SAMTIK dan DALANG


Sumber gambar www.fatinia.com
Oleh : Siti Nurhasanah
 
(BULAN BAHASA SIT NURUL FIKRI 2018)
 
 
BYURRR...! blub..blub..blub..blub.
Puluhan bahkan ratusan sampah plastik itu terjun ke laut.
“Hei! apa- apaan ini? Kenapa aku diceburkan disini, hah?! Aduh...aku sulit bernapas, badanku basah semua, kotor, bau lagi.” Botik si Botol Platik terus protes atas keberadaan dirinya.
“Ah..kau Botik. Percuma kau protes berteriak- teriak begitu. Mana ada manusia yang mau mendengarkan kau? Sudahlah, kita pasrah saja. Memang jelek sekali nasib kita ini, hiks.” Watik si Wadah Palstik mencoba menenangkan, walau raut wajahnya pun amat sedih dan tidak menerima kondisinya yang diceburkan ke pinggiran laut Indonesia.
            “Aduh..duh..duh..bagaimana ini? Tubuhku basah semua. Dan, ish..bau busuk apa ini? Rasanya mual dan mau muntah. Ueek...Katik si kantong plastik mulai mengeluh tiada henti. “Aku bisa hanyut terbawa ombak kalau begini.” Tambahnya.
            Bertik si Ember Plastik muncul dari kejauhan. Tubuhnya tak lagi sempurna, ada lubang bocor di sana sini membuat Bertik terlihat setengah tenggelam. Hanya kawat pegangan dan tubuh bagian atas Bertik yang masih terlihat. Dan dia pun menyapa pada sampah plastik yang lainnya. Suaranya bergetar karena kedinginan.
“A..a..apa kabarnya kalian semua? Kalian sudah lama disini? Di pinggir laut ini?” Ucap Bertik sambil melirik.
Botik menjawab, “Kira-kira tiga puluh menit kami sudah berada di sini. Dan aku sangat tidak suka. Disini sangat kotor dan menjijikkan. “
Katik menambahkan, “Iya, benar. Aku berharap ada manusia yang datang ke sini dan mengangkat kita semua ke tempat yang lebih baik.” 
“Hahaha...jangan mimpi kau Katik. Lihat saja, sudah lebih dari lima belas menit kita di sini, tak ada satu manusia pun yang mau peduli. Mereka sepertinya sudah terbiasa membuang sampah plastik ke tempat ini. Dan kau tahu, Indonesia ini penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia yang dibuang ke laut.” Watik tertawa sinis sambil menunjuk orang-orang yang berada di sekitar tempat pembuangan sampah plastik.
“Apa? Pantas saja. Belum lama kita disini tiba-tiba samtik—sampah plastik sudah menggunung tinggi. Hfft..aku benci manusia-manusia itu.” Botik kaget sekaligus kesal.
“Sudah-sudah, kita tenang saja dulu sambil terus berdoa. Semoga diantara orang-orang itu ada yang melirik ke sini dan mau peduli tentang sampah plastik di tempat ini.” Bertik berkata bijak.
Para samtik—sampah plastik yang lain pun akhirnya terdiam dan berdoa dalam hati. Semoga saja begitu.
Sore menjelang malam. Matahari mulai turun dan bersiap menukar tugasnya pada sang rembulan. Tidak ada tanda-tanda manusia yang akan menolong para samtik alias sampah plastik ke tempat yang lebih baik.
Tiba-tiba Katik berkata, “Teman-teman, bagaimana ini? Sudah sepanjang hari kita disini, dan makin banyak juga samtik yang ada disini. Tempat ini jadi makin sempit, sesak, dan makin menyengat bau busuknya.”
Botik terkejut dan bangun dari tidurnya, “Hoaahm...aku sampai tertidur lelap saking lelahnya terkatung-katung disini. Kau benar Katik, makin banyak saja samtik disini. Lihatlah, sudah seperti gunungan samtik—sampah plastik”
Litik si Tali plastik yang baru datang ikut berceloteh, “Maaf teman-teman, aku Litik si Tali Plastik. Aku baru saja dibuang kesini. Lihatlah aku, kusut, kotor, bau, dan ujung tubuhku entah terlilit di mana. Aku sangat tersiksa.” Tambahnya.
“Hai, Litik. Selamat bergabung di sini, namaku Watik si Wadah Plastik. Semoga kau sabar-sabar ya disini. Kami sejak pagi sudah ada disini.” Ucap Watik.
“Hai juga, Watik” Jawab Litik singkat.
“Eh, apa? Sudah seharian sejak pagi?” Litik penasaran dan bertanya lagi.
Bertik menjawab, “Iya. Kau lihat kan, manusia-manusia bodoh itu malah membuang kita disini. Mereka membiarkan laut ini semakin kotor dan bau. Lihatlah, ikan-ikan di laut ini pun menghindar sejauh-jauhnya dan tidak betah berada di sini.”
“Kau benar Bertik. Ini sungguh memalukan. Negeri Indonesia yang indah laut dan gunungnya harus tercoreng oleh ulah manusia itu sendiri.” Litik mengeluh dan menghela napas panjang.
“Hei, teman-teman, lihat! Ada kapal nelayan yang baru saja merapat ke pinggir pantai!” Botik tiba-tiba berteriak.
“Lalu, apa urusannya dengan nelayan itu Botik? “ Katik bertanya bingung.
“Yaah..mungkin saja mereka melihat kita semua dan mau memindahkan kita dari sini. Aku sudah tidak tahan lagi.” Jawab Botik.
Semua samtik—sampah plastik di area itu tertawa sinis, kompak. “Hahaha...”
“Hahaha...kau ada-ada saja Botik. Mana ada nelayan yang peduli dengan sampah plastik seperti kita. Itu tidak mungkin...hahaha.” Watik tertawa lagi.
“Iya, kau ini ada-ada saja Botik. Nelayan itu hanya memikirkan bagaimana mendapatkan ikan yang banyak. Selesai. Mana ada yang ingat sama kita. Menoleh pun tidak, bahkan mereka menutup hidung rapat-rapat ketika melewati kita. Iya, kan?” Litik berceloteh lagi.
“Ma..maaf. Aku cuma sedikit berharap pada para nelayan itu.” Botik tertunduk lesu. Harapannya sirna. Para nelayan hanya merapat dan beristirahat sejenak.
Dari kejauhan, terdengar suara kedua nelayan mengeluh. Mereka merapat ke pantai bukan sekedar untuk beristirahat. Tetapi memikirkan langkah berikutnya untuk mendapatkan ikan. Wajah mereka penuh kekecewaan. Terlihat lesu dan lelah karena tidak berhasil menangkap ikan.
Nelayan 1 : “Hah! Ada apa ini sebenarnya? Tidak satupun ikan yang kita dapat hari ini. Bagaimana nasib penghasilan kita?” (dengan nada marah dan mengumpat)
Nelayan 2 : “Huh! Benar pak. Saya pun tidak habis pikir. Seolah-olah ikan-ikan itu menghilang dari lautan ini. Entah kemana perginya.” (sambil melempar handuk kecil ke tanah, mengelengkan kepala tanda kecewa dengan hari ini)
Nelayan 1 : “Sudahlah, kita tidur dulu. Ini sudah larut malam. Aku lelah. Kita coba lagi besok pagi.”
Nelayan 2 : “Baik, Pak.”
Mereka belum sepenuhnya sadar, bahwa salah satu penyebab ikan-ikan itu menjauh adalah para samtik—sampah plastik yang terlalu banyak mengapung di laut dan menyebabkan bau yang tak sedap. Mungkin juga ada tambahan-tambahan bahan kimia yang ikut larut dalam air laut dari para samtik tersebut.
 
Di tempat ‘DALANG’ (Daur Ulang), 100 km dari lokasi samtik terbuang.
“Na..na..na..na..du..du..du..du..” Terlihat berbagai samtik—sampah plastik berdendang penuh riang. Kondisi mereka disini berbeda seratus delapan puluh derajat dengan keadaan di laut. Berbagai bentuk samtik mulai dari Botik—Botol Plastik, Watik—Wadah Plastik, Bertik—Ember Plastik, Sitik—Sikat Gigi Plastik, Seltik—Selang plastik dan samtik lainnya terlihat sangat bahagia. Di tempat ‘DALANG—Daur Ulang’ ini mereka semua dibersihkan dari berbagai kotoran, di keringkan, lalu mulai diolah menjadi bentuk-bentuk lain yang sangat bermanfaat bagi manusia. Pemilik tempat ‘Dalang—Daur Ulang’ ini adalah seorang wiraswasta. Ia bernama Pak Nuran. Di tempat ini beliau beserta 20 pegawainya siap mengolah berbagai ‘Samtik—Sampah Plastik menjadi barang lain yang lebih berguna.
Pak Nuran melakukan brifing singkat di hadapan para pegawainya.
“Teman-teman pegawai, mari kita lanjutkan pekerjaan. Barusan datang lagi satu truk berbagai sampah plastik di depan. Kita pilah dulu ke tempat yang telah disediakan sesuai dengan kode / kategori plastiknya. Malam ini kita bekerja sampai jam 22.00. Setelah itu kita istirahat. Besok pagi jam 09.00 kita lanjutkan. Jika ada yang butuh makanan kecil atau minum kopi, silakan ambil di dapur.” Pak Nuran menjelaskan.
“Baik, Pak.” Jawab para pegawai kompak.
Mereka langsung bubar, bergerak sesuai pos tugas masing-masing. Semua pegawai pak Nuran adalah laki-laki. Tempat ‘Dalang—Daur Ulang’ itu sekaligus menjadi tempat tinggal mereka. Ukuran bangunan ‘Dalang’ itu cukup besar, 200 m x 100 m. Pak Nuran hanya tinggal seorang diri. Istrinya meninggal dunia karena sakit paru-paru sekitar 5 tahun lalu. Hingga istrinya wafat, mereka belum dikaruniai seorang anak. Jadilah lelaki yang saat ini berusia 48 tahun itu bertekad untuk membuat tempat ‘Dalang—Daur Ulang  Samtik—sampah plastik dan memberi manfaat untuk banyak orang melalui pekerjaannya itu.
Suasana ‘Dalang’ masih sibuk dan ramai. Mereka bekerja di dalam ruangan. Pintu tertutup dan terkunci agar tidak  mengganggu warga sekitar. Sesekali para pegawai membuat lelucon untuk menghilangkan kebosanan. Mereka tertawa bersama. Betul-betul suasana kerja yang menyenangkan. Pak Nuran membantu mengecek semua pekerjaan pegawainya. Sedang asyiknya mereka bekerja, tiba-tiba terdengar suara mengejutkan.
BRAKK!! pintu depan terbuka. Tepatnya, dibuka secara paksa. Muncul beberapa orang berpakaian aparat. Salah seorang diantara mereka berteriak lantang.
“Mana yang bernama Pak Nuran, hah?!” suaranya menggelegar di dalam ruangan.
“Ada apa ya pak? Ada yang bisa saya bantu?” Salah satu pegawai bertanya.
“Ahh..kau gak perlu tanya-tanya. Saya mau ketemu PAK NURAN, mengerti? PANGGIL SEGERA KESINI! ” aparat yang tinggi besar itu makin marah sambil melotot ke arah pegawai.
“Ba..baik, Pak.” Pegawai tadi makin takut dan segera berlari memanggil Pak Nuran. Pegawai lainnya tertunduk. Tidak berani menatap. Tak lama Pak Nuran muncul.
“Saya Pak Nuran. Ada yang bisa saya bantu untuk bapak-bapak semua?”
Aparat yang bertubuh tinggi besar itu langsung mendekat dan berkata pada Pak Nuran dengan sangat tegas.
“Saya Pak Bowo dari dirjen pajak. Tempat ini saya sita! Anda tidak berhak melakukan aktifitas apapun disini. Mulai malam ini. Titik.” Pak Bowo berkata sambil menunjuk hidung pak Nuran, kasar.
“Lho? A..ada apa? Apa salah saya, Pak?” Pak Nuran gugup dan bingung.
“Tercatat sudah satu tahun ini anda tidak membayar pajak bangunan.” (sambil menunjukkan bukti pajak di tangannya)
“Ti..tidak mungkin. Ini pasti ada kesalahan. Bapak dapat data itu darimana?” Pak Nuran memberanikan diri bertanya.
“Ahhh....bapak tak perlu tahu darimana. Saya ini orang pemerintahan, dari dirjen pajak. Silakan bapak pergi dari tempat ini. SEKARANG JUGA! TEMPAT INI SUDAH KAMI SITA!” Pak bowo makin marah sambil mendorong jatuh pak Nuran.
“Tidak pak, saya sudah bayar pajak. Saya...” Perkataan Pak Nuran terpotong. Dengan kode dari ‘pemimpin’ nya, kelima aparat lainnya langsung membongkar paksa dan mengeluarkan semua barang—termasuk ratusan samtik yang sedang dipilah-pilah. Semuanya dibuang keluar rumah.
BRAK..BRUK..BRAK..BRUK! Semua samtik—sampah plastik yang baru saja dibersihkan, dibuang keluar rumah. Semuanya jadi berantakan. Para pegawai Pak Nuran tidak ada yang berani ikut campur. Mereka terdiam di sudut ruangan. Perlahan-lahan lalu ikut keluar rumah bersama Pak Nuran yang masih kebingungan.
Selang 15 menit, semua barang sudah diluar. Pak bowo dengan wajah puas langsung menutup pintu, menguncinya, dan memasang tanda bahwa tempat ini ‘DI  SEGEL’.
“Pak Nuran, anda masih berurusan dengan kami. Bapak harus segera membayar pajak yang menjadi kewajiban bapak.” Pak Bowo menjelaskan singkat, lalu pergi. Tanpa mau mendengarkan pembelaan sedikitpun dari Pak Nuran.
Pak Nuran terduduk. Matanya basah. Tak percaya dengan apa yang terjadi barusan. Menatap lamat-lamat ke semua pegawainya. ‘Bagaimana aku akan menghidupi mereka?’ Pikirnya.
Samtik—sampah plastik. Itu harus segera diamankan. Itu saja yang kita punya. Pikir pak Nuran. Ia segera memerintahkan seluruh pegawainya menyelamatkan samtik yang tersisa.
“Teman-teman, mohon maaf atas kejadian ini. Malam ini kita tidur di halaman rumah ini saja. Kita tumpuk kardus-kardus bekas ini untuk alas tidur. Besok pagi kita pikirkan bersama langkah berikutnya. Terima kasih atas support kalian semua. Mari kita berjuang bersama agar Indonesia bisa mengurangi sampah plastik yang ada. Apakah ada yang lapar? Segera katakan pada saya agar saya bisa membelinya.” Pak Nuran berkata sambil menahan air mata.
Tidak ada yang berani berkata-kata. Semua diam membisu sambil merapikan samtik yang berserakan di tanah. Malam ini mereka tidur beratap langit dan bintang-bintang. Semoga besok ada jalan keluar. Ah, Indonesia. Lagi-lagi para aparat belum bisa bersahabat. Pak Nuran dan para pegawai terlelap. Kelelahan.
Keesokan hari dan seterusnya. Pak Nuran dan seluruh pegawainya tetap bertahan di halaman rumah ‘Dalang—Daur Ulang’ sambil mencari tempat yang baru.
LSM Lingkungan Sehat yang bersahabat
Ada salah seorang aktifis LSM ‘Lingkungan Sehat’ yang mengetahui kabar mengenai Pak Nuran dan tempat daur ulangnya. Ia bernama Ahmad. Usianya yang masih 25 tahun terlihat selalu bersemangat mengurus LSM yang dikelolanya. Anggota LSM berjumlah 30 orang. Mereka bergerak agar lingkungan sekitar lebih sehat. Daur ulang samtik—sampah plastik menjadi salah satu program LSM ini.
“Pak Nuran, saya Ahmad dari LSM Lingkungan Sehat. Kami telah mengetahui masalah bapak. Jadi, apa yang bisa kami bantu pak? Ahmad memulai pembicaraannya.
“Terima Kasih, Nak. Kami hanya butuh tempat baru untuk memulai kembali pengolahan samtik—Sampah Plastik ini. “
“Baik pak, akan kami usahakan. Bagaimana dengan kasus pajak yang bapak alami?”
“Saya masih menelusuri. Kebetulan ada teman yang mau membantu saya untuk urusan ini. Saya hanya ingin fokus untuk pengolahan sampah plastik ini, agar tidak makin banyak, dan yang ada kita daur ulang menjadi barang lain yang bermanfaat. Itu saja, Nak.”
“Baik, Pak. Kami siap membantu.” Jawab Ahmad.
Keesokan harinya
LSM bergerak cepat. Esok harinya diberitahu untuk menempati salah satu rumah milik anggota LSM yang memang sedang kosong. Letaknya kurang lebih 100 km. Persis di daerah laut yang sering menjadi tempat pembuangan sampah plastik.
“Terima kasih, Nak.” Pak Nuran menjabat erat tangan anak Ahmad.
“Sama-sama , Pak Nuran. Kami bangga dan bersyukur karena masih ada yang mau peduli tentang Samtik—Sampah Plastik ini.” Jawab Ahmad mantap.
“Besok kita ada penyuluhan untuk warga sekitar. Akan kami ajarkan warga bagaimana menyikapi sampah plastik. Salah satu caranya adalah daur ulang.” Ahmad sang ketua LSM memaparkan rencananya.
Di ruang serbaguna, penyuluhan tentang samtik—sampah plastik
“Bapak-bapak, Ibu-Ibu. Menurut data yang kami dapatkan dari BPS (Balai Pusat Statistik) dan Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS), sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton/ tahun dimana sebanyak 3,2 juta ton merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut, bla..bla..bla.” Hana, salah seorang aktifis LSM mengawali penyuluhan dengan berbagai data.
Warga yang datang kompak menjawab terkejut sambil menatap layar in focus, “Ha.....”
Hani sebagai partner Hana melanjutkan, “Berikut ini cara pemilahan sampah plastik ya..bapak dan ibu mohon diperhatikan, demi kesehatan kita bersama. Lalu, ini contoh hasil daur ulang samtik—sampah plastik yang bisa bermanfaat bagi kehidupan manusia.”
“Wah...ternyata hasilnya bagus-bagus ya.” Ucap salah seorang warga yang ikut penyuluhan.
“Benar, Bu. Jika kita mau belajar, para samtik ini dapat diubah menjadi berbagai barang, dan tentu bisa dijual. Hasilnya dapat menambah penghasilan bapak ibu semua.” Hani menjelaskan lagi.
Suara tepuk tangan bergemuruh. Warga sangat antusias dengan penyuluhan ini. Namun, suasana tiba-tiba berubah.
Bak!buk!bak !buk! suara pukulan benda tumpul menghantam apapun yang ada di tempat penyuluhan.
“Bubar! Bubar! Bubarrr...!!! “
Seorang tak dikenal tiba-tiba masuk, berteriak, dan menghancurkan semua barang-barang hasil daur ulang samtik—sampah plastik yang berjejer di meja depan. Para warga berhamburan keluar ruangan penyuluhan. Mereka takut kena pukul.
“Hei!pak, ada apa ? siapa anda?” tanya Ahmad.
“Anda tak perlu tahu siapa saya. Yang perlu anda tahu adalah, saya sangat tidak suka kedatangan anda dan teman-teman anda di kampung ini! Kalian semua perusuh!” Oknum itu marah-marah tanpa arah.
            “Maksud anda?” Hana balik bertanya, tak mengerti.
“Kalian sudah merusak jam kerja warga di sini. Seharusnya jam segini mereka semua sedang melaut, mencari ikan, dijual, dan uangnya diserahkan kepada saya. Mengerti?” oknum itu mencurahkan segala kekesalannya.
“Pergi kalian semua dari sini. PERGI!” Sang Oknum belum puas berteriak.
Para relawan LSM cinta lingkungan mengalah, kemudian merapikan sisa barang-barang, lalu pergi meninggalkan oknum ‘bandar ikan’ itu sendirian.
“Sudah seminggu...sudah seminggu ini ikan-ikan itu tak mau datang lagi, KAU MENGERTI? Aku jadi tidak dapat setoran dari warga, dan aku tidak punya uang untuk berjudi..mengerti kau? Hahahahaha.....” (Oknum itu berteriak dan tertawa sendiri dengan wajah kusut, jalan sempoyongan, sambil mencekik botol miras merk terkenal. Ia mabuk). Para relawan tak peduli. Buang-buang energi jika tetap meladeni orang mabuk. Pikir mereka.
Keesokan harinya
“Kita harus segera berangkat menemui pak walikota. Kita minta dukungan beliau untuk mengurangi dan mendaur ulang samtik—sampah plastik, terutama di kawasan ini.” Ahmad memulai brifing di pagi hari bersama teman-teman di markas LSM.
“Setuju...” Serempak anggota LSM lainnya menjawab.
Sesampainya di kantor walikota, mereka harus menunggu lama. Sedang rapat rupanya. Tiga jam kemudian akhirnya bisa ditemui.
“Maaf, Pak walikota yang kami hormati. Kami dari LSM Cinta Lingkungan ingin memaparkan sesuatu yang sangat penting. Kami harap bapak bisa mendukung kami.” Ahmad memulai pembicaraan setelah semua berkumpul di ruang rapat walikota.
Mereka memaparkan semuanya. Tentang samtik—sampah plastik yang sudah sangat mengkhawatirkan. Mereka memberikan bukti dan data-data mengenai samtik berikut usulan cara mengatasinya.
“Dalang—daur ulang samtik. Saya sangat setuju. Samtik di Indonesia ini sudah sampai taraf mengkhawatirkan. Peningkatannya dari 11 persen menjadi 16 persen pada tahun 2018 ini.” Pak walikota mendukung.
Sepekan kemudian. Pak walikota beserta jajarannya membuat banyak iklan tentang ‘DALANG—DAUR ULANG’ sampah, terutama sampah plastik. Salah satu iklan di papan baliho berbunyi, “Ubah gaya hidup anda, Batasi Samtik—Sampah Plastik, dan lakukan Dalang—Daur Ulang”
            Perlahan, kawasan kumuh itu berangsur-angsur membaik. Warga disana sudah mulai mengubah gaya hidupnya yang selalu terbiasa menggunakan plastik. Saat ini, warga mulai terbiasa membawa wadah / gelas sendiri untuk membeli makanan / minuman. Mereka juga sudah mulai pandai memilah sampah plastik, lalu menyerahkan samtik—sampah plastik yang mereka miliki ke sanggar ‘Dalang—Daur Ulang. Di sanggar tersebut sudah siap para pegawai yang sigap menerima samtik dari warga, lalu mengolahnya menjadi berbagai barang berharga dan bermanfaat bagi kehidupan. Berbagai barang daur ulang dari sampah plastik adalah : celengan, tutup gelas, roda mainan, ember, toples, gayung, gelas, tali rafia, berbagai hiasan dinding, dan berbagai kerajinan tangan yang unik dari Samtik—Sampah Plastik. Samtik dan Dalang. ‘Sampah Plastik dan Daur Ulang’,  ternyata mereka bisa menjadi satu kesatuan dan membentuk produk yang bermanfaat bagi banyak orang. Jangan dibuang sembarang. Mari sama-sama berjuang untuk Indonesia agar samtik terus berkurang. Dan, mari gunakan produk ‘Dalang—Daur Ulang.
-Selesai-
 
 
 
 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Koleksi Gubahan Lagu - Ilmu Tajwid

NURUL vs FIKRI - Cerpen anak seri karakter Disiplin & Bertanggung Jawab

6 MUTIARA GURU SIT ZAMAN NOW