung jawab. Perhatikan setiap potensi yang dimiliki oleh peserta
didik. Kelak di kampung akhirat, Allah akan meminta kepada guru untuk
mempertanggungjawabkan segala perbuatannya terhadap amanah mendidik generasi
bangsa yang menjadi tugasnya. Lalu, apa yang telah kita siapkan untuk menjawab
semua pertanyaan Allah nanti? Maka, jangan pernah mengabaikan amanah Allah
yaitu anak didik kita. Jika menemukan suatu kekurangan atau kelemahan pada
peserta didik, itulah ladang amal besar bagi kita. Didiklah mereka dengan penuh
kesabaran, optimalkan segala ikhtiar, dan masukkan nama-nama mereka ke dalam
daftar doa di setiap sholat kita. Perjuangan dakwah dan masa depan negeri ini ada
di tangan mereka. Tunaikanlah amanah Allah dengan optimal sehingga Allah akan
melihat kita dengan tersenyum bangga.
5) HANYA BERPIKIR KEPENTINGAN DIRI
Anda
mau hidup sendirian di dunia ini? Silakan jika anda berani mengambil resikonya.
Bayangkan apa yang dapat anda lakukan jika hidup sendiri? Bahkan orang paling
kaya di dunia sekalipun membutuhkan orang lain untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya. Mari kita simak firman Allah swt berikut ini :
Dan orang-orang mukmin laki-laki dan
orang-orang mukmin perempuan, sebagian mereka menjadi para penolong bagi
sebagian yang lain. Mereka menyuruh yang ma’ruf, mencegah yang munkar, dan
melaksanakan shalat secara berkesinambungan, menunaikan zakat, dan mereka taat
kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan dirahmati Allah. Sesungguhnya,
Allah Maha Perkasa, lagi Maha Bijaksana (At-Taubah : 71)
Allah ta’ala telah menyiapkan
skenario terbaik bagi kehidupan manusia untuk senantiasa bersosialisasi, hidup
saling bekerjasama dan menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Subhanallah..inilah
indahnya Islam. Rahmat Allah yang telah dijanjikan akan turun kepada kita semua
ketika kita telah melaksanakan amalan surat at-taubah ayat 71 diatas. Maka,
janganlah berpikir hanya untuk diri sendiri. Lihatlah di sekeliling kita. Bagi
seorang pendidik, kita harus senantiasa peka terhadap kondisi lingkungan
sekitar. Mari kita bantu peserta didik, rekan guru, karyawan, masyarakat,
bahkan alam semesta juga kita perhatikan agar dapat memberikan banyak manfaat
bagi umat.
Setelah kita memahami makna ‘LELAH’
diatas, mari kita lawan rasa lelah itu dengan ‘lillah’. Dalam bahasa arab, ‘lillah’
artinya karena Allah. Idealnya, semua aktifitas kehidupan kita di dunia harus
senantiasa karena Allah, bukan karena manusia atau hal yang lainnya. Namun,
saat ini kita coba uraikan kata ‘lillah’ ini dengan makna yang lain. ‘LILLAH’
disini merupakan singkatan dari Libatkan Allah dalam setiap amal; Ingatkan
diri untuk bermuhasabah; Lupakan kesalahan orang lain; Lakukan
hal yang bermanfaat; Amanah yang tertunaikan; Hanya pada Allah
tempat memohon pertolongan. Yuk, kita simak bersama.
1)
LIBATKAN
ALLAH DALAM SETIAP AMAL
Allah berfirman dalam Q.S
At-Taghaabun ayat 11:
"Tidak ada
suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah dan
barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada
hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
Sebagai seorang hamba Allah, sudah
sepantasnya kita senantiasa melibatkan Allah ta’ala pada setiap amal yang kita
lakukan. Seperti yang tertuang pada surat At-taghabun ayat 11 diatas, tidak ada
satupun kejadian atau musibah kecuali dengan izin Allah. Sebagai pendidik,
tentu kita tidak bisa sendirian dalam mengemban amanah membina generasi penerus
bangsa. Butuh campur tangan Allah dengan segala bantuanNya. Setiap keberhasilan
yang diperoleh anak didik kita tentu itu semua terjadi atas izin Allah. Oleh
karena itu, awali setiap amal sholih kita setiap hari dengan membaca basmalah
dan sudahi dengan membaca hamdalah. Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih
lagi maha penyayang. Segala puji bagi Allah tuhan semesta alam. Itulah bukti
kita selalu melibatkan Allah pada setiap amalan. Dengan senantiasa melibatkan
Allah, tentu Allah tidak akan pernah lupa kepada setiap hambaNya dan akan
menolong dari arah yang tidak disangka-sangka. Insya Allah.
