Ibu adalah Inspirasiku - For kompetisi literasi Inspiring Women
Tahun 2000, tahun berduka kami.
Innaalillaahi wa Innaa ilayhi roojiuun. Telah berpulang ke rahmatullah. Bapak H.M. Kosim bin H.Ma’mun.
Tanggal 26 Maret 2000. Hari yang kelabu bagiku. Usia remaja, 16 tahun usiaku
saat itu. Pelajar di kelas 2 SMU Negeri di salah satu sudut teduh kota Cibinong.
Masa belia, semangat menggelora, masa menemukan jati diri, berjuta asa, dan
segudang cita-cita. Tetapi, semua seakan sirna. Saya pun putus asa, bingung,
galau, dan shock berat atas takdir yang telah Allah gariskan.Ya, Ayah
meninggalkan kami semua karena sakit diabetes yang dideritanya. Tiga pekan
lamanya Abah, panggilan kami padanya, dirawat di salah satu rumah sakit swasta
di kota Depok. Mba Siti Komariah, kakak yang persis 3 tahun diatasku yang
menyaksikan untuk terakhir kalinya, mendampingi saat kepergian abah dengan
sangat mudah. Bersin tiga kali, melihat ke atas, lalu mata terpejam sempurna.
Alhamdulillah. Tangis kami sekeluarga pun pecah. Saat dokter menyatakan bahwa Abah
telah meninggal dunia. Telah kembali kepada penciptanya. Mataku basah. Bibirku
bergetar. Dada bergemuruh. Tubuhku lunglai. Tak mampu lagi berkata-kata. Kutatap
tubuh kaku seseorang yang sangat berharga. Seorang yang sangat penyayang,
pekerja keras, sabar, tak pernah marah terhadap anak-anaknya. Ah..Bagiku, abah
sangat istimewa. Terlalu banyak hal yang tak dapat kulupakan bersamanya. Semua tentang
nilai kehidupan yang diajarkan, semua perhatian yang telah diberikan, hingga
saat ini. Abah tak pernah banyak berkata-kata. Ia selalu berbicara secukupnya.
Namun, tindakan dan teladannya sangat lebih dari cukup bagi kami anak-anaknya
untuk meniru apa yang dilakukannya. Lewat teladannya, Abah mengajarkan kami
kuat, semangat, rajin belajar, jangan pernah menyerah selama hal yang dilakukan
itu adalah kebaikan. Pernah pada suatu saat, Abah berbicara padaku, pelan tapi
penuh keyakinan,“Ana..nanti kamu pasti akan kuliah, pasti. Insya Allah”. Aku
hanya terdiam. Sama sekali tak mengerti makna kata-katanya, mungkin karena saat
itu aku masih duduk di kelas 6 SD. Aku rindu Abah. Ah, kini mata dan hatiku meleleh lagi.
Doa tulusku akan selalu ku lantunkan, akan selalu ku lafazkan, di setiap
sujud-sujud panjangku. Kapanpun dan dimanapun aku ingat Abah, doa anak
perempuan kesayanganmu ini tak akan pernah putus untukmu. Percayalah Abah. “Alloohummaghfirlahuu..warhamhuu..wa
aafihii..wa’fuanhu”. Duhai Allah...kabulkanlah setiap doaku untuk Abah.
Rindu...
Yang membuncah di kalbu..
Tak terganti dengan bayangmu
Air mata ini meleleh slalu
Doa tulusku..
Akan senantiasa untukmu...
"Kan ku buktikan ku mampu penuhi maumu"
Yang membuncah di kalbu..
Tak terganti dengan bayangmu
Air mata ini meleleh slalu
Doa tulusku..
Akan senantiasa untukmu...
"Kan ku buktikan ku mampu penuhi maumu"
#miss #father #doa #abah #staystrong
"YANG TERBAIK BAGIMU" (ada band feat gita gutawa)
Teringat masa kecilku
Kau peluk dan kau manja
Indahnya saat itu
Buatku melambung
Disisimu terngiang
Hangat nafas segar harum tubuhmu
Kau tuturkan segala
mimpi-mimpiSerta harapanmu
Kau ingin ku menjadi
Yang terbaik bagimu
Patuhi perintahmu
Jauhkan godaan
Yang mungkin kulakukan
Dalam waktuku beranjak dewasa
Jangan sampai membuatku
Terbelenggu jatuh dan terinjak
Chorus:
Tuhan tolonglah
sampaikan Sejuta sayangku untuknya
Ku terus berjanji
Tak kan khianati pintanya
Ayah dengarlah
betapa sesungguhnya ku mencintaimu
Kan ku buktikan ku mampu penuhi maumu
Andaikan detik itu
Kan bergulir kembali
Kurindukan suasana
Basuh jiwaku
Membahagiakan aku
Yang haus akan kasih dan sayangmu
Tuk wujudkan segala sesuatu yang pernah terlewati..
