RESENSI NOVEL - RINDU by TERE LIYE

 
Oleh : Siti Nurhasanah
  1. Judul resensi                          : Menata hati melalui lima kisah yang menginspirasi
  2. Identitas buku
A.    Judul Buku                        : Rindu
B.     Penulis                               : Darwis Tere Liye
C.     Editor                                : Andriyanti
D.    Penerbit                             : Republika
E.     Tahun Terbit                      : 2014
F.      Tebal Buku                        : 544 Halaman
  1. Pendahuluan
Tere Liye lahir pada 21 Mei 1979 di Lahat, Sumatra, Indonesia. Ia berasal dari keluarga sederhana. Orangtuanya petani biasa. Tere Liye tumbuh dewasa di pedalaman Sumatra. Sampai saat ini ia dikenal sebagai penulis novel. Beberapa karyanya yang pernah diangkat ke layar kaca yaitu Hafalan Shalat Delisa dan Moga Bunda Disayang Allah. Meskipun dia bisa meraih keberhasilan dalam dunia literasi Indonesia, kegiatan menulis cerita sekedar menjadi hobi karena sehari-hari ia masih bekerja kantoran sebagai akuntan.
Berikut saya tulis beberapa karya Tere Liye, semoga bisa menjadi bahan referensi : Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin (Gramedia Pustaka Umum,2010); Pukat (Penerbit Republika, 2010); Burlian (Penerbit Republika, 2009); Hafalan Shalat Delisa (Penerbit Republika, 2005); Moga Bunda Disayang Alloh (Penerbit Republika, 2005); The Gogons Series : James & Incridible Incodents (Gramedia Pustaka Umum, 2006); Bidadari – Bidadari Surga (Penerbit Republika, 2008); Sang Penandai (Penerbit Serambi, 2007); Rembulan Tenggelam di Wajahmu (Grafindo 2006 & Republika 2009); Mimpi-Mimpi Si Patah Hati (Penerbit AddPrint, 2005); Cintaku Antara Jakarta dan Kualal Lumpur (Penerbit AddPrint, 2006); Senja Bersama Rosie (Penerbit Grafindo, 2008); Eliana, Serial Anak-Anak Mamak. (sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Tere_Liye_(penulis) )
Tema novel ‘Rindu’ ini adalah tentang perjalanan kerinduan menuju Tanah Suci Mekkah untuk beribadah haji. Siapa yang tak rindu untuk berkunjung dan beribadah di sana? Semua orang pasti rindu. Bahkan orang-orang yang telah melakukan umroh/haji pasti selalu merasakan rindu untuk kembali kesana.
Kesan saya terhadap novel ‘Rindu’ ini sungguh menginspirasi. Dengan lima pertanyaan dari lima kisah yang berbeda membuat saya merasa novel ini sangat bermanfaat bagi orang-orang yang memiliki pertanyaan yang sama pada kehidupannya.
  1. Isi resensi
“Ini adalah kisah tentang masa lalu yang memilukan. Tentang kebencian kepada seseorang yang harusnya disayangi. Tentang kehilangan kekasih hati. Tentang cinta sejati. Tentang kemunafikan. Lima kisah dalam sebuah perjalanan panjang kerinduan.”
‘Rindu’. Salah satu novel karya Tere Liye yang menyampaikan kisah kehidupan manusia sarat makna. Kisah tentang sebuah perjalanan panjang jamaah haji Indonesia pada tahun 1938. Tentang kapal uap Blitar Holland milik Belanda, dan juga tentang sejarah bangsa Indonesia.
Novel ini dikemas dengan alur maju yang mudah dipahami. Latar dalam novel ‘Rindu’ ini di dominasi oleh aktifitas para penumpang di kapal uap Biltar Holland, namun Tere Liye berhasil mengusir kebosanan pembaca dengan memunculkan beberapa tokoh, menyajikan berbagai konflik dan kisah yang menarik yang diluar dugaan. Lima pertanyaan beserta jawaban yang bijak dan sangat inspiratif muncul dari tokoh Ambo Uleng, Bunda Upe, Daeng Andipati, Mbah Kakung Slamet, dan dari Ahmad karaeng yang biasa dipanggil ‘Gurutta’. Ironisnya, Gurutta yang selalu dapat menjawab keempat pertanyaan tokoh lainnya dengan sangat bijaksana, menohok, dan juga menghibur, merasa menjadi orang paling munafik dan tidak dapat menjawab pertanyaan dari dalam diri sendiri. Berikut ini saya paparkan kelima pertanyaan berikut jawabannya yang menggugah hati, menginspirasi dan dapat diterapkan dalam sehari-hari. 
a)   Pertanyaan pertama
Tokoh pertama yang muncul adalah Daeng Andipati. Seorang pedagang Makassar yang kaya raya, baik hati, pintar, kharismatik, terhormat, dan juga cukup dekat dengan orang Belanda. Ia adalah salah satu jamaah haji yang mengajak istri, dua anak yang bernama Anna dan Elsa, dan seorang pembantu. Daeng Andipati memiliki kehidupan bahagia yang didambakan setiap orang. Namun ternyata ia memiliki pertanyaan yang tersembunyi dan selalu mengganjal di dalam hatinya. ‘Bagaimana mungkin ia naik haji membawa kebencian di hatinya? Apakah tanah suci akan menerima sesosok anak yang benci kepada ayahnya sendiri? Bagaimana cara memaafkan, melupakan semuanya?’ Ayah Daeng Andipati suka memukul. Jika marah, ayah Daeng Andipati akan memukul anak-anaknya. Ia juga suka memukul Ibu. Ia juga culas dalam berdagang.
Pertanyaan Daeng Andipati tersebut juga dijawab oleh Gurutta menjadi tiga bagian yang tidak terpisahkan satu sama lain. “Bagian yang pertama adalah, ketahuilah, Andi, kita sebenarnya sedang membenci diri sendiri saat membenci orang lain. Ketika ada orang jahat, membuat kerusakan di muka bumi, misalnya. Apakah Allah langsung mengirimkan petir untuk menyambar orang itu? Nyatanya tidak. Bahkan dalam beberapa kasus, orang- orang itu diberikan begitu banyak kemudahan, jalan hidupnya terbuka lebar. Kenapa Allah tidak langsung menghukumnya? Kenapa Allah menangguhkannya? Itu hak mutlak Allah. Karena keadilan Allah selalu mengambil bentuk terbaiknya, yang kita tidak selalu paham. Kita tidak seharusnya membenci orang lain, Allah sudah menganugerahkan kemampuan kepada kita untuk mengatur hati. Hati kita sendiri. Jadi, kenapa harus membenci?
“Bagian yang kedua adalah terkait dengan berdamai tadi. Ketahuilah, Nak, saat kita memutuskan untuk memaafkan seseorang, itu bukan persoalan apakah orang itu salah, dan kita benar. Apakah orang itu jahat atau aniaya. Bukan! Kita memutuskan memaafkan seseorang karena kita berhak atas kedamaian di dalam hati.”
“Bagian ketiga, terakhir, bagian yang sangat penting karena kau punya parangai keras kepala, tidak mudah menyerah, dan selalu menyimpan sendirian semuanya. Maka ketahuilah, Andi, kesalahan itu ibarat halaman kosong. Tiba-tiba ada yang mencoretnya dengan keliru. Kita bisa memaafkannya dengan menghapus tulisan tersebut, baik dengan penghapus biasa, dengan penghapus canggih, dengan apapun. Tapi tetap tersisa bekasnya. Tidak akan hilang. Agar semuanya benar-benar bersih, hanya satu jalan keluarnya, bukalah lembaran kertas baru yang benar-benar kosong. Buka lembaran baru, tutup lembaran yang tercoret. Jangan diungkit-ungkit lagi. Jangan ada tapi, tapi, dan tapi....”
b)   Pertanyaan  kedua
Tokoh paling romantis adalah Mbah Kakung dan Mbah Putri Slamet dari Surabaya. Mereka memiliki tekad akan berkunjung ke Baitullah berdua, meskipun harus menabung sekian lamanya demi tercapainya impian tersebut. Pertanyaan berikutnya muncul dari mbah Kakung ketika menyaksikan sendiri istrinya, Mbah Putri meninggal dunia sebelum sampai di kota suci Mekkah. “ Kenapa harus terjadi sekarang, Gurutta? Kenapa harus ketika kamu sudah sedikit lagi dari Tanah Suci. Kenapa harus ada ada di lautan ini. Tidak bisakah ditunda barang satu-dua bulan? Atau, jika tidak bisa selama itu, bisakah ditunda hingga kami tiba di Tanah Suci, sempat bergandengan tangan melihat Masjidil haram. Kenapa harus sekarang?” (hal 469)
Lagi-lagi, Gurutta sang tokoh ulama menjawab pertanyaan mbah Kakung yang cukup berat ini dengan tiga bagian. “Yang pertama, lahir dan mati adalah takdir Allah. Kita tidak mampu mengetahuinya. Pun tiada kekuatan bisa menebaknya. Kita tidak bisa memilih orangtua, tanggal, tempat...tidak bisa. Itu hak mutlak Allah. Kita tidak bisa menunda, maupun memajukannya walau sedetik. Kenapa Mbah Putri harus meninggal di atas kapal ini? Allah yang tahu alasannya, Kang Mas. Dan ketika kita tidak tahu, tidak mengerti alasannya, bukan berarti kita jadi membenci, tidak menyukai takdir tersebut. Amat terlarang bagi seorang muslim mendustakan takdir Allah.”
“Yang kedua, biarkan waktu mengobati seluruh kesedihan, Kang Mas. Ketika kita tidak tahu mau melakukan apalagi, ketika kita merasa semua suda hilang, musnah, habis sudah, maka itulah saatnya untuk membiarkan waktu menjadi obat terbaik. Biarkan waktu mengobatinya, maka semoga kita mulai lapang hati menerimanya. Sambil terus mengisi hari-hari dengan baik dan positif.
“Yang ketiga, terakhir, mulailah memahami kejadian ini dari kacamata yang berbeda, agar lengkap. Apa itu? Sederhana penjelasannya. Mbah Putri meninggal di atas kapal. Mungkin kita melihatnya buruk. Tapi tidakkah kita mau melihat dari kacamata yang berbeda, Kang Mas, bahwa Mbah Putri meninggal di atas kapal yang menuju Tanah Suci, dan dia menghembuskan napas terakhirnya saat sedang sholat subuh.” (hal 470-472)
c)   Pertanyaan Ketiga
Apakah itu cinta sejati? Apakah besok lusa akan berjodoh dengan gadis itu? Apakah masih memiliki kesempatan? (hal 491). Pertanyaan ketiga ini muncul dari seorang pelaut sejati yang tangguh bernama Ambo Uleng. Ia terpaksa meninggalkan wanita yang dicintainya karena sang pujaan hati telah dijodohkan oleh orangtuanya. Namun Ambo Uleng memiliki karakter yang patut dibanggakan. Ia masih bersemangat untuk belajar sholat dan mengaji. Berikut ini jawaban Gurutta tentang pertanyaan Ambo Uleng. “Apakah cinta sejati itu? Maka jawabannya, dalam kasus kau ini, cinta sejati adalah melepaskan. Semakin sejati perasaan itu, maka semakin tulus kau melepaskannya.
...Lepaskanlah, Ambo. Maka besok lusa, jika dia adalah cinta sejatimu, dia pasti akan kembali dengan cara mengaguumkan. Ada saja takdir hebat yang tercipta untuk kita. Jika dia tidak kembali, maka sederhana jadinya, itu bukan cinta sejatimu.
...Jika harapan dan keinginan memiliki itu belum tergapai, belum terwujud, maka teruslah memperbaiki diri sendiri, sibukkan dengan belajar...Sekali kau bisa mengendalikan harapan dan keinginan memiliki, maka sebesar apapun wujud kehilangan, kau akan siap menghadapinya, Ambo. Kau siap menghadapi kenyataan apapun. Jikapun kau akhirnya tidak memiliki gadis itu, besok lusa kau akan memperoleh pengganti yang lebih baik.” (hal 492-493)
d)   Pertanyaan Keempat
“Bagaimana kalau orang-orang tahu masa lalunya yang hanya seorang pelacur?“Apakah  Allah akan menerimanya di Tanah Suci?menerima haji mantan  cabo/ pelacur?” Pertanyaan ini muncul dari Bunda Upe, guru mengaji anak-anak. Ia memiliki kisah masa lalu yang memilukan (menjadi pelacur selama 15 tahun) sehingga ia selalu mengalami kegelisahan tentang pertanyaan tersebut. Gurutta, sang ulama terkenal menjawab dengan sangat bijak melalui tiga bagian berikut ini.
“Bagian yang pertama, kita keliru sekali jika lari dari sebuah kenyataan hidup, Nak. Cara terbaik menghadapi masa lalu adalah dengan dihadapi. Berdiri gagah. Mulailah dengan damai menerima masa lalumu.Buat apa dilawan? Dilupakan? Itu sudah menjadi bagian hidup kita. Peluk semua kisah itu.Berikan dia tempat terbaik dalam hidupmu, itulah cara terbaik mengatasinya.Dengan kau menerimanya, perlahan-lahan dia akan memudar sendiri. Disiram oleh waktu, dipoles oleh kenangan baru yang lebih bahagia.”
“Bagian yang kedua,tentang penilaian orang lain, tentang cemas diketahui oleh orang lain siapa kau sebenarnya. Maka ketahuilah, Nak, saat kita tertawa, hanya kitalah yang tahu persis sedang tertawa atau tidak. Boleh jadi, kita sedang tertawa dalam seuruh kesedihan. Orang lain hanya melihat wajah. Saat kita menangis pun sama, hanya kita yang tahu persis apakah tangisan itu sedih atau tidak. Boleh jadi kita sedang menangis dalam seluruh kebahagiaan. Orang lain hanya melihat luar. Maka, tidak relevan penilaian orang lain. Kita tidak perlu membuktikan apapun kepada siapapun bahwa kita itu baik. Buat apa? Sama sekali tidak perlu. Jangan merepotkan diri sendiri dengan penilaian orang lain. Karena toh, kalaupun orang lain menganggap demikian, pada akhirnya kita sendiri yang tahu persis apakah kita memang sebaik itu.”
“Bagian ketiga, terakhir, apakah Allah akan menerima seorang pelacur di Tanah Suci? Jawabannya, hanya Allah yang tahu. Kita tidak bisa menebak, menduga, memaksa, merajuk, dan sebagainya. Itu hak penuh Allah. Kita hanya bisa berharap dan takut. Senantiasa berharap atas ampunanNya.Selalu takut atas azabNya. Selalulah berbuat baik, Upe. Selalu. Maka besok lusa, ada satu perbuatam baikmu yang menjadi sebab kau diampuni. Mengajar anak-anak mengaji misalnya, boleh jadi itu adalah sebabnya.”
Empat dari kelima pertanyaan diatas dapat terjawab dengan sangat baik dan bijak oleh Gurutta. Namun, satu pertanyaan Gurutta tentang kemunafikan justru terjawab oleh Ambo Uleng.
e)   Pertanyaan Kelima
Tokoh ulama yang terkenal memiliki pemahaman islam yang sangat baik, bijaksana, dan berakhlak mulia. Ia bernama Ahmad Karaeng yang sering dipanggil Gurutta. Namun, Gurutta  juga memiliki kegundahan dalam hatinya. Ia merasa bisa menjawab hampir seluruh pertanyaan orang lain yang datang padanya, tetapi dia tidak pernah bisa menjawab pertanyaannya sendiri. Ia merasa menjadi orang paling munafik di kapal tersebut. “Lihatlah kemari wahai gelap malam. Lihatlah seorang yang selalu pandai menjawab pertanyaan orang lain, tapi dia tidak pernah bisa menjawab pertanyaan sendiri. Lihatlah kemari wahai lautan luas. Lihatlah seorang yang selalu punya kata bijak untuk orang lain, tapi dia tidak pernah bisa bijak untuk dirinya sendiri.” (hal 316)
Pertanyaan gurutta tentang kegelisahan dirinya yang dianggap paling munafik, belum terjawab hingga konflik klimaks muncul. Kapal Blitar Holland diserang perompak Somalia. Saat itu Gurutta berada di penjara kapal karena kedapatan menulis buku tentang kemerdekaan. Awalnya Gurutta menolak rencana Ambo Uleng karena resiko dari rencananya terlalu besar. “ Tapi itu beresiko, Ambo.” Gurutta tiba-tiba angkat bicara, suaranya datar, “ Kau bisa mencelakakan puluhan penumpang, bahkan ratusan, jika rencana itu gagal.”
“Aku tahu itu, Gurutta, tapi kita tidak akan gagal.” Ambo Uleng berkata mantap. Gurutta menggeleng, “ Bagaimana jika saat gelap gulita peluru atau golok itu mengenai anak-anak, Ambo? Bagaimana jika melukai orangtua? Perempuan? Bagaimana jika rencana ini gagal total? Kau tidak berhasil melumpuhkan mereka. Perompak yang marah bisa membunuh seluruh penumpang dan kelasi. Tidak ada yang tersisa.”
“Gurutta, kita tidak akan pernah meraih kebebasan  kita tanpa peperangan! Tidak bisa. Kita harus melawan. Dengan air mata dan darah.” Ambo Uleng menggenggam tangan Gurutta. ( hal 530-531)
Gurutta makin merasa betapa menyedihkan dirinya. Orang yang pandai menjawab begitu banyak pertanyaan, sekarang bahkan tidak berani menjawab pertanyaan diri sendiri. Ia menulis tentang kemerdekaan, tapi ia sendiri tidak pernah berani melakukannya secara konkret. Ia selalu menghindar, lari dari pertempuran dengan alasan ada jalan keluar yang lebih baik. Ia tidak pernah memimpin perlawanan seperti Syekh yusuf yang masyhur dan tercatat namanya dalam sejarah. Ia juga tidak seperti Syekh Raniri yang menunaikan perlawanannya dengan harga seluruh sekolah dan keluarganya binasa. Ia pengecut. Ia selalu lari. Tidak sedetik pun ia hadir dalam pertempuran melawan penjajah.
“Gurutta, aku masih ingat ceramah Gurutta beberapa hari lalu di masjid kapal. Lawanlah kemungkaran dengan tiga hal. Dengan tanganmu, tebaskan pedang dengan penuh gagah berani. Dengan lisanmu, sampaikan dengan perkasa. Atau dengan benci di dalam hati, tapi itu sungguh selemah-lemahnya iman.”
“Ilmu agamaku dangkal Gurutta. Tapi malam ini, kita tidak bisa melawan kemungkaran dengan benci dalam hati atau lisan. Kita tidak bisa menasihati perompak itu dengan ucapan-ucapan lembut. Kita tidak bisa membebaskan Anna, Elsa, Bunda Upe, bapak Soerjaningrat, dan seluruh penumpang dengan benci di dalam hati. Malam ini kita harus menebaskan pedang. Percayalah Gurutta, semua akan berjalan baik. Kita bisa melumpuhkan perompak itu. Aku mohon. Sungguh aku mohon. Rencana ini sia-sia jika Gurutta tidak bersedia memimpinnya.” (532-533)
Gurutta tersadar. Saatnya ia menunaikan tugasnya sebagai ulama, yang memimpin di garis terdepan melawan kezaliman dan kemungkaran. Ambo Uleng berhasil menjawab pertanyaan Gurutta melalui  aksi heroiknya menyelamatkan kapal dengan dukungan Gurutta dan seluruh penumpang. Malam itu pertanyaan kelima telah terjawab.
Kelebihan :
ü  Alur maju , latar, dan perpindahan konflik disajikan dengan sangat menarik.
ü  Kelima pertanyaan yang muncul adalah kasus-kasus yang sangat familiar dan sering terjadi pada kehidupan manusia, sehingga pembaca dapat mengambil hikmah dari jawaban bijaksana sekaligus menghibur yang tertuang pada novel ini.
ü  Sebuah bacaan yang sangat menarik dan inspiratif
ü  Perwatakan tokoh mudah dipahami dan digambarkan secara jelas
Kekurangan :
ü  Ada tulisan dialog berbahasa belanda dan tidak disertai artinya.
ü  Ada istilah yang tidak disertai keterangannya yang mungkin tidak dipahami oleh orang awam pada umumnya. (kelasi, sais, daeng, gurutta)
ü  Halaman novel cukup tebal
ü  Cover buku/novel yang kurang menarik
  1. Penutup
Saya berkesimpulan bahwa novel ini sangat layak dibaca, terutama untuk kalangan remaja, dewasa, dan  juga orangtua.  Memiliki ibroh/ hikmah yang luar biasa melalui lima pertanyaan dan jawaban yang muncul. Saya lebih suka menyebut  ini sarana introspeksi diri melalui novel ‘Rindu’. Kelima pertanyaan memiliki ‘benang merah’ yang sama, yaitu tentang ketentraman hati. Sesuai dengan hadits Rasulullah saw berikut ini . Dari An Nu’man bin Basyir radiyallahu ‘anhuma, Nabi Shalallahu alaihi wasallam bersabda, “ Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati” (HR. Bukhari no.52 dan Muslim no. 1599).
Allah swt pun telah mengingatkan pada kita semua dalam Al-quran surat Ar-Ra’d ayat 28 yang artinya, “ Yaitu orang-orang yang beriman serta hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
Novel ‘Rindu’ ini mengajak kita semua untuk memiliki hati yang tenteram dan lapang. Namun tidak dengan cara menggurui dan kaku, karena tidak tertulis satupun dalil Al-quran atau hadits di dalamnya. Dengan apik Tere Liye mengemasnya dalam lima pertanyaan dari lima kisah yang berbeda. Alangkah ruginya anda jika belum membaca novel ini. Maka, bacalah sekarang juga. Selamat menikmati dan menata hati melalui lima kisah yang menginspirasi.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Koleksi Gubahan Lagu - Ilmu Tajwid

NURUL vs FIKRI - Cerpen anak seri karakter Disiplin & Bertanggung Jawab

6 MUTIARA GURU SIT ZAMAN NOW