MAYA vs NYATA


Oleh : Siti Nurhasanah

“Sudah di transfer ya, sis. Ini bukti transfernya”, ketik Maya pada chat whatsapp nya dengan penjual olshop di sebrang sana. “Siap, kak, barangnya dikirim hari ini, ya.”
“Sip, terima kasih.” Klik. Maya menutup gawainya sambil tersenyum puas. Sebentar lagi ia akan memiliki sepatu high heels baru yang sudah diincarnya sejak dua pekan lalu.
“Kamu belanja lagi, May?” Tanya Sinta, teman sekantornya yang sejak tadi memperhatikan Maya bertransaksi online shop untuk yang ke sekian kalinya.
Maya nyengir, “Iya, Sin. Itu high heels sudah saya pesan sejak dua pekan lalu. Karena barangnya kemarin sold out, jadi baru bisa di kirim sekarang deh.”
Sinta terbelalak, “Sepatu lagi? Astaghfirullah, sepertinya kamu sudah punya dua rak penuh sepatu model begitu?”
“Hehe, iya sih. Tapi ini keren banget. Aku belum punya yang model begini, lihat deh.” Maya menyodorkan gambar high heels yang terlihat mewah berwarna merah marun dari ponselnya.
Sinta keheranan, “Lima ratus ribu? Ya Allah, Maya. Menurutku, sesekali kamu harus berhemat sedikit. Masa iya semua uang kamu gunakan hanya untuk belanja online? Ditabung saja buat kamu nikah nanti, gimana?” Usul Sinta.
Raut wajah Maya seketika berubah ketus, “What? No..no..no. Urusan nikah mah urusan calon suamiku nanti. Aku gak mau pusing lah yauw”. Maya segera menghindar dari tatapan sahabatnya yang jelas-jelas mengkhawatirkannya.
“Ya sudah, terserah kamu. Aku sudah mengingatkan agar kamu sedikit berhemat ya.” Sinta menatap kembali laptop di hadapannya dan melanjutkan tugas.
“Dont worry..I will be happy, honey...” Maya merangkul Sinta sejenak lalu segera kembali ke kursinya dan melanjutkan pekerjaannya. Tepatnya pekerjaan berselancar di internet. Maya membuka berbagai akunnya yang berada di facebook, instagram, twitter, line, dan tak lupa mencari youtube channel yang paling disukainya, make up tutorial.
Namanya Maya Maulida. Seorang gadis berparas cantik, dengan rambut panjang sepinggang yang hitam ikal bergelombang, kulit putih bersih dan tinggi ideal bak pramugari. Usianya 25 tahun dan hobinya belanja melalui online shop. Hampir semua barang yang dimilikinya berasal dari berbagai olshop di seluruh Indonesia. Dengan pekerjaannya sebagai konsultan keuangan, ia merasa penghasilannya lebih dari cukup untuk membeli apapun yang diinginkannya, lewat online shop tentunya. Prinsipnya hanya satu, jika bisa lebih mudah dalam melakukan sesuatu, mengapa harus dibuat rumit? Itulah Maya Maulida, hidupnya sama persis seperti namanya, penuh dengan ‘dunia maya’.
***
“Kang Nyata, ini teh sabaraha? Seorang pembeli di toko sepatu miliknya bertanya tentang sepatu kulit yang dipegangnya. “Oh, yang itu mah tiga ratus ribu saja atuh, bu”, Jawab Kang Nyata.
“Kunaon awis pisan?(Kenapa mahal sekali?), kasih diskon atuh Kang Nyata. Saya kan pembeli setia di toko akang.” Si Ibu pembeli mulai dengan rayuan mautnya.
“Aduh, tidak bisa atuh ibu. Lihat saja barangnya bagus pisan. Ibu pakai nomor berapa? Nanti saya carikan. Boleh dicoba dulu, boleh dipegang, sok atuh silakan. Ini mah kulit asli, bukan plastik.” Kang Nyata berargumen dengan logat sundanya yang khas.
“Ah Kang Nyata mah aya-aya wae. Mana ada sepatu dari plastik, bisa-bisa meleleh atuh kena matahari, hehehe..” Si Ibu pembeli mencoba mencairkan suasana. Untuk apalagi selain minta diskonan? Begitulah naluri ibu-ibu.