(back to chorus)
"YANG TERBAIK BAGIMU" (ada band feat gita gutawa)
Teringat masa kecilku
Kau peluk dan kau manja
Indahnya saat itu
Buatku melambung
Disisimu terngiang
Hangat nafas segar harum tubuhmu
Kau tuturkan segala
mimpi-mimpiSerta harapanmu
Kau ingin ku menjadi
Yang terbaik bagimu
Patuhi perintahmu
Jauhkan godaan
Yang mungkin kulakukan
Dalam waktuku beranjak dewasa
Jangan sampai membuatku
Terbelenggu jatuh dan terinjak
Chorus:
Tuhan tolonglah
sampaikan Sejuta sayangku untuknya
Ku terus berjanji
Tak kan khianati pintanya
Ayah dengarlah
betapa sesungguhnya ku mencintaimu
Kan ku buktikan ku mampu penuhi maumu
Andaikan detik itu
Kan bergulir kembali
Kurindukan suasana
Basuh jiwaku
Membahagiakan aku
Yang haus akan kasih dan sayangmu
Tuk wujudkan segala sesuatu yang pernah terlewati..
(back to chorus)
Tahun 2001, antara keinginan dan kenyataan
Saat kelas 3 SMU, aku kembali
terdiam membisu. Bingung atas apa yang akan terjadi padaku, pada kehidupanku,
pada cita-citaku. Di saat teman-teman di sekelilingku mulai sibuk menyiapkan untuk
melanjutkan studi ke bangku kuliah, sedangkan aku? Entahlah. Ironis. Aku tak
dapat berpikir jernih saat itu. Kenapa aku? Kenapa aku yang tak bisa kuliah?
Aku cukup cerdas. Aku mempu bersaing dengan puluhan teman-temanku saat itu. Aku
adalah siswa teladan,terbaik, dan memperoleh beasiswa di jenjang SMP ku dulu.
Bahkan juara umum. Di SMA, akupun sempat memperoleh beasiswa karena berhasil
memperoleh ranking 5 besar di kelas. Ahh...mengapa ini terjadi padaku?? Ini
tidak adil! Itulah perasaanku saat itu. Seakan-akan menyalahkan keadaan.
Seolah-olah tak mau menerima takdirNya. Darah mudaku mendidih, marah akan
kondisi yang terjadi padaku. Jiwa labilku berontak. Tak siap melawan himpitan
dan sesaknya dada atas ujian hidup yang harus kuterima. Tak ada biaya. Yah,
begitulah kondisinya. Setelah Abah meninggal dunia, kami sekeluargapun harus
mengatur strategi agar tetap bisa ‘menghirup’ indahnya dunia. Tinggal dua orang
yang masih sekolah. Aku dan adik laki-laki bungsu yang berbeda 3 tahun denganku.
Namanya Muhammad Lutfi. Lembut seperti namanya. Tapi jika ingin sesuatu, pasti
semua orang di rumah akan sibuk memenuhinya. Itulah adik bungsuku, kebanggaanku.
Akhirnya, aku memilih mengalah. Segera aku kubur dalam-dalam keinginanku untuk
kuliah. Aku hanya bisa berpikir, anak laki-laki itu harus kuliah, harus. Itu akan
sangat bermanfaat baginya. Bagi masa depannya kelak, karena dia akan menjadi
seorang pemimpin keluarga. Lutfi seorang anak yang cerdas, bahkan lebih cerdas
dariku.Tanpa pikir panjang lagi, aku segera berkata pada ibuku saat itu,
“Mamih, biar Lutfi aja yang kuliah ya. Ga apa-apa kok.” Sedih, namun tetap
harus dihadapi. Mataku tertunduk, segera beralih ke kamar mandi, khawatir air
mata ini terlanjur tumpah dan diketahui oleh ibuku. Padahal hatiku berontak,
namun aku mencoba untuk tetap ikhlas, tetap kuat dan tegar seperti yang
diajarkan abah padaku. The life must go on. Itulah keputusanku.
Aku lulus SMU pada bulan juli 2001.
