sumber gambar : voa-islam.com
MENJADI GURU RADIKAL? SIAPA TAKUT!
Oleh
: Siti Nurhasanah,
S.Pd.I
I. Pendahuluan
“Karakter bukan diajarkan lewat teori dan wejangan,
karakter diajarkan pakai teladan dengan contoh nyata” (Anies Baswedan)
Sepakat. Satu kata yang pantas
diucapkan setelah membaca kata mutiara Bapak Anies Baswedan diatas. Penanaman karakter kepada peserta didik akan jauh lebih efektif dan efisien melalui contoh langsung/teladan daripada sekadar kata-kata. Sebagai contoh, bagaimana jika Anda melihat
seorang guru yang mengajak siswanya untuk membuang sampah pada tempatnya, namun
ia sendiri masih membuang sampah seenaknya? Hasilnya sudah dapat ditebak.
Peserta didik tidak akan menuruti ajakan guru tersebut, dan penanaman karakter tentang
menjaga kebersihan lingkungan akan semakin jauh dari harapan.
Lalu apa definisi karakter? Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia karakter memiliki arti tabiat; sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi
pekerti yang membedakan seseorang dengan
yang lain. Berkarakter artinya mempunyai tabiat; mempunyai kepribadian;
berwatak. Guru yang unggul dan berkarakter positif sangat diharapkan dapat membangun
peradaban bangsa Indonesia menjadi lebih baik lagi. Jadilah guru ‘Radikal’ dan
mari kita mulai dari sekarang. ‘Radikal’ disini bukan berarti
guru tersebut memakai cadar atau bercelana cingkrang. Mari
kita serahkan polemik tersebut kepada ahlinya. Ada lima karakter guru ‘Radikal’
yang dapat kita pelajari serta aplikasikan dalam dunia pendidikan. ‘RADIKAL’ merupakan singkatan dari Rajin, Antusias, Disiplin, Integritas dan banyak aKAL.
Lima karakter ini dapat menjadi modal awal bagi seorang
guru untuk memberikan contoh nyata dan teladan bagi peserta didik hingga membentuk
generasi unggul yang berakhlak mulia di kemudian hari. Berikut penjelasannya.
II. Pembahasan
Karakter 1 : Rajin
Rajin artinya suka bekerja (belajar dan sebagainya);
getol; sungguh – sungguh bekerja;
selalu berusaha giat.
Allah swt mengingatkan kita semua dalam surat
Al-Insyiqaq ayat 6, “Hai
manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya”. Dari ayat tersebut kita berkesempatan
untuk introspeksi diri bahwa bekerja bukan semata-mata untuk kehidupan dunia,
namun sebagai bekal utama di akhirat kelak dan berjumpa dengan Allah swt dengan
amal terbaik yang kita miliki.
Sebagai seorang
guru kita harus menyukai profesi yang mulia ini. Jangan ada lagi rasa malas atau terpaksa menjadi seorang guru. Ingatlah masa depan generasi muda ada di
tanganmu. Guru yang rajin membaca buku, belajar tentang banyak hal yang
bermanfaat, serta bersungguh-sungguh dalam melaksanakan tugasnya akan menambah nilai
positif dibandingkan dengan guru yang ‘biasa-biasa’ saja. Bayangkan jika di
hadapan kita terlihat salah satu peserta didik yang awalnya merasa takut,
canggung, bahkan menangis jika diminta berbicara di depan kelas. Dengan kesungguhan pendampingan, latihan-latihan serta modal referensi bacaan kita yang bervariasi dapat menjadikan anak tersebut menjadi lebih percaya diri tampil
di depan kelas.
Karakter 2 : Antusias
Antusias artinya bergairah;
bersemangat. Apa jadinya jika seorang guru terlihat 4L? Lelah, lesu,
lemas, dan lunglai terlihat dari wajah dan sikap dalam kesehariannya. Sangat mungkin peserta didik
yang diajarkan akan mengalami hal
yang sama. Ungkapan ‘Like Teacher Like Student’ tentu dapat menjadi kenyataan. Karakter antusias seorang
guru akan menularkan semangat yang luar biasa kepada peserta didik.
Menurut Suyanto dan Asep Jihad dalam bukunya ‘Menjadi Guru Profesional’
disebutkan bahwa penampilan guru yang menarik menjadi salah satu titik awal untuk menarik minat siswa mengikuti setiap pelajaran dengan semangat tinggi. Penampilan menarik tidak harus mahal. Pastikan pakaian
kita selalu bersih, rapi, wangi dan sangat nyaman di pandang mata.