2)
INGATKAN
DIRI UNTUK BERMUHASABAH
Berkata ‘Umar bin Al Khoththôb
rodhiyallôhu ‘anhu:
“Hendaklah
kalian menghisab diri kalian sebelum kalian dihisab, dan hendaklah kalian
menimbang diri kalian sebelum kalian ditimbang, dan bersiap-siaplah untuk hari
besar ditampakkannya amal”
Sebagai guru tentu tidak luput juga
dari kesalahan. Karena guru juga seorang manusia tempat khilaf dan salah.
Terkadang kita memarahi peserta didik, berlaku tidak adil, salah dalam
melakukan penilaian, dan segudang kesalahan lainnya yang sangat mungkin kita
lakukan. Oleh karena itu, ingatkan diri untuk selalu bermuhasabah seperti
perkataan Umar bin khattab diatas. Kita bersiap- siap untuk menghadapi suatu
hari dimana semua amal kita akan ditampakkan yaitu akhirat. Tidak ada kesalahan
sekecil apapun yang luput dari pengawasan Allah. Semoga Allah memberikan kita
hidayah untuk dapat bermuhasabah dan menjadikan kita hambaNya yang lebih baik
lagi.
3)
LUPAKAN
KESALAHAN ORANG LAIN
Anda pernah
disakiti oleh orang lain? Baik fisik maupun non fisik? Lalu anda merasa sakit
hati? Dendam? Atau tidak ingin bergaul dan berurusan lagi dengan orang yang
menyakiti anda? Itulah tanda anda sedang merugi. Lupakanlah kesalahan orang
lain. No
body’s perfect. Tidak ada manusia yang sempurna. Jika kita
selalu mengingat kesalahan orang lain pada kita, maka sebenarnya kita sedang
menutupi hati kita dengan noda hitam. Makin banyak noda hitam yang ada, maka
semakin gelaplah hati kita dan pada akhirnya hati kita akan mati. Jangan buang
energi kita hanya untuk mengingat setiap kesalahan orang lain pada kita. Mari
segera bercermin. Bukankah kita juga seorang manusia kotor yang selalu
melakukan dosa dan kesalahan? Sibukkan diri kita untuk memperbaiki diri dari
hari ke hari. Maka, tidak akan ada waktu sedikitpun untuk mengingat kesalahan
orang lain. Maafkan dengan ikhlas, perbanyaklah teman bukan perbanyak lawan. Maka
itulah seorang hamba Allah yang beruntung. Ingatlah firman Allah swt berikut
ini.
Maka disebabkan rahmat dari
Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap
keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.
Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan
bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah
membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.”
(Q.S. Ali Imran: 159).
Semoga
Allah menggolongkan kita semua, khususnya para pendidik generasi bangsa ke dalam
kelompok orang-orang yang bertawakkal kepadaNya seperti yang tertulis pada
surat Ali Imran ayat 159 diatas.
4) LAKUKAN HAL YANG BERMANFAAT
4)
Dr.KH. Ahsin Sakho Muhammad dalam
bukunya Oase Alquran penyejuk kehidupan menjelaskan bahwa seorang mukmin
lelaki maupun perempuan hendaknya menjalin hubungan baik satu sama lainnya.
Inilah cara Allah memakmurkan dunia, yakni dengan munculnya masyarakat
berperadaban dengan cara :
a)
Saling
menolong, saling mengasihi, memperlakukan mereka sebagaimana saudara karena
sama-sama seiman.
b)
Melakukan
amar makruf yaitu memerintahkan orang lain untuk berbuat baik yaitu hal yang
dipandang baik oleh agama dan akal sehat.
c)
Melarang
orang lain melakukan kemungkaran yaitu hal-hal yang diingkari baik oleh agama
maupun akal sehat.
d)
Melaksanakan
shalat dengan baik yaitu memperhatikan kewajiban, sunah, dan etika shalat
disertai hati yang khusyuk, sebagai bukti kepatuhan kepada Allah.
e)
Menunaikan
zakat sebagai bentuk rasa syukur atas rizki yang Allah berikan kepada mereka.
f)
Taat kepada
Allah dan rasul-Nya di semua segi kehidupan, baik akidah, ibadah, atau akhlak.
Dengan melakukan hal yang bermanfaat
seperti uraian diatas, maka hidup kita akan lebih bermakna. Ketika hidup kita
bermakna, maka kita akan merasa lebih bahagia. Seorang guru tentu memberi banyak
hal yang bermanfaat bagi peserta didiknya. Namun, jangan hanya berhenti pada
anak didik. Luaskan lingkaran manfaat kita sebagai guru untuk melakukan hal
lain yang juga bermanfaat bagi teman sejawat, masyarakat, agama , bangsa dan
negara. Misalnya dengan melaksanakan penelitian tindakan kelas. Jika hasil
penelitian tersebut dibagikan ke seluruh Indonesia maka manfaatnya akan semakin
terasa bagi guru atau pendidik yang memiliki permasalahan yang sama dengan
penelitian yang kita lakukan. Amal jariyah pun akan terus mengalir walaupun
kita sudah meninggal dunia. Insya Allah.