Alhamdulillah dengan nilai cukup memuaskan. Keesokan harinya setelah wisuda dan
pelepasan siswa angkatan 2001, resmi sudah saya menyandang predikat sebagai
‘pengangguran baru’. Aku coba mengikuti tes penerimaan karyawan di sebuah
pabrik elektronik, namun gagal saat proses interview, sehingga aku tidak
diterima. Berpindah ikhtiar lagi untuk menjadi seorang karyawati di sebuah
pabrik makanan tempat kakak sulungku bekerja. Setelah melakukan tes dan wawancara,
hasilnya tidak lulus juga. Aku menangis lagi. Beginilah aku. Orang yang sangat
sensitif, terlalu halus perasaan, dan amat sangat mudah mengeluarkan air mata,
mudah sekali terharu, baik dalam keadaan suka , apalagi berduka. Aku malu pada
ibuku. Ketika pulang ke rumah tanpa hasil yang diharapkan. Aku masih tetap
‘pengangguran’ kurang lebih selama 2 tahun lamanya. Waktu yang sangat lama dan
menyakitkan bagiku.
Tahun 2004 : tawaran itu datang.
Apa? Mengajar
Taman kanak-kanak (TK) ? Yang benar saja. Itu pikirku dalam hati saat tawaran
itu datang. Seumur hidup, tak pernah sekalipun aku berpikir untuk menjadi
seorang guru, apalagi guru TK. Nggak banget deh. Penyebabnya mungkin
karena ibuku juga seorang guru TK. Masa sama pekerjaan ibu sama anaknya?
Pikirku. Aku melihat sendiri bagaimana repotnya mamih saat mengajar anak-anak
kecil di TK. Urusan gaji? Gak recomended banget. Honor guru TK sangat kecil. Dibawah Rp500.000,- saat
itu. Seorang teman yang mengajakku mengajar TK memberikan aku waktu untuk
berpikir. Menerima atau menolak tawaran itu? Aku bingung. Kutanya pada ibuku, “Mamih,
ngajar TK itu enak ga sih?”. Mamihku berkata, “Enak kok..selalu gembira,
selalu ceria, karena nyanyi-nyanyi terus. pokoknya awet muda deh. Liat mamih,
masih awet muda khan..hehehe”. Itulah mamihku. Di usianya yang terbilang
tidak muda lagi, ia tetap mau mengajar TK. Pekerjaan yang notabene pekerjaan
paling ‘ribet’ di dunia menurutku. Bayangkan, mengajar anak-anak kecil usia
mulai 3-5 tahun, dengan berbagai gaya dan karakter anak-anak yang
‘menggemaskan’, sulit diatur, lari kesana kemari. Waduhh..pokoknya ngebayanginaja
sudah keluar keringat dingin di sekujur tubuh, apalagi benar-benar ‘terjun’
langsung? Namun, seriring waktu berjalan, aku banyak diberikan motivasi oleh
ibuku tercinta. Bahwa kita harus memiliki banyak pengalaman hidup, apapun
bentuknya. Anggap saja pekerjaan mengajar TK itu sebagai batu loncatan yang
mungkin membawa kita kepada pengalaman/ pekerjaan yang lebih baik lagi. “Lagipula,
mengajar itu pahalanya besar lho..jika satu anak saja melakukan yang kita
ajarkan, pahalanya akan terus mengalir kepada kita selama anak itu
melakukannya. Nanti mamih ajarin lagu-lagunya deh..” Mamihku menambahkan lagi.
Aku merenung. Benar juga, pikirku. Walau tanpa basic pendidikan untuk
TK, tanpa pengalaman sebelumnya, aku nekat saja. Langsung kuhubungi temanku dan
menerima tawaran itu. Yap, aku menjadi seorang guru TK. Ternyata mengajar TK
itu menyenangkan, maka aku menerima satu tawaran lagi. Mengajar anak-anak Taman
Pendidikan Al-Quran (TPA) di sore hari. Jadi, sibuklah saya untuk mengajar TK
di pagi hari, dan TPA di sore harinya. Kunikmati semuanya dengan rasa syukur,
walau honornya tak seberapa, namun aku mendapat pengalaman hidup yang luar
biasa. Berbagai bentuk dukungan sangat kurasakan dari ibuku. Hampir setiap hari, kami berdiskusi dan bertukar lagu-lagu atau
permainan untuk anak-anak TK. Ah, mamih..kau guru TK yang hebat. You are the best mom for me.