Gunakan sapaan yang khas, kisah motivasi, tebak-tebakan,
atau trik ice breaking yang variatif untuk menarik minat siswa pada awal
pembelajaran. Pilih variasi metode pembelajaran ‘Student
Centered Learning’ yang dapat memastikan seluruh siswa berperan aktif dalam
setiap pembelajaran. Berikan reward, pujian, apresiasi atau punishment
sesuai dengan kesepakatan bersama. Tampillah di hadapan siswa dengan penuh
antusias dan bersemangat. Kita lihat selanjutnya, anak-anak pun akan ikut
antusias dalam proses pembelajaran tersebut.
Karakter 3 : Disiplin
Disiplin artinya ketaatan (kepatuhan) kepada peraturan (tata tertib dan sebagainya). Jangan berharap peserta didik kita akan datang tepat waktu ke sekolah jika
guru sering terlambat. Rasanya tidak mungkin anak didik dapat tertib saat upacara sedangkan para guru berbaris di depan dan berbicara banyak hal dengan teman sejawat di sebelahnya. Maka karakter disiplin seorang guru menjadi salah satu kunci sukses penanaman karakter disiplin pada siswa.
Dalam surat Al-Ashr ayat 1-3 Allah swt
berfirman, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian. Kecuali
orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan nasihat-menasihati supaya
menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran”. Al-Ashr
artinya zaman atau masa yang padanya Bani Adam bergerak melakukan perbuatan
baik dan buruk. Allah swt bersumpah
dengan menyebutkan bahwa manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, yakni
rugi dan binasa. Maka dikecualikan dari jenis manusia yang terhindar dari
kerugian, yaitu orang-orang yang beriman hatinya dan anggota tubuhnya
mengerjakan amal-amal yang shalih. Yakni menunaikan dan meninggalkan semua yang
diharamkan. Yaitu tabah menghadapi musibah dan malapetaka serta gangguan yang
menyakitkan dari orang-orang yang ia perintah melakukan kebajikan dan ia larang
melakukan kemungkaran.
Guru yang tidak disiplin secara
otomatis menjadi orang yang merugi. Tidak taat pada
aturan, berbuat semaunya sendiri tanpa berpikir bahwa hal tersebut berpengaruh pada peserta didik atau tidak.
Padahal sang waktu tidak akan pernah kembali. Ia akan terus melaju dan menjauh
meninggalkan orang-orang yang tidak dapat memanfaatkan waktu dengan amal
terbaiknya. Mari bersama kita tingkatkan disiplin diri demi
masa depan Indonesia yang lebih baik
lagi.
Karakter 4 : Integritas
Integritas
profesi guru untuk kesekian kalinya tercoreng. Dalam beberapa waktu terakhir,
ada tiga kasus yang muncul. Tanggal 27 Mei 2013, seorang guru SD di Depok dilaporkan ke polisi karena diduga mencabuli
tujuh orang siswinya. Tanggal 28 Mei 2013, seorang Kepala SMAN di Kota
Tangerang ditangkap polisi karena menggunakan narkotika jenis sabu. Kemudian
tanggal 3 Juni 2013, seorang Kepala SMKN di Kota Bandung juga dilaporkan ke
polisi atas dugaan pelecehan seksual kepada lima orang siswinya. Selain tiga
kasus tersebut, sudah banyak kasus yang melibatkan guru baik kasus kekerasan,
asusila, dan penyalahgunaan narkotika.
Integritas artinya mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki
potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan; kejujuran. Seseorang yang
memiliki integritas adalah yang bisa menjaga harga diri, martabat, dan wibawanya. Ia juga akan tahan terhadap
berbagai macam godaan karena dia sadar hal tersebut bisa menjerumuskannya
kepada kehinaan.
Wachid Nugroho dalam bukunya Mozaik Integritas
Guru menyatakan bahwa jika para pendidik (guru), para penyelenggara sekolah dan
para siswa memiliki rasa percaya diri dan kemauan untuk mewujudkan pendidikan
karakter, mengelola dan selalu berinovasi dalam pembelajaran secara
profesional, merangkai kembali peran dan tanggung jawab guru sebagai pemimpin
pembelajaran dan menjadi sosok suri tauladan dalam bertutur, bersikap, dan
berperilaku maka sesungguhnya sekolah menjadi tempat yang mengasyikkan,
menyenangkan, menantang dan menjadikan seseorang siswa dapat meraih masa
depannya.