Dengan kepiawaian Kang Nyata berargumentasi, sepatu kulit itu tetap dibeli seharga tiga ratus ribu rupiah. Sang Ibu merasa puas dengan kualitas sepatu kulit asli Cibaduyut, begitupun dengan Kang Nyata, sang pemilik toko sepatu yang diberi nama “Toko Sepatu Kulit Asli Cibaduyut”.
Namanya Sunyata Sudjana. Biasa di panggil Kang Nyata. Usianya 27 tahun dan berasal dari bandung. Saat ini ia sedang membuka usaha toko sepatu di Jakarta. Orangnya sangat gigih dan pantang menyerah dalam berusaha. Selama yang dilakukannya adalah hal yang baik, benar dan tidak melanggar aturan agama Islam yang dianutnya, maka ia akan memegang teguh prinsipnya. Dengan mengutamakan kualitas produk dan pelayanan kepada pembeli yang optimal, toko sepatu miliknya kini semakin ramai dikunjungi pembeli.
Kang Nyata tidak suka berselancar di internet. Gawai miliknya pun sangat sederhana dan hanya digunakan untuk menelepon orang tua dan rekan bisnisnya di Bandung. Baginya, prinsip melihat benda langsung yang nyata, bertemu, berbicara dan bertransaksi secara langsung dengan orang lain akan jauh lebih baik dan bermanfaat daripada sekedar melalui layar kaca/gadget. Itulah Kang Nyata, orang yang seratus delapan puluh derajat berbeda dengan Maya Maulida, sang konsultan keuangan.
***
            Sinta meminta Maya untuk menemaninya ke toko sepatu milik Kang Nyata. Kebetulan lokasinya tidak jauh dari kantor. Sambil tersungut-sungut akhirnya Maya berkenan menemani Sinta. Dengan mengendarai motor, Sinta memboncengi Maya yang masih saja protes.
            “Sin, kenapa gak lewat olshop aja sih belinya?”
            “Aku lebih suka beli langsung ke tokonya.”
            Lho, kan sama saja, kamu bisa lihat juga barangnya lewat handphone. Kalau kamu mau aku bisa pinjamkan gadgetku, gimana boleh ya?” Usul Maya. Harapannya saat ini adalah kembali ke kantor dan menikmati ruangan ber-ac miliknya sambil bersantai ria dengan ponsel pintarnya.
            Sinta menolak sambil tersenyum, “Aku lebih suka memegang dan mencoba barangnya langsung daripada lewat olshop”. Kali ini dia berhasil mengajak sahabatnya itu keluar kantor dan berpanas-panas ria menyusuri jalan ke toko sepatu Kang Nyata. Maya kecewa dan akhirnya pasrah menuruti permintaan Sinta.
            “Tenang saja, Maya. Toko ini bagus dan nyaman, kok. Ada AC nya juga. Aku sudah beberapa kali ke sana, pemilik tokonya baik dan ramah”. Sinta mencoba menenangkan Maya yang masih menggerutu di belakang. “Baguslah kalau ada AC nya.” Jawab Maya singkat.
Sinta tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu. Dasar olshop mania, pikirnya. Sambil menyelam minum air. Sambil beli hadiah untuk papa dan mama, aku akan memberi tahu Maya tentang asyiknya berbelanja langsung ke toko. Sinta membatin dalam hati. Mereka pun akhirnya sampai di toko “Sepatu Kulit Asli Cibaduyut”. Suasana di dalam toko cukup ramai pembeli.
“Assalamu’alaikum, Kang Nyata”. Tegur Sinta.
Kang Nyata yang sedang asyik merapikan sepatu segera menoleh dan berkata, “Wa’alaikumussalam, Eh, neng Sinta. Silakan masuk, neng”.
Sinta memperkenalkan sahabatnya yang masih saja cemberut, “Kenalkan ini teman saya, Maya.”
“Oh, iya. Assalamu’alaikum neng Maya. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Kang Nyata.
            “Saya tidak akan beli sepatu di sini. Saya sudah punya langganan toko sepatu online shop.” Jawab Maya ketus.
            “Oh, begitu, nuhun, tidak apa-apa. Silakan neng Sinta dan neng Maya lihat-lihat dulu. Boleh di coba, ini sepatu kulit asli dari Cibaduyut. Harganya juga terjangkau, sesuai dengan kualitas produk kami yang sudah tidak di ragukan lagi”. Kang Nyata mencoba menjelaskan beberapa produk ‘best seller’ di toko tersebut.
            “T I D A K  P E R L U! Sepatu di sini modelnya kuno semua, J A D U L !” Ketus Maya dengan nada tinggi sambil sengaja menjatuhkan beberapa pasang sepatu dari rak yang telah tersusun rapi.
            Kang Nyata tidak terima atas perlakuan Maya, “Eleuh..eleuh..si eneng menghina ya? Apa maksud Anda? Kamu telah menghina produk dalam negeri. Ini teh asli buatan Indonesia, neng. Asli tanpa tiruan”.
            Maya meremehkan, Halah, paling juga harganya murahan. Dilihat dari jauh aja gak ada bagus-bagusnya, tuh!” Mereka berdua kembali adu mulut. Beberapa pembeli memutuskan meninggalkan toko. Sinta belum berhasil melerai.
            Kang Nyata masih adu argumen, “Eh, neng Maya lebih suka online shop ya? Nah, itu mah kudu hati-hati neng, banyak penipuan. Bilangnya barang bagus di online, ternyata pas di terima malah banyak cacatnya”. Maya mendengus kesal mendengarnya.
“Tetapi barang yang saya beli bagus-bagus, kok” Maya tetap tidak mau kalah.
Sinta mengambil kesempatan, “Oh iya, May. Bener tuh kata Kang Nyata. Kamu ingat ketika beli baju di olshop tiga hari lalu? Ketika barangnya sampai ternyata ukurannya kekecilan kan? Dan  kamu akhirnya gak mau pake baju itu, iya kan?” Maya terdiam dan tertunduk malu. Kang Nyata berbalik dan meninggalkan mereka berdua. Percuma berdebat dengan online shop mania, pikirnya.
            Sinta mencoba menasehati, “May, kamu tidak perlu kasar begitu. Kang Nyata hanya menjelaskan produknya, kok”.
            “Aku gak suka, Sin. Tempatnya terlalu sempit, AC nya juga kurang dingin, gerah. Kita kembali ke kantor saja, yuk!” Ajak Maya. Sinta menahannya.
            “Sebentar, kamu janji mau menemaniku membeli hadiah buat papa mama, kan? Sinta menatap Maya serius dan tegas. Maya kembali mengalah. Akhirnya mereka berdua berkeliling. Selang sepuluh menit, Maya mencoba memegang salah satu produk sepatu kulit wanita di hadapannya. Hmm, ternyata bagus juga. Pikirnya. Ia pun mencoba sepasang sepatu kulit warna hitam yang elegan. Nyaman sekali di pakainya, aku baru tahu kalau ada sepatu kulit senyaman ini. Harganya pun terjangkau. Gak kalah dengan produk olshop yang biasa aku beli. Pas banget untuk dipakai ke kantor. Kualitas sepatu Cibaduyut ini memang bagus. Maya terus membatin. Tanpa sadar, Kang Nyata dan Sinta sudah berada di dekatnya.      
“Butuh ukuran berapa, neng? Biar saya carikan stoknya?” Tanya Kang Nyata.
            “Eh, hmm, anu, hmm..39, Pak.” Jawab Maya gugup. Ia merasa malu karena telah meremehkan kuaitas barang yang ada di toko ini. 
            Sinta menambahkan, “Gimana, May? Naksir sama sepatunya? cocok tuh buat kamu”.
            “Iya, Sin. Keren dan eksotis. Maaf ya, Kang Nyata. Saya telah menghina dan meremehkan barang-barang di toko ini”. Maya memberanikan diri untuk meminta maaf.
            “Neng Maya tahu satu hal yang hanya bisa dilakukan jika belanja langsung ke toko?” tanya Kang Nyata. “Apa?” Maya berpikir keras.
            “Ini yang selalu jadi andalan ibu-ibu, menawar harga barang sampai 50 persen” Jawab Kang Nyata sambil tersenyum. “Hahaha..” akhirnya kami bertiga tertawa bersama.
-Selesai -


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Koleksi Gubahan Lagu - Ilmu Tajwid

NURUL vs FIKRI - Cerpen anak seri karakter Disiplin & Bertanggung Jawab

6 MUTIARA GURU SIT ZAMAN NOW