Tahun 2005 : Bom waktu tentang haus akan ilmu
Keinginan kuliah yang tertunda, ibarat sebuah bom waktu bagiku. Haus
akan ilmu, apalagi setelah mengajar TK dan TPA, keinginan kuliah makin
membuncah. Tersadarkan akan kondisi, tentang biaya kuliah yang makin meninggi.
Teringat kembali kebutuhan adik bungsu yang juga harus kuliah, maka kuurungkan
niatku. Setelah mendapat berbagai informasi, akhirnya aku memilih ikut semacam
kursus di lembaga Tahsin dan Tahfizh Al-quran yang jaraknya tak jauh dari
rumahku. Biayanya pun terjangkau. Aku bisa menyisihkan sedikit honorku mengajar
untuk mendaftar dan membayar uang pendidikan selama di lembaga tersebut.
Alhamdulillah, aku mendapat banyak ilmu baru. Tahsin adalah belajar memperbaiki
bacaan Al-quran. Aku selesaikan selama 1 semester (kurang lebih 5 bulan dan
dinyatakan lulus). Masuk ke program tahfizh (menghafal Al-Quran), satu juz
selesai dalam satu semester. Dalam 4 semester, saya memperoleh hafalan sebanyak
4 juz dan telah diujikan. Mamih sangat mendukung kegiatanku. Kata-kata mamih yang
selalu aku ingat hingga detik ini adalah, “Kalau orang lain bisa,
kenapa kita gak bisa?” Yap! Itulah motivasi terbaik dalam hidupku.
Tahun 2007: Menjadi guru SekolahDasar (SD)
Seorang
guru di lembaga Tahfizh tempatku belajar, memberikan informasi lowongan pekerjaan sebagai
guru Al-Quran di salah satu Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) di kota Depok. Dengan motivasi dari mamihku,
akhirnya aku berani mencoba.Kata-kata motivasi dari mamih selalu terngiang-ngiang di
kepalaku. Alhamdulillah, saya diterima menjadi guru Al-Quran di sekolah tersebut. Namun,
hambar. Aku merasa ada yang kurang,
merasa butuh ilmu lebih tentang pendidikan anak-anak usia SD. Setahun setelah menjadi
guru, aku berniat untuk kuliah.
Tahun2008 : Akhirnya bisakuliah
Aku nekat, memutuskan kuliah yang
dekat dengan lokasi mengajarku. Kuambil
program
studi S1 PGSD. Dengan biaya sendiri, aku menguras sebagian besar tabungan yang ada. Pagi mengajar,
sore kuliah hingga malam. Sangat lelah,
tapi sangat kunikmati. Karena kuliah keinginan terpendam sejak lama. Mengajar
sambil kuliah butuh energi. Pernah juga hingga drop sakit (darah rendah) hingga
pingsan di rumah sendiri. Tetapi,
semangatku terus terpatri. Mamihku tak pernah berhenti memberiku inspirasi. Kata-kata
itu terngiang kembali, “Kalau orang lain bisa, kenapa kita gak bisa?” .Bahagianya menjadi mahasiswi. Dengan segudang tugas
yang menguras energi, namun ilmu yang bermanfaat ku dapatkan pasti. Bulan April 2011
aku menikah dengan laki-laki sholih idaman hati. Januari2012 aku lulus S1 PGSD
dengan nilai IPK tertinggi. Sujud syukur dan dzikir yang tiada henti. Aku berhasil. Alhamdulillah,
terimakasih Allah.Terimakasih mamih. Ini semua karena motivasi, doa ,dan inspirasimu
yang tiada henti. Bahkan hingga detik ini (sambil mengusap air mata). Ibu adalah Inspirasiku.
BUNDA-MELLY GOESLAW
Kubuka album biru
Penuh debu dan usang
Ku pandangi semua gambar diri
Kecil bersih belum ternoda
Pikirkupun melayang
Pikirkupun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatku
Reff: Kata mereka diriku slalu dimanja
Reff: Kata mereka diriku slalu dimanja
Kata mereka diriku slalu dtimang
Nada nada yang indah
Nada nada yang indah
Slalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirku
Takkan jadi deritanya
Tangan halus dan suci
Tlah mengangkat diri ini
Tangan halus dan suci
Tlah mengangkat diri ini
Jiwa raga dan seluruh hidup
Rela dia berikan
Back to reff
Oh bunda ada dan tiada dirimuKan slalu ada di dalam hatiku
Back to reff
Oh bunda ada dan tiada dirimuKan slalu ada di dalam hatiku
Depok, 22 Desember 2017
Pkl 17.40
-di sudut ruangan Guru Putri SDIT NURUL FIKRI-

Komentar
Posting Komentar