5)
AMANAH
YANG TERTUNAIKAN
Allah swt kembali menyapa kita melalui firmanNya :
Dan orang-orang yang memelihara
amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.(Al-Ma’arij : 32)
Amanah terdekat bagi seorang guru
adalah peserta didik. Maka, siapkan segala sesuatu dengan persiapan terbaik
yang dapat kita lakukan untuk kemajuan peserta didik kita. Tunaikan setiap
amanah pendidikan yang melekat pada kita. Persiapkan semua kebutuhan
pembelajaran yang mengakomodir setiap potensi siswa. Perhatikan anak-anak yang
berkebutuhan khusus. Jangan tinggalkan mereka karena sesungguhnya mereka pun
memiliki satu potensi yang mungkin belum tergali hingga saat ini. Ketika
berjanji dengan peserta didik, segeralah tunaikan. Jangan sampai anak-anak
merasa dibohongi oleh gurunya karena kita lalai dari amanah yang kita jalankan
saat ini. Ketika setiap amanah telah tertunaikan dengan baik, maka hasil
akhirnya adalah menyerahkan setiap urusan hanya kepada Allah semata.
6)
HANYA
PADA ALLAH TEMPAT MEMOHON PERTOLONGAN
“Apakah
kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu
(cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa
oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam
cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya:
“Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah
itu amat dekat.” (QS. Al Baqarah: 214)
Rasulullah berpesan kepada Ibnu Abbas,
“Sesungguhnya aku akan mengajarimu beberapa kalimat. Jagalah Allah niscaya Dia
menjagamu. Jagalah Allah niscaya kau menemui-Nya di hadapanmu. Bila kau meminta
mintalah kepada Allah. Bila kau meminta pertolongan mintalah pertolongan kepada
Allah. (HR. At-Turmudzi)
Surat
Albaqarah ayat 214 dan hadits At-turmudzi diatas mengingatkan kita untuk selalu
memohon pertolongan hanya kepada satu sumber yang maha kuasa atas segala
sesuatu, yaitu Allah swt. Setiap orang tentu memiliki ujian hidup
masing-masing. Yang menjadi pembeda adalah bagaimana sikap kita terhadap ujian
hidup tersebut. Hanya mengeluh dan menangis? Itu bukan solusi. Misalnya seorang
guru yang diberi amanah untuk mendidik anak-anak berkebutuhan khusus. Memang
berat karena tidak bisa disamakan cara mendidiknya dengan anak normal pada
seusianya. Jangan bersedih dan berputus asa. Serahkan pada Allah yang maha
memberi pertolongan. Optimalkan segala ikhtiar. Bangunlah di sepertiga malam
untuk shalat tahajud. Curahkan semua persoalan yang ada pada Allah ta’ala.
Mintalah jalan keluar terbaik hanya menurut Allah saja. Insya Allah setiap
urusan akan dimudahkan olehNya.
‘LELAH’
vs ‘LILLAH’. Inilah perjuangan yang kita hadapi saat ini. Tantangan dunia
pendidikan saat ini makin besar. Seiring perjalanan kemerdekaan Republik
Indonesia yang menginjak usia 73 tahun, pendidikan semakin diharapkan untuk
menjadi unggulan. Jangan biarkan kita hanya ‘LELAH’ menghadapinya. Mari kita
lawan dengan ‘LILLAH’. Jangan lagi ada rasa resah dan gundah. Pola berpikir
kita harus bisa diubah. Mewujudkan generasi bangsa dengan masa depan cerah.
Insya Allah Indonesia makin berkah. Merdeka! Allahu Akbar!
Sebagai
penutup dan introspeksi bagi diri saya sendiri, berikut ini tulisan alm. Ust.
Rahmat Abdullah. Semoga senantiasa menjadi penyemangat bagi kita semua dalam
melawan rasa ‘LELAH’.
“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu
lelah mengikutimu”
“Teruslah berlari,
hingga kebosanan itu bosan mengejarmu”
“Teruslah berjalan,
hingga keletihan itu letih bersamamu”
“Teruslah bertahan,
hingga kefuturan itu futur menyertaimu”
“Tetaplah berjaga,
hingga kelesuan itu lesu menemuimu”
(alm. Ust. Rahmat
Abdullah)
Referensi :
Departemen Agama RI. 2009. Al-Quranulkarim
wa Tafsiruhu. Jakarta. Departemen Agama RI
Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2007. Jakarta.
Balai Pustaka
Pendidikan Agama Islam. KKG SIT Nurul
Fikri. 2018. Depok. YPPU NURUL FIKRI.
Muhammad, Ahsin Sakho. Oase Alquran
Penyejuk Kehidupan. 2017. Jakarta. PT. Qaf Media Kreativa.
Titanium White octane slots - TiG.com
BalasHapusIt has the ability to provide a nice, titanium tubing clean, and convenient titanium edc fit to play your damascus titanium favorite games. The titanium ion color game comes loaded with features such titanium grinder as a high-quality sound chip