ENAM MUTIARA GURU ZAMAN NOW


Oleh : Siti Nurhasanah, S.Pd.I

         I. Pendahuluan

“Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya karena mereka hidup bukan di zamanmu.” (Ali Bin Abi Thalib)

            Perkataan dari Ali Bin Abi Thalib ra diatas merupakan pengingat bagi kita semua sebagai guru, pendidik dan orangtua. Ketika kita mendidik anak-anak saat ini hendaknya sesuai dengan kondisi ‘zaman now’, ‘kekinian’, ‘up to date’, bukan seperti zaman kita dulu ketika kita dididik oleh orangtua kita. Mengapa? Jelas berbeda 20 tahun yang lalu dengan kondisi saat ini. Beda zaman, tentu akan berbeda tantangannya. Jelas akan berbeda pula strategi mendidik anak.

            Ada 6 mutiara yang perlu dikumpulkan dan dijadikan pedoman untuk menjadi guru ‘zaman now’. ‘ZAmAn NOW’ disini merupakan singkatan dari 6 mutiara tersebut, yaitu Zikrullah sebagai amal utama, Amalkan sekecil apapun ilmu mendidik yang dimiliki, Andalkan teknologi dan informasi terbaru, Nasionalisme siswa senantiasa ditumbuhkan, Optimalkan potensi terbaik setiap siswa, dan Wariskan keteladanan yang baik untuk anak Indonesia.

Mari kita selami bersama di kedalaman lautan ilmu Allah yang maha luas. Mari kita kumpulkan satu persatu mutiara yang indah ini dan kita amalkan bersama. Berikut penjelasannya.

     II. Pembahasan

  Mutiara pertama : Zikrullah sebagai amal utama

Zikrullah artinya mengingat Allah swt. Salah satu contoh zikrullah yang dapat dilakukan adalah ketika anak-anak belajar tentang daur air.

Ajak peserta didik membuka Al-Quran dan ayat yang terkait dengan daur air, yaitu Qs. An-Naba:13, “Dan Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari).” Dilanjutkan dengan membuka firman Allah swt di Qs.Al-Hijr:22, “Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuhan, awan) dan Kami turunkan hujan dari langit.” Dalil berikutnya adalah Qs. An-Nur : 43 “Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian) nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung… maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya.  Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan.” 

Dengan belajar melalui ayat Qouliyah/Firman Allah dalam Al-quran dan Kauniyah/peristiwa di alam-Nya, kita mengajak anak didik kita untuk berzikir bersama. Mengingat akan kebesaran Allah swt yang telah menciptakan alam semesta beserta seluruh isinya.

 Mutiara Kedua : Amalkan sekecil apapun ilmu mendidik yang kita miliki

Dr. Abdullah Nashih Ulwan dalam bukunya “Tarbiyatul Aulad: Pendidikan Anak Dalam Islam menjelaskan bahwa metode pendidikan anak yang efektif terfokus pada lima hal, yaitu :

1)      Pendidikan dengan teladan : kata-kata, tindakan, rasa, nilai dan perasaan di dalam jiwa pendidik akan diikuti oleh anak didiknya.

2)      Pendidikan dengan pembiasaan : Bisa karena biasa. Pendidikan dan pembiasaan yang baik akan membuahkan akhlak dan etika yang baik pula.

3)      Pendidikan dengan nasihat yang bijak : Nasihat bijak untuk pembuka hati dan memotivasi hal positif pada peserta didik.

4)      Pendidikan dengan memberi perhatian dan pemantauan : perhatian terhadap akidah, akhlak, mental, sosial, kesehatan dan kemajuan belajar peserta didik.

5)      Pendidikan dengan hukuman yang layak : memilih dan menggunakan cara terbaik dalam memberikan shock therapy (hukuman) kepada peserta didik.

Cara seorang guru mendapatkan ilmu mendidik antara lain dari perkuliahan, seminar pendidikan, pelatihan-pelatihan, membaca buku, searching website tentang kependidikan, dan masih banyak lagi cara lainnya. Intinya adalah ketika kita telah memahami ilmu mendidik anak sekecil apapun, lakukanlah. Praktekkan dalam keseharian kita mendidik anak-anak di sekolah. Apa jadinya jika kita memiliki ilmu tapi tidak di praktekkan? Maka perlahan tapi pasti, akan menguaplah ilmu tersebut, hilang tanpa bekas, dan tidak bermanfaat sama sekali. Jadi, jangan biarkan anda merugi yang bertubi-tubi. Amalkan sekecil apapun ilmu mendidik yang kita miliki.

Mutiara Ketiga : Andalkan teknologi dan informasi terbaru

Seorang guru ‘zaman now’ dituntut selalu up to date tentang semua teknologi dan informasi terbaru. Berbagai informasi dengan sangat mudah kita dapatkan dari internet. Seorang guru tidak boleh gaptek. Berusahalah seoptimal mungkin untuk dapat memahami hal-hal terkait dunia teknologi dan informasi terbaru. Bertanya dan berbagilah dengan teman-teman sejawat. Jangan sampai anak didik kita lebih tahu dari kita, dan kita tidak bisa masuk ke dunia mereka. Misalnya tentang media sosial seperti facebook, twitter, instagram, plus google, social chat application (BBM, WA, telegram, line, wechat, path, dan lain-lain).

Sebagai guru ‘zaman now’, minimal kita memiliki akun pada salah satu aplikasi sosmed tersebut. Dengan demikian, kita dapat ‘bersahabat’ dengan anak-anak didik kita, baik di dalam kelas maupun di dunia maya. Ladang amal juga bagi kita seorang guru ketika kita melihat dan memantau perkembangan peserta didik kita melalui akun sosmed mereka.

Mutiara Keempat : Nasionalisme siswa senantiasa ditumbuhkan

Berikut ini enam cara yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan semangat nasionalisme pada siswa:

1)   Refleksi sejarah : kunjungan edukatif, bedah buku , film dokumenter.

2)   Melalui upacara bendera : menyanyikan lagu Indonesia Raya 3 stanza.

3)   Memperkenalkan berbagai keragaman budaya bangsa : Indonesia expo, puncak tema Indonesia, film dokumenter tentang Indonesia.

4)   Melalui pembelajaran pendidikan kewarganegaraan / IPS : memahami bagaimana menjadi warga negara yang baik dan taat terhadap aturan negara.

5)   Melalui pengenalan tokoh sejarah : cerita tokoh, film pejuang Indonesia, berkunjung ke museum tokoh sejarah.

6)   Memakai dan mencintai produk hasil produksi dalam negeri : kampanye/bazar produk dalam negeri.

Buatlah strategi pembelajaran yang menarik, media yang beragam, dan ajak anak-anak untuk terlibat langsung dalam aksi pembelajaran kita. Dengan cara ini, nasionalisme akan terus tumbuh dalam jiwa anak-anak kita. Dan suatu hari nanti, kita sangat berharap akan muncul pahlawan-pahlawan baru dari hasil pendidikan ‘kids zaman now’ yang siap sedia membela negara dan bangsa, Indonesia tercinta.

     Mutiara Kelima : Optimalkan potensi terbaik setiap siswa

             Salah satu strategi yang bisa dilakukan untuk mengakomodir potensi siswa adalah dengan pembelajaran active learning. Asep sapa’at dalam bukunya “Stop menjadi Guru!” memaparkan ada 4 kunci utama dalam active learning. Pertama, pembelajaran harus berpusat pada peserta didik (student centered learning). Kedua, pembelajaran menggunakan beragam metode dan media belajar. Ketiga, memberdayakan semua indera dan potensi peserta didik. Keempat, pembelajaran harus dikaitkan dengan lingkungan dan pengalaman yang terjadi di sekitar peserta didik (kontekstual).

            Mulailah lakukan strategi pembelajaran aktif di ruang kelas kita masing-masing. Optimalkan potensi terbaik setiap siswa. Tidak perlu berkecil hati jika mereka sulit belajar matematika atau IPA. Mereka bisa menjadi seorang pianis, penulis buku, pengarang lagu edukatif, atlet olahraga, atau apapun yang mereka sukai dan sesuai dengan bakatnya. Satu hal yang penting adalah arahkan anak-anak didik kita untuk menjadi ‘orang yang bermanfaat’ bagi orang lain, apapun cita-cita mereka. Fokuskan pada potensi yang dimiliki siswa dan dapat diasah secara berkelanjutan. Doa dan ikhtiar terbaik kita sebagai guru terus dijalankan. Berharap suatu saat nanti mereka menjadi ahli di bidang masing-masing yang mereka sukai dan bermanfaat bagi bangsa Indonesia.
Mutiara Keenam : Wariskan keteladanan yang baik untuk anak Indonesia

Salah satu warisan keteladanan yang baik untuk anak Indonesia adalah gemar membaca dan menulis. Dengan gemar membaca kita jadi banyak ilmu. Dengan menulis kita bisa berbagi segala pengalaman melalui tulisan dan dapat bermanfaat bagi orang lain, khususnya di dunia pendidikan Indonesia.

Luaskan lingkaran manfaat kita sebagai guru untuk melakukan hal lain yang juga bermanfaat bagi teman sejawat, masyarakat, agama, bangsa dan negara. Misalnya dengan melaksanakan penelitian tindakan kelas. Jika hasil penelitian tersebut dibagikan ke seluruh Indonesia maka manfaatnya akan semakin terasa bagi guru atau pendidik yang memiliki permasalahan yang sama dengan penelitian yang kita lakukan. Amal jariyah pun akan terus mengalir walaupun kita sudah meninggal dunia.
 
III. Penutup

                        Mendidik ‘kids zaman now’ harus diselaraskan dengan keberadaan ‘guru zaman now’. Ada enam mutiara yang bisa kita cari di kedalaman lautan ilmu Allah yang maha luas. Temukan dan kumpulkan keenam mutiara tersebut agar kita dapat menjadi seorang guru ‘zaman now’. Keenam mutiara tersebut adalah : Zikrullah sebagai amalan utama, Amalkan sekecil apapun ilmu mendidik yang kita miliki, Andalkan teknologi dan informasi terbaru, Nasionalisme siswa senantiasa ditumbuhkan, Optimalkan potensi terbaik siswa, dan Wariskan keteladanan yang baik untuk anak Indonesia.  

Tetaplah disini teman-teman guru. Ingatlah wajah peserta didik yang menunggumu. Wajah yang selalu siap menimba ilmu. Berbuatlah sesuatu. Agar masa depan mereka tak lagi semu. Agar wajah Indonesia tak lagi layu. Selamat menjadi guru ‘ZAmAn NOW’ untukmu. Selamat hari guru.

 

Referensi :

Diane Wulansari, Nyi Mas. 2017. Didiklah Anak Sesuai Zamannya : Mengoptimalkan Potensi Anak di Era Digital. Jakarta : PT Visimedia Pustaka (Anggota IKAPI).

Hamid, Abdullah. 2017. Pendidikan Karakter Berbasis Pesantren. Surabaya: IMTIYAZ.

Handrianto, Budi. 2007. Agar Timbangan Menjadi Berat. Depok: Gema Insani Press.

Kamaludin, Khawaja. 2016. Rahasia hidup. Jakarta : Darul Kutubi Islamiyah.

Nashih Ulwan, Abdullah. 2015. Tarbiyatul Aulad : Pendidikan anak dalam islam.

    Jakarta : Khatulistiwa Press.

Sapaat, Asep. 2012. Stop Menjadi Guru!. Jakarta : PT Tangga Pustaka.


https://abuzuhriy.wordpress.com Keutamaan mengamalkan ilmu.

www.rijal09.com. 6 cara menumbuhkan jiwa nasionalisme pada generasi muda.


 


 

PROFIL SINGKAT PENULIS

Nama lengkap             : Siti Nurhasanah

TTL                             : Depok, 11 Juli 1983

Jenis Kelamin              : PEREMPUAN

Alamat surat                : Jl. Banyuasin 1 no. 103 RT 10 RW 004

KELURAHAN BAKTIJAYA-KECAMATAN     

                                     SUKMAJAYA

                                    DEPOK TIMUR 16417.

Email                           : siti.nurhasanah@nurulfikri.sch.idsiti.nurhasanah@nurulfikri.sch.id

Hp                               : 0878-7594-5111

Hobi                            : menulis, memasak, membaca buku

Status                          : Menikah dan dikaruniai 2 anak perempuan.

Agama                         : Islam

Pekerjaan                     : Guru Al-Quran SDIT Nurul Fikri-Cimanggis Depok

 


 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Koleksi Gubahan Lagu - Ilmu Tajwid

NURUL vs FIKRI - Cerpen anak seri karakter Disiplin & Bertanggung Jawab

6 MUTIARA GURU SIT ZAMAN NOW