Marilah kita terus mencoba
menjaga dan meningkatkan integritas sebagai guru. Teguhkan pendirianmu, karena
masa depan anak bangsa ada di tanganmu.
Karakter 5 : Banyak
Akal
Banyak akal disini dapat diartikan juga kreatif, khususnya dalam hal mengatasi tantangan dan masalah dalam mendidik anak-anak (problem solving). Para
guru dewasa ini merasa kesulitan mendidik dan mengajar siswanya.
Mengapa? Karena para siswa telah memiliki ‘guru-guru’ baru yang disebut dunia maya
(internet, facebook, twitter,
Instagram, line dan lain-lain). Lalu apa yang harus guru lakukan saat ini?
Karakter ‘banyak akal’
alias kreatif menjadi suatu
keniscayaan. Kita tidak mungkin menghilangkan atau menghambat akses internet yang sudah mendunia. Namun kita sangat mungkin bekerjasama dengan baik dan
benar dengan ‘guru-guru’ baru tersebut untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
Unduh berbagai video terkait materi pembelajaran, putar
video tersebut di kelas dan mari diskusikan bersama. Berbagai informasi dunia terbaru atau
variasi ice breaking dapat kita jadikan sebagai motivasi pada saat
apersepsi sebelum pembelajaran inti dimulai. Masih banyak hal yang bermanfaat
yang dapat kita ambil dari akses internet. Ingatkan dan beri pemahaman khusus
tentang akses internet yang baik atau buruk untuk siswa. Miliki berbagai akun di media sosial dan
bersahabatlah dengan peserta didik kita lalu berikan
arahan positif terhadap postingan mereka.
Perhatikan ilustrasi berikut. Seorang guru telah
menyiapkan berbagai perlengkapan audio visual untuk pembelajaran yang akan
dilakukan. Tiba-tiba listrik padam. Semua perangkat yang telah disiapkan
otomatis tidak dapat digunakan. Disinilah peran banyak akal/kreatif seorang
guru dibutuhkan. Siapkan selalu rencana A, B, C dan seterusnya dengan berbagai
kemungkinan sebelum pembelajaran dimulai. Pada contoh kasus listrik padam
diatas, kita dapat mengajak para siswa ke luar kelas dan melakukan berbagai
pengamatan langsung, wawancara, bermain kuis, atau diskusi kelompok dengan
lembar kerja siswa dan media cetak/ dua dimensi sebagai cadangan. Pembelajaran
akan tetap berlangsung dan terlihat menarik untuk siswa. Menjadi seorang guru
memang harus banyak akal, agar siswa juga merasa ilmu yang di terimanya bukan
‘abal-abal’.
III. Penutup
Guru unggul dan berkarakter merupakan salah satu
pilar keberhasilan dalam membangun peradaban yang lebih baik di masa depan. Ada
lima karakter guru ‘RADIKAL’ yang
dapat menjadi modal utamanya. ‘Radikal’ merupakan singkatan dari Rajin, Antusias, Disiplin, Integritas, dan banyak aKAL.
Jadilah seorang guru yang benar-benar patut digugu
dan ditiru. Lihatlah para calon pemimpin bangsa yang ada di hadapanmu. Optimislah,
perbanyak senyum dan hilangkanlah cemberut. Jauhkan sikap pesimis yang
berlarut-larut. Walau negeri Indonesia kini mungkin sedang carut marut. Namun
semangat mendidik dan membina jangan pernah surut. Perbaiki kualitas diri
secara runut. Menjadi guru radikal? Siapa takut!
Referensi :
kbbi.web.id
Nugroho,
Wachid.2018. Mozaik Integritas Guru.
Sukabumi : CV Jejak
Suyanto dan Asep Jihad.
2013. Menjadi Guru Profesional.Jakarta:
Erlangga.
Syukur Salman, Muhammad.
2018. Menjadi Guru Yang Dicintai Siswa.
Yogyakarta: Deepublish Publisher.
https://www.kompasiana.com/idrisapandi/552fbff86ea83403308b457e/integritas-profesi-guru diakses pada tanggal 11 November 2019.
https://ibnukatsir-tafsir.blogspot.com/2018/05/103-tafsir-surat-al-ashr-ayat-1-3.html diakses
pada tanggal 12 November 2019.

Komentar
Posting Komentar