RAMADHAN TERAKHIR PAPA


Oleh : Siti Nurhasanah

“TIDAK MAU!” bentak Papa.
Mama hanya tertunduk, kemudian berlalu ke dapur. Ia hanya menawarkan Papa untuk makan malam, lalu minum obat. Sejak siang Papa belum makan. Ia hanya terdiam di sofa kamarnya yang lembut sambil menatap keluar jendela.
Sambil mengambil segelas air minum, “Papa gak mau makan lagi, Ma?” tanyaku penasaran. Mama meletakkan satu set makan malam yang dibawanya dari kamar, “Iya, Na. Mama khawatir kondisi papamu semakin buruk karena tidak mau makan.”
“Apa yang bisa Hana bantu, Ma? Hana juga bingung lihat Papa. Sejak Papa dinyatakan sakit kanker paru akut, papa selalu murung dan berdiam diri di kamar.” Aku duduk di samping Mama yang sejak tadi memasang wajah khawatir.
“Doakan Papamu, Na.” Jawab mama singkat.
Tatapannya kosong. Kulihat ada harapan besar disana agar papa sembuh dan sehat seperti sedia kala. Kurangkul Mama, memastikan bahwa mama masih punya aku, Hana, anak satu-satunya yang akan berbuat apapun untuk kesembuhan Papa. Akhirnya bulir air mata itu keluar juga. Kuseka secepat mungkin agar Mama tidak melihatku menangis. Aku harus kuat juga, demi Papa dan Mama.
Kutengok papa di kamar, ternyata ia sudah tertidur di ranjang. Wajah pucat yang semakin tirus itu kini berhadapan denganku. Aku mendekat, mencium kening lalu merapatkan selimutnya. ‘Pa, Mama dan Hana sayang Papa’. Bisikku di telinganya. Aku melangkah keluar hendak tidur ketika Mama menyusul ke kamar.
“Ma, istirahat ya. Mama pasti lelah.” Pintaku sambil memegang kedua tangan mama, mengecup pipi kanannya dan memastikan mama benar-benar istirahat.
Wajah paruh baya itu makin terlihat sendu sejak Papa sakit. Tidak ada lagi rona kebahagiaan disana. Ini PR berat bagiku. Aku harus menuntaskan masalah ini dengan baik. Sepekan lagi Ramadhan, aku hanya ingin menikmati jamuan special dari Allah ini dengan membuat suasana rumah kembali ceria. Iya, ceria dan penuh canda tawa renyah seperti dulu selalu menghiasi rumah kami. Bukan wajah murung yang penuh khawatir seperti ini, bukan. Aku menghela napas panjang.
***
Pagi itu kulihat senyum di wajah Mama. Ternyata Papa sudah mau makan. Syukurlah,pikirku. Setidaknya aku bisa sedikit tenang berangkat bekerja. Sejak selesai kuliah, aku bertugas menjadi salah satu tenaga konsultan keuangan di salah satu perusahaan cukup terkemuka di kota ini.
“Ma, Hana berangkat dulu, ya. Mama jangan lupa makan. Jangan terlalu capek. Kalo ada apa-apa segera telpon Hana.” Kusalimi tangan mama lembut sambil meninggalkan beberapa pesan untuk Mama.
“Pa, Hana berangkat, ya. Hana sayaaaang Papa.” Kucium tangan dan kening papa yang sejak tadi duduk di kursi teras depan rumah. Disampingnya sudah tersedia sarapan lengkap, roti isi daging dan sayuran serta segelas air putih hangat, namun belum juga dimakan.
“Pa, please…dimakan ya sarapannya, terus minum obatnya. Lihat deh, Mama jadi sedih terus kalau papa gak mau makan.” Kulirik Mama disamping papa yang sedang mengaduk the manis hangat untuk papa. “Iya.” Papa menjawab singkat tanpa menoleh padaku, pandangannya tetap kosong ke depan. Aku kembali menghela napas.
Aku bergegas. Kulirik jam tangan, mengucapkan salam, menyalakan mobil dan melaju ke tempat tugas. Aku harus berbuat sesuatu, tetapi apa? Keningku berkerut, berpikir keras selama perjalanan. Aku ingin Ramadhan tahun ini jauh lebih baik dari tahun lalu. Namun dengan kondisi Papa sekarang, entahlah. Aku bergumam sendiri.
***
            “Eh..kok bengong sih, Na? Teman sekantorku, Sinta menepuk pundak dan membuyarkan pikiranku. “Biasa, mikirin papa, Sin.” Kujawab sambil menatap angka-angka di hadapanku. Laporan konsultasi keuangan sudah ditunggu pagi ini jam 10.00.
            “Gimana kondisinya, Na?” Sinta menarik kursinya dan duduk di sebelahku. “Masih sama, Sin. Tapi pagi tadi kulihat sudah mau makan, walau hanya sepotek roti tawar.” Kujawab tanpa menoleh padanya, tetap fokus pada angka-angka. “Alhamdulillah, saya seneng banget dengernya, Na. Semoga papamu makin sehat ya.” Sinta merangkul pundakku. “Iya, Sin. Makasih banyak ya.” Aku menoleh dan tersenyum pada teman baikku itu. Sinta kembali ke meja kerjanya, membuka laptop dan bekerja. Pikiranku tak bisa lepas dari papa dan mama di rumah. Baiklah, fokus, konsentrasi, cepat selesaikan tugas ini agar aku bisa cepat pulang. Deretan angka-angka itu memanggilku kembali.
***
Sepekan kemudian saat malam pertama Ramadhan yang sungguh tenang. Selepas isya, aku mengajak mama sholat tarawih berjamaah. Tentu bukan di masjid komplek, namun di mushola kecil di sebelah ruang tamu, persis di samping kamar papa dan mama. Ruangan yang sebelumnya tempat meletakkan televise dan satu sofa panjang, kuubah menjadi satu mushola yang cukup untuk sholat berjamaah kami bertiga. Terhampar karpet lembut warna biru kesukaan papa, kaligrafi lafadz Allah dan Muhammad di dinding arah kiblat, rak kecil di sudut kiri berisi beberapa sajadah dan mukena, serta rak buku yang menempel di dinding kanan yang berisi Al-Quran dan beberapa buku keislaman. Aku sangat suka tempat ini. Rasanya syahdu ketika membaca Al-quran atau sholat disini.
            “Ma, kita sholat tarawih bareng, yuk. Ajak papa juga.” Aku menghampiri mama di dapur yang sedang memasak sesuatu. Aroma semur daging yang menusuk hidung membuatku lapar. Ini pasti untuk makan sahur nanti. Mama sangat paham kalau papa sangat suka semur daging. “Yuk, mama juga sudah selesai nih masaknya. Coba kamu lihat papa di kamar, Na.” Mama mematikan kompor dan berlalu ke kamar mandi untuk berwudhu. Aku mengiyakan permintaan mama dan melangkah ke kamar.
Ku ketuk tiga kali kamar papa. Tidak ada jawaban. “Pa..papa..kita sholat tarawih, yuk.” Kupanggil papa namun tidak ada sahutan. Kubuka pintu perlahan, dan kudapati tubuh ringkih papa tergeletak di lantai kamar.
“Astaghfirulloh..Papa…..! Aku menyerbu masuk, menggoyang-goyang tubuh papa, mencoba membangunkan dengan cara apapun yang kubisa. Nihil, tubuhnya tak bergerak, matanya tertutup sempurna. Ada bekas air di lantai dekat kaki papa. Jangan-jangan papa terjatuh setelah dari kamar mandi yang ada di kamar papa. Pikirku.  “Ma..mama..tolong ma, papa jatuh!.” Teriakanku cukup membuat mama tergopoh-gopoh masuk ke kamar.
“Papa..astaghfirulloh, Na. Papa kenapa?” Mama panik sambil memegang tubuh papa.
“Ma, kita coba angkat papa ke kasur ya. Yuk, Bismillah.” Sekuat tenaga kami berdua perlahan-lahan mengangkat papa, membaringkan di kasur, meluruskan kakinya, membuat papa senyaman mungkin. Mobil ambulans datang 30 menit setelah kutelpon. Kami berangkat ke rumah sakit terdekat. Akhirnya, malam pertama Ramadhan kali  ini harus menginap di rumah sakit. Papa masuk ICU. Diagnosa dokter adalah serangan jantung. Aku mengusap dahi, mama tertunduk makin dalam.
Setelah makan sahur, aku meminta izin untuk ke Mushola. Aku dan mama bergantian menjaga papa. Istighfar tak henti dari lisanku, ujian apa lagi ini. Ramadhan yang sungguh amat buruk bagi keluarga kami. Seharusnya kami menikmati santap sahur di rumah, diselingi canda tawa di meja makan, bersantap dengan semur daging kesukaan papa, ditutup dengan puding mangga dengan vla vanilla diatasnya, bermanja dengan masakan terlezat di dunia buatan mama. Tapi saat ini, berubah seratus delapan puluh derajat. Hati dan lisanku beristighfar lagi, lagi, dan lagi.
Adzan subuh dari Mushola kecil itu memanggilku. Kulangkahkan kaki menuju tempat wudhu, membuka kran air, dan, curr...nikmatnya wudhu kali ini. Kurasakan lembutnya tetesan air wudhu membasuh anggota badan. Kutunaikan sholat sunnah, lalu sholat subuh berjamaah dengan beberapa orang. Setelah salam, kupanjatkan doa yang terbaik untuk papa, mama, dan aku sendiri. Lebih banyak untuk papa tentunya, khawatirku sudah tak dapat dibendung lagi.  Serangan jantung bukan penyakit yang main-main. Bisa kapan saja kambuh, tidak boleh banyak pikiran, tidak boleh terlalu lelah, bisa kapan saja......astaghfirullah, naudzubillah. Papa pasti sembuh. Aku tidak mau kehilangan papa. T-I-D-A-K  M-A-U. Allah, berikan kesembuhan pada papaku, sehatkan ia seperti sedia kala. Aku mohon ya Allah. Mataku basah, hatiku gelisah, tangisku akhirnya tumpah. Didepanku terlihat wanita paruh baya menutup wajahnya dengan mukena. Menangis sesegukan. Duhai Allah, dengar dan kabulkanlah seluruh doa kami. Pintaku terakhir kali sebelum kututup  dengan doa sapu jagat.
            Tiga minggu kemudian kondisi papa semakin membaik. “Hana, tolong ambilkan papa air putih hangat.” Papa sedang membaca buku fiqih puasa malam itu, sejenak setelah kami sholat maghrib berjamaah. “Oke, Pa.” Dengan sigap aku beranjak ke dapur, menyiapkan pesanan papa, lalu mengantarnya persis di hadapan papa. Aku tersenyum. Bahagia rasanya melihat papa banyak mengalami kemajuan yang sangat besar bagi kesehatannya. Setelah pulang dari rumah sakit, aku memutuskan untuk mengembalikan semangat hidup papa dengan memperlihatkan setumpuk album foto. Ya, inilah caraku. Memperlihatkan album foto keluarga pada papa setiap hari, bercerita padanya, tentang apapun yang terjadi di foto itu, kenangan manis dan lucu, semuanya kuceritakan detail pada Papa. Alhamdulillah, lambat laun papa mulai terlihat tersenyum, nafsu makan bertambah, terlihat makin sehat bahkan ikut berpuasa sejak tiga hari yang lalu. Kulihat mama pun lebih bersemangat. Terlihat dari jumlah masakan yang dihasilkan dari dapur mama. Hmm...nikmatnya luar biasa mencicipi aneka masakan mama yang berganti menu setiap hari. Lengkap mulai dari menu pembuka hingga penutup. Serasa berkunjung ke restoran nusantara setiap kali kami bersantap sahur dan berbuka puasa. Hal yang kurindukan akhirnya telah kembali. Kulihat lagi canda tawa itu, kulihat lagi senyum merekah di wajah mereka. Papa, mama, aku sayang kalian. Mataku meleleh lagi. Bersyukur tiada henti pada Allah yang telah mengijabah doaku.
            ‘Bruk’!  
            Tubuh mulia itu tersungkur. Jatuh diatas sajadah lembutnya yang berwarna merah muda. Persis setelah salam ke kanan dan kiri dari sholat subuh berjamaah di mushola kecil kami. Pagi itu, persis Ramadhan ke tiga puluh. Ramadhan hari terakhir, dan esok adalah Idul Fitri.
“Mama..............!”
Ambulans membawa Mama secepatnya ke rumah sakit. Aku dan papa yang menemani di dalam mobil tidak dapat berpikir jernih. Papa tak lepas menggenggam jemari tangan mama yang semakin menua. Papa menatap mama sedih, mencoba membangunkan, berbicara apa saja. Tak bergeming, tidak ada reaksi apapun. Aku menyentuh lembut kaki mama. Dingin. Apakah mama? Tidak. Ini tidak mungkin. Aku menggeleng, hatiku berontak. Air mata tumpah seketika. Mama tidak mungkin meninggal, kan. Pikirku dalam hati yang semakin bergejolak.
Di ruang Unit Gawat Darurat (UGD), Mama langsung diperiksa sana-sini. Perawat memeriksa denyut nadi, dokter memerintahkan untuk segera memasang mesin kejut jantung. Aku dan papa hanya boleh melihat dari luar. Satu kali, dua kali, tiga kali kulihat dada mama berguncang karena mesin pengejut jantung itu. Kulihat monitor penunjuk denyut jantung. Hanya ada satu tanda, garis lurus. Dokter melepas semua mesin-mesin tak berguna itu. Perawat merapikan posisi tangan mama agar bersedekap, lalu menutup seluruh tubuh mama dengan kain putih itu. Tanganku refleks menutup mulut, diiringi deraian air mata. Papa terduduk lemas di kursi panjang, sedetik kemudian kami pun berpelukan. Innaalillahi wa innaa ilayhi roojiuun. Inilah Ramadhan terakhir Papa bersama Mama.
  (Selesai)

Catatan :
“Sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada Allah yang mengetahui yang gaib dan nyata, lalu DIA beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Qs.Al-Jumuah : 8)

Sahabat, manfaatkan waktu hidup yang singkat ini dengan hal yang bermanfaat. Ramadhan tahun ini bisa saja menjadi Ramadhan terakhir bagi saya, atau anda. Berilah persembahan terbaik hanya untuk Allah semata. (AnaUmmuShofia)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Koleksi Gubahan Lagu - Ilmu Tajwid

NURUL vs FIKRI - Cerpen anak seri karakter Disiplin & Bertanggung Jawab

6 MUTIARA GURU SIT ZAMAN